Transcription

BAB IIKEWARISAN DALAM ISLAMA.Pengertian Kewarisan IslamDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) katawaris berarti Orang yang berhak menerima harta pusakadari orang yang telah meninggal. 1 Di dalam bahasa Arabkata waris berasal dari kata ورث - يرث - ورثا yang artinyaadalah Waris. Contoh, اباه ورث yang artinya Mewaris harta(ayahnya).2Waris menurut hukum Islam adalah hukum yangmengatur tentang peralihan harta kekayaan yangditinggalkan seseorang yang meninggal serta akibatnyabagi para ahli warisnya. 3 dan juga berbagai aturan tentangperpidahan hak milik, hak milik yang dimaksud adalahberupa harta, seorang yang telah meninggal dunia kepadaahli warisnya. Dalam istilah lain waris disebut jugadengan fara‟id. Yang artinya bagian tertentu yang dibagimenurut agama Islam kepada semua yang berhakmenerimanya dan yang telah di tetapkanbagianbagiannya. 4 Adapun beberapa istilah tentang waris yaitu :1. Waris adalah orang yang termasuk ahli waris yangberhak menerima warisan. Ada ahli waris yangsesungguhnyayangmemiikihubungankekerabatan yang dekat akan tetapi tidak berhakmenerima warisan.Dalam fiqih mawaris, ahliwaris semacam ini disebut ini disebut Zawil alarham. Hak-hak Waris bisa ditimbulkan karena1Tim penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar BahasaIndonesia,.ed.3 .( jakarta: balai pustaka 2001)h. 1386.2Munawwir,ahmad warson. Kamus Al Munawwir (pustakaprogressif, Surabaya, thun1997,)h. 16343Effendi Perangin, Hukum Waris,(Jakarta: Rajawali Pers ,2008), h.34Beni Ahmad Saebani, Fiqih Mawaris, (Bandung :Pustaka setia,2012), h 13.

162.3.4.5.hubungan darah, karenahubunganperkawinan,dan karena akibat memerdekakan hamba.5Mawarrits, ialah orang yang diwarisi harta bendapeninggalan. Yaitu orang yang meninggal baik itumeninggal secara hakiki, secara taqdiry (perkiraan),atau melalui keputusan hakim. Seperti orangyang hilang (al-mafqud), dantidak tahu kabarberitanya setelah melalui pencaharian dan persaksian,atau tenggang waktu tertentu hakim memutuskanbahwa ia dinyatakan meninggal duniamelaluikeputusan hakim.Al-Irts, ialah harta warisan yang siap dibagi kepadaahli waris sesudah diambil untukkeperluanpemeliharaan zenazah (tajhiz al-janazah), pelunasanutang,serta pelaksanaan wasiat.Waratsah, ialah harta warisan yang telah diterimaoleh ahli waris. Ini berbedadenganhartapusaka yang di beberapa daerah tertentu tidak bisadibagi-bagi, karena menjadi milik kolektif semua ahliwaris.Tirkah, ialah semua harta peninggalan orang yangmeninggal dunia sebelum diambil untuk kepentinganpemeliharaan zenazah, pelunasan utang, danpelaksanaan wasiyat yang dilakukan oleh orang yangmeninggal ketika masih hidup.6B. Hukum Mempelajari dan Mengajarkan Fiqih MawarisAgama Islam mengatur ketentuan pembagianwarisan secara rinci dalam al-Qur’an agar tidak terjadiPerselisihan antara sesama ahli waris. agama Islammenghendaki dan meletakkan prinsip adil dan keadilansebagai salah satu sendi pembentukan dan pembinaanmasyarakat dapat ditegakkan Ketentuan teresebut tidakdapat berjalan dengan baik dan efektif, apabila tidak5Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, (Jakarta Utara: PT Raja GrafindoPersada,2005), h.46Ibid, h.5

17ditunjang oleh tenaga para ahli yang memahami secaramendalam dan dapat melaksanakan ketentua-ketentuanteresebut dengan baik.Untuk itu keberadaan orang-orang yang mempelajarihukum waris merupakan keniscayaan. Para ulamaberpendapat mempelajari dan mengajarkan fiqih mawarisadalah wajib kifayah artinya suatu kewajiban yang apabilatelah ada sebagian orang yang mempelajarinya, makadapat menggugurkan kewajiban semua orang. Akan tetapiapabila tidak ada seorang pun yang mempelajarinya makasemua orang dalam lingkungan itu akan menanggung dosaini sejalan dengan perintah Rasulullah Saw, agarummatnya mempelajari dan mengajarkan ilmu waris,sebagaimana perintah untuk mempelajari dan mengajarkanal-Qur’an. 7Artinya:“ pelajarilah oleh kalian al-Qur‟an, danajarkanlah kepada orang lain, dan pelajarila pula ilmufaraid, dan ajarkan kepada orang lain. Karena aku adalahorang yang akan terenggut(mati) sedang ilmu akandihilangkan. Hampir saja dua orang yang bersengketatentang pembagian warisan tidak reka.”(HR. Ahmad, al-Nasa’i dan al-Daruqtny).Hadis di atas menempatkan perintah untukmempelajari dan mengajarkan ilmu waris sejalan denganperintah untuk mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an.7Ibid. h.6Imam Abi Abdurahman Ahmad Bin Syu’aib An-Nasa’i, Kitab AsSunan Al-Kubra ,8

18Ini tidak lain dimaksudkan, untuk menunjukan bahwa ilmutentang waris merupakan salah satu ilmu yang sangatpenting dalam rangka mewujudkan keadilan dalammasyarakat. Naluri manusia memiliki kecendrunganmaterialistik, serakah, tidak adil, dan kadang memetingkandiri sendiri, maka mempelajari ilmu faraid, sangatlahperlu.Oleh karena itu mempelajari dan mengajarkan Fiqihmawaris yang semula fardu kifayah karena alasan tertentumenjadi fardu „ain, terutama bagi orang –orang yang bagimasyarakat dipandang sebagai pemimpin atau panutan,terutama pemimpin keagamaan. 9C. Asas-Asas Hukum Kewarisan Islam.Dalam kewarisan Islam ada beberapa asas yangberkaitan dengan peralihan harta kepada ahli warist, carapemililkan harta oleh yang menerima kadar jumlah hartadan waktu terjdinya peralihan harta. Asas-asas tersebutyaitu:1. Asas IjbariAsas Ijbari ialah pengalihan harta dari seseorangyang meninggal dunia kepada ahli warisnya berlakudengan sendirinya menurut ketetapan Allah. Tanpadigantungkan kepada kehendak pewaris dan ahliwarisnya dan asas ini dapat dilihat dari berbagai segiyaitu: 10a. Dari segi pewaris, mengandung arti bahwasebelum meninggal ia tidak dapat menolakperalihan harta tersebut. Apa pun kemauan pewaristerhadap hartanya, maka kemauannya dibatasi olehketentuan yang di tetapkan oleh Allah. Olehkarena itu sebelum meninggal Ia tidak perlumemikirkan atau merencanakan sesuatu terhadap9Ibid h. 7Suhrawardi K. Lubis dan Komis Simanjuntak, Hukum WarisIslam, ( Jakarta: Sinar Grafika , Tahun 2008).h.3910

19hartanya, kerena dengan meninggalnya seseorangsecara otomatis hartanya beralih kepada ahliwarisnya.b. Dari segi peralihan harta, mengandung arti bahwaharta orang yang meninggal itu beralih dengansendirinya, bukan dialihkan oleh siapa-sapa kecualioleh Allah. Oleh karena itulah kewarisan dalamIslam diartikan dengan peralihan harta, bukanpengalihan harta karena pada peralihan berartiberalih dengan sendirinya sedangkan pada katapengalihan ialah usaha seseorang.c. Dari segi jumlah harta yang beralih, dari segijumlah dapat dilihat dari kata “mafrudan” secaraetimologis berarti telah ditentukan atau ogi Ilmu Fikih, berarti sesuatu yang telahdiwajibkan Allah kepadanya, yaitu berarti bagianwaris sudah ditentukan.11d. Dari segi penerima peralihan harta itu, yaitubahwa penerima harta, dan mereka yang berhakatas harta peninggalan itu sudah ditentukan secarapasti.Ketentuan asas Ijbari ini dapat dilihatantara lain dalam ketentuan al-Quran suratAn-nisa ayat : 7 11Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam,( Jakarta: PrenadaMedia tahun 2004) h.19

20Artinya: Bagi orang laki-laki ada hak bagiandari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya,dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dariharta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baiksedikit atau banyak menurut bahagian yang telahditetapkan.Ayat di atas menjelaskan bahwa: “bagiseorang laki-laki maupun perempuan ada nasib dariharta peninggalan orang tuanya atau dari karibkerabatnya, kata nasib dalam ayat tersebut dalamarti saham, bagian atau jatah dari harta peninggalansipewaris.2. Asas BilateralYang dimaksud dengan asas bilateral dalamhukum kewarisan Islam adalah seseorang menerimahak kewarisan dari kedua belah pihak kerabat, yaitudari garis keturunan perempuan maupun keturunanlaki-laki. Untuk lebih jelasnya asas bilateral in dapatdilihat dalam surah an-Nisa ayat :7, dan 11. Dalam ayat7 dijelaskan dikemukakan bahwa seorang laki-lakiberhak memperoleh warisan dari pihak ayahnyamaupun ibunya. Begitu juga dengan perempuanmendapat warisan dari kedua belah pihak orang tuanya.Ayat ini merupakan dasar bagi kewarisan bilateralselanjutnya di pertegas dalam surah an-Nisa: 11

21 Artinya: “Allah mensyari atkan bagimu tentang(pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu:bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian duaorang anak perempuan; dan jika anak itu semuanyaperempuan lebih dari dua, maka bagi mereka duapertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anakperempuan itu seorang saja, maka ia memperolehsetengah dari harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak,bagi masing-masingnya seperenam dari harta yangditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak;jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dania diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunyamendapat sepertiga; jika yang meninggal itumempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapatseperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas)sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan)sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamudan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnyabagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.3. Asas IndividualYang dimaksud asas individual ini adalah, setiapahli waris (secara individu) berhak atas bagian yangdidapatkan tanpa terikat kepada ahli waris lainya.Dengan demikian bagian yang diperoleh oleh ahli warissecara individu berhak mendapatkan semua harta yangtelah menjadi bagianya. Ketentuan ini dapat dijumpaidalam ketentuan Alquran surat an-Nisa ayat 7 yangsecara garis besar menjelaskan bahwa anak laki-laki

22maupun prempuan berhak meerima warisan dari orangtuanya dan karib kerabatnya, terlepas dari jumlahharan yang yang telah ditentukan .yang mengemukakanbahwa bagian masing-masing ahli waris ditentukan.124. Asas Keadilan BerimbangYang dimaksud asas keadilan berimbang adalahkeseimbangan antara antara hak dengan kewajiban dankeseimbangan antara yang diperoleh dengan kebutuhandan kegunaan. Dengan perkataan lain dapatdikemukakan bahwa faktor jenis kelamin tidakmenentukan dalam hak kewarisan. 135. Kewarisan Akibat KematianHukum waris Islam memandang bahwa terjadinyaperalihan harta hanya semata-mata karena adanyakematian. Dengan perkataan lain harta seseorang tidakdapat beralih apabila belum ada kematian. Apabilapewaris masih hidup maka peralihan harta tidak dapatdilakukan dengan pewarisan. 14D. Sumber-Sumber Hukum kewarisan IslamAda beberapa Sumber hukum ilmu faraidh adalah alQur’an, as- Sunnah Nabi saw, dan ijma para ulama.151. Al-Qur’anDari sumber hukum yang pertama al-Qur’an,setidaknya ada tiga ayat yang memuat tentang hukumwaris. Ada beberapa ayat yang berkaitan dengankewarisan yaitu:tersebut dalam surat An-Nisa ayat 11:12Ibid h.21Ibid h.2414Ibid h. 2815Addys Aldizar, Faturraman, Hukum Waris, ( Jakarta: SenayanAbadi Publisbing, 2004) h.1413

23 Artinya: “Allah mensyari atkan bagimu tentang(pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu:bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian duaorang anak perempuan; dan jika anak itu semuanyaperempuan lebih dari dua, maka bagi mereka duapertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anakperempuan itu seorang saja, maka ia memperolehsetengah dari harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa,bagi masing-masingnya seperenam dari harta yangditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak;jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dania diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunyamendapat sepertiga; jika yang meninggal itumempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapatseperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas)sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan)sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamudan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnyabagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. SesungguhnyaAllah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

24Q.s. An-Nisa ayat: 12 Artinya : Dan bagimu (suami-suami) seperduadari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jikamereka tidak mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itumempunyai anak, maka kamu mendapat seperempatdari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhiwasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayarhutangnya. Para isteri memperoleh seperempat hartayang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyaianak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isterimemperoleh seperdelapan dari harta yang kamutinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buatatau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jikaseseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yangtidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkananak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki

25(seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibusaja), maka bagi masing-masing dari kedua jenissaudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudarasaudara seibu itu lebih dari seorang, maka merekabersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhiwasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayarhutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepadaahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itusebagai) syari at yang benar-benar dari Allah, danAllah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.Ayat yang lebih menegaskan warisan laki-laki danperempuan dalam Q.s an-Nisa ;176. Artinya; Mereka meminta fatwa kepadamu(tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwakepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorangmeninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak danmempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranyayang perempuan itu seperdua dari harta yangditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-lakimempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika iatidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuanitu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dariharta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika

26mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara lakidan perempuan, maka bahagian seorang saudara lakilaki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan.Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamutidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.2. HadisAda beberapa hadis yang menerangkan tentangpembagian harta waris antara lain:Artinya: dari Ibnu Abbas ra. Nabi Muhammad Sawbersabda” berikanlah harta pusaka kepada orangorang yang berhak sesudah itu sisanya untuk laki-lakiyang lebih utama.(Hr.Muslim).16)Artinya: Dari Usamah bin Said ra. BahwasanyaNabi saw bersabda: tidaklah berhak seorang muslimmewarisi orang kafir, dan tidak pula orang kafirmewaisi ( Hr. Bukhari dan Muslim)1716Imam Az-Zabidi, Shahih Al- Bukori Ringkasan Hadis , ( Jakarta:Pustaka Amani Thun 2002) h.03517Muhammad bin Ismail al –Bukhari, Jus IV, ahli bahasaZainuddi, Hamidy, DKK, Terjemah Shahih Bukhari , hadis no 1799 (Jakarta: Widajaya, thun 1992) h. 91

27 (روه البغا ر ومسلم Artinya“ Serahkanlah bagian-bagian kepadaahlinya, maka apa yang lebih adalah bagi laki-lakiyang lebih dekat.( Bukhari dan Muslim)Hadis diatas menjelaskan bawa bagian anak laki–laki lebih besar dari bagian anak perempuan.183. Ijma dan IjtihadPara sahabat, tab‟in, generasi pasca sahabat dantabi‟it tabi‟in dan generasi pasca tabi‟in. Telahberijma atau bersepakat tentang legalitas ilmu faraiddan tidak ada yang dapat menyalahinya. 19 Imamimam mazhab yang berperan dalam pemecahanpemecahan masalah waris yang belum dijelaskandalam nash-nash shorih. 20E. Sebab- Sebab Adanya Hak Kewarisan Dalam Islam.Ada beberapa sebab dalam kewarisan dalam islamterkait hak seseorang mendapatkan warisan yaitu hubungankekerabatan dan hubngan perkawinan. Kedua bentukhubungan itu adalah sebagai berikut.1. Hubungan Kekerabatan.Hubungan kekerabatan atau biasa disebut hubungannasab ditentukan oleh adanya hubungan darah, danadanya hubungan darah dapat diketahui pada saat adanyakelahiran, seorang ibu mempunyai hubungan kerabatdengan anak yang dilahirkannya dan si anak mempunyaihubungan kekerabatan dengan kedua orang tuanya.18Ibid h. 19.Ibid hlm. 20.20Fahtur Rahman, Ilmu Waris (Bandung:PT Alma’arif thun 1981)19h. 33

28Hubungan kekerabatan antara anak dengan ayahnyaditentukan oleh adanya akad nikah yang sah antaraibunya dengan ayahnya, dengan mengetagui hubungankekerabatan antara ibu dengan anaknya dan anak denganayahnya, dapat pula diketahui hungan kekerabatan keatas yaitu kepada ayah atau ibu dan seterusnya, kebawah,kepada anak beserta keturunanya. Dari hubungan kerabatyang demikian, dapat juga diketahui struktur kekerabatanyang tergolong ahli waris bilamana seorang mninggaldunia dan meninggalkan harta warisan.Hubungan kerabata tersebut, bila lompokannya kedalam tiga kelompok ahli waris,yaitu dzawul faraid, dzawul qarabat dan mawali. Yangdimaksud mawali ialah ahli waris pengganti, atau dapatjuga diartikan sebagai orang-orang yang menjadi ahliwaris dikarenakan tidak lagi penghubung antara merekadengan pewaris. Demikian pendapat ahlus sunna yangmengelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu dzawulfaraid, ashabah, dan dzawul arham.2. Hubungan Perkawinan.Kaitan hubungan perkawinan dengan hukumkewarisan Islam, berarti hubungan perkawinan yangsah menurut Islam.Apabila seorang suamimeninggalkan harta warisan dan janda, maka istri yangdinggalkan itu termasuk ahli warisnya demikian pulasebaliknya .3. Al-Wala‟ (Memerdekakan Hamba Sahaya atau Budak)Al-Wala‟ adalah hubungan kewarisan akibatseseorang memerdekakan hamba sahaya, atau meleluiperjanjian tolong menolong. Untuk yang terakhir ini,agaknya jarang dilakukan jika malah tidak ada samasekali. Adapun al-wala‟ yang pertama disebut denganwala‟ al-„ataqah atau „ushubah sababiyah, dan yangkedua disebut dengan wala‟ al-mualah, yaituwala‟yang timbul akibat kesedihan seseorang untuktolong menolong dengan yang lain melalui suatu

29perjanjian perwalian. Orang yang memerdekakanhamba sahaya, jika laki-laki disebut dengan al-mu‟tiqdan jika perempuan al-mu‟tiqah. Wali penolong disebutmaula’ dan orang yang ditolong yang disebut denganmawali.Adapun bagian orang yang memerdekakan hambasahaya adalah 1/6 dari harta peninggalan. Jikakemudian ada pertanyaan apakah sekarang masih adahamba sahaya, maka jawabanya adalah bahwahapusnya perbudakan merupakan salah satukeberhasilan misi Islam. Karena memang imbalanwarisan kepada al-mu‟tiq dan atau al-mu‟tiqah salahsatu tujuanya adalah untuk memberikan motifasikepada siapa saja yang mampu, agar membantu danmengembalikan hak-hak hamba sahaya menjadi orangyang merdeka.21F. Sebab –Sebab Hilangnya Hak Kewarisan DalamIslam.Adapun yang dimaksud sebab hilangnya hakkeawarisan adalah hal-hal yang menggugurkan hak ahliwaris untuk mendapatkan harta warisan dari pewaris. Adabeberapa sebab yang mengakibatkan ahli waris kehilanganhaknya yaitu:1. PerbudakanSeorang yang berstatus sebagai budak tidaklahmempunyai hak untuk mewarisi sekalipun darisaudaranya. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budakmenjadi milik tuannya juga. 222. Perbedaan Agama.Adapun yang dimaksud perbedaan agama ialahkeyakinan yang dianut antara ahli waris dan muaris(orang yang mewarisi) ini menjadi penyebab hilangnya2122Op. Cit Ahmad Rofiq h.45Muhammad Muslih, Fiqih (Bogor: Yudhistira, thun 2007) h. 126

30hak kewarisan sebagaimana ditegaskan dalam hadisRasulullah dari Usama bin Zaid, diriwayatkan olehBukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmizi dan IbnMajah. Yang telah disebutkan bahwa seorang muslimtidak bisa menerima warisan dari yang bukan muslim. 23Dari hadis tersebut dapat diketahui bahwa hubunganantara kerabat yang berbeda agama dalam kehidupansehari-hari hanya nenyangkut hubungan sosial saja.3. PembunuhanPembunuhan menghalangi seseoranguntukmendapatkan warisan dari pewaris yang dibunuhnya.Ini berdasarkan hadis Rosulullah dari Abu Hurairahyang di riwayatkan oleh Ibn Majah, bahwa seseorangyang membunuh pewarisannya tidak berhak menerimawarisan dari orang yang dibunuhnya. Dari hadistersebutmenegaskanbahwapembunuhanmenggugurkan hak kewarisan.244. Berlainan NegaraYang dimaksud dengan negara dalam hal ini ialahibarat suatu daerah yang ditempat tinggali olehmuarris dan ahli waris, baik daerah itu berbentukkesultanan, kerajaan, maupun republik. 255. MurtadAdapun yang dimaksud Murtad ialah orang yangkeluar dari agama Islam, dan tidak dapat menerimaharta pusaka dari keluarganya yang muslim. Begitupula sebaliknya. 2623Zainuddin Ali, Hukum Perdata Islam Di Indonesia, (Jakarta;Sinar Grafika tahun 2007) h.112.24Ibid. hlm.113.25Op. Cit Fatchur Rahman h. 10526Muhammad Ali As-Shabuni, Hukum Kewarisan Menurut AlQur‟an Dan Sunnah ( Jakarta: Cv Diponegoro, thun 2004) h.64

31G. Rukun Dan Syarat KewarisanPada dasarnya persoalan waris-mewarisi selaluidentik dengan perpindahan kepemilikan sebuah benda,hak dan tanggung jawab dari pewaris kepada ahliwarisnya. Dan dalam hukum waris Islam penerimaanharta warisan didasarkan pada asas ijbari, yaitu hartawarisan berpindah dengan sendirinya menurut ketetapanAllah swt tanpa digantungkan pada kehendak pewarisatau ahli waris.27 Pengertian tersebut akan terwujud jikasyarat dan rukun mewarisi telah terpenuhi dan tidakterhalang mewarisi. Ada beberapa syarat yang harusdipenuhi dalam pembagian harta warisan. Syarat-syarattersebut selalu mengikuti rukun, akan tetapi sebagian adayang berdiri sendiri. Ada tiga rukun warisan yang telahdisepakati oleh para ulama, tiga syarat tersebut adalah:1. Pewaris baik secara haqiqy, hukmy (misalnyadianggap telah meninggal) maupun secara taqdiri.2. Adanya ahli waris, yaitu mereka yang berhak untukmenguasai atau menerima harta penenggalan pewarisdikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab),atauikatan pernikahan, atau lainnya.3. Harta warisan, yaitu segala jenis benda ataukepemilikan yang ditinggalankan pewaris baikberupa uang, tanah.28Adapun syarat waris harus terpenuhi pada saatpembagian harta warisan. Rukun waris dalam hukumkewarisan Islam, diketahui ada tiga macam, yaitu:1. Muwaris, yaitu orang yang diwarisi hartapeninggalannya atauorang, yang mewariskanhartanya. Syaratnya adalah muwaris benar-benartelah meninggal dunia. Kematian seorang27Muhammad Daut Ali, Asas Hukum Islam, (Jakarta: Rajawalipress thn 1990) h. 12928Op. Cit.Addys Aldizar, Faturraman, Hukum Waris ,h.28

32muwaris itu, menurut ulama dibedakan menjadi 3macam:a. Mati Haqiqy (mati sejati).Mati haqiqy (mati sejati) adalah matinyamuwaris yang diyakini tanpa membutuhkanputusan hakim dikarenakan kematian tersebutdisaksikan oleh orang banyak dengan pancaindera dan dapat dibuktikan dengan alat buktiyang jelas dan nyata.b. Mati Hukmy ( mati menurut putusan hakim atauyuridis).Mati Hukmy (mati menurut putusan hakimatau yuridis) adalah suatu kematian yangdinyatakan atas dasar putusan hakim karenaadanya beberapa pertimbangan. Maka denganputusan hakim secara yuridis muwaris n muwaris masih hidup. Menurutpendapat Malikiyyah dan Hambaliyah, apabilalama meninggalkan tempat itu berlangsungselama 4 tahun, sudah dapat dinyatakan mati.Menurut pendapat ulama mazhab lain, terserahkepada ijtihad hakim dalam melakukanpertimbangan dari berbagai macam segikemungkinannya.c. Mati Taqdiry (mati menurut dugaan).Mati taqdiry (mati menurut dugaan)adalah sebuah kematian(muwaris)berdasarkan dugaan yang sangatkuat,misalnya dugaan seorang ibu hamil yang dipukulperutnya atau dipaksa minum racun. Ketikabayinya lahir dalam keadaan mati, maka dengandugaan kuat kematian itu diakibatkan olehpemukulan terhadap ibunya.

332. Waris (ahli waris)Yaitu orang yang dinyatakan mempunyaihubungan kekerabatan baikhubungandarah(nasab), hubungan sebab semenda atau perkawinan,atau karena memerdekakan hamba sahaya.Syaratnya adalah pada saat meninggalnya muwaris,ahli waris diketahui benar-benar dalam keadaanhidup. Termasuk dalam hal ini adalah bayi yangmasih dalam kandungan (al-haml). Terdapat jugasyarat lain yang harus dipenuhi, yaitu, antaramuwaris dan ahli waris tidak ada halangan salingmewarisi. 293. Al –MaurutsAdalah segala sesuatu harta benda yangmenjadi warisan. Baik berupa harta atau hak yangtermasuk dalam kategori warisan.H. Golongan Dan Bagian Warisa. Golongan ahli warisAdapun ahli waris dari kalangan dari kalanganlaki-laki ada sepuluh yaitu:1) Anak laki-laki2) Cucu laki-laki dari anak laki-laki3) Ayah4) Kakek dan terus ke atas5) Saudara laki-laki sekandung6) Saudara laki-laki dari ayah7) Paman8) Anak laki-laki9) suami10) Tuan laki-laki yang memerdekakan buda.3029Long. Cit Ahmad Rofiq h.28

34Ada tujuh ahli waris dari dari kalangan perempuan1) Anak perempuan2) Anak perempuan dari anak laki-laki3) Ibu4) Nenek5) Saudara perempuan6) Istri7) Tuan wanita yang memerdekakan budakAda lima ahli waris yang yang tidak perna gugurmendapatkan mendapatkan hak waris1)2)3)4)5)SuamiIstriIbuAyahAnak yang langsung dari pewaris31Dan ashabah yang paling dekat yaitu:1) Anak laki-laki2) Cucu dari anak laki-laki3) Ayah4) Kakek dari pihak ayah5) Saudara laki-laki seayah dan seibu6) Saudara laki-laki seayah7) Anak laki-laki dari saudara laki seayah dan seibu8) Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah9) Paman10) Anak laki-laki paman11) Jika Ashabah tidak ada, maka tuan tafa Bid Al-Bugha, Fiqih Islam Lengkap, (Surakarta: MediaZikir thun 2009) h.32732Ibid h. 328

35b). Bagian Ahli WarisMasing-masing ahli waris mempunyaibagian yang berbeda-beda.Hal tersebutdipengaruhi karena jumlah ahli waris yang ada danjauh dekatnya suatu hubungan. Adapun bagianmasing-masing ahli waris yaitu dalam bentuk tabelsebagai berikut:NO12Tabel 1Tabel bagian masing-masing ahli warisAHLIBAGIAN KONDISIWARISSuamiIstri½Tidak ada Anak/ Cucu¼Ada Anak/ Cucu¼Tidak ada Anak/ Cucu1Ada Anak/ Cucu/8dibagi rata3Anak lk- SendirianataubersamaDzawil FurudhAshabah- 2 x bagian Anak pr (jika adaAnak lk dan Anak pr)dibagi rata½5Anak prCucu lkAnak lk lebih dari seorangAnak pr hanya seorang/3Anak pr lebih dari seorang(dibagi rata)Ashabah½ bagian Anak lk (jika adaAnak lk dan Anak pr)24Dari ¼ atau 1/8 bagian tsb(jika Istri lebih dari seorang)0Ada Anak lk

36(dariAnak lk)- SendirianataubersamaDzawil FurudhAshabah- 2 x bagian Cucu pr (jika adaCucu lk dan Cucu pr)dibagi rata06½Cucu pr(dariAnak lk)2/31/6Ashabah1Cucu pr hanya seorangCucu pr lebih dari seorang(dibagi rata)Cucu pr bersama Anak pr½ bagian Cucu lk (jika adaCucu lk dan Cucu pr)Ada Anak lk atau Cucu lk/6 dan sisaAda Anak pr atau Cucu pr/3Ahli waris hanya Ayah danIbu/3 dari sisa(setelah dikurangi hak Istri/Suami), jika ada Istri/ Suamidan IbuAshabahTidak ada ahli waris lainnya2Ayah21/6Ada Anak/ Cucu/ dua orangatau lebih Saudara/3Ahli waris hanya Ibu, atauAyah dan Ibu/3 dari sisa(setelah dikurangi hak Istri/Suami), jika ada Istri/ Suamidan Ayah18- Ada Anak lkAda dua orang atau lebihAnak pr (kecuali Cucu prbersama Cucu lk)/617Cucu lk lebih dari seorangIbu1

3701/6Ada Anak lk atau Cucu lk/6 dan sisaAda Anak pr atau Cucu pr1910KakekAda AyahSisaTidak ada Anak atau Cucu,tetapi ada Ahli waris lainAshabahTidak ada Ahli waris lainnya0- Ada Ayah atau Ibu (untukNenek dari Ayah)- Ada Ibu (untuk Nenek dariIbu)Nenek1/6Ada maupun tidak ada Ahliwaris selain Ayah/ Ibu1/6 dibagirata01112Saudara lkkandungSaudaraprkandungNenek lebih dari seorangAda: Ayah/ Anak lk/ Cucu lk(dari Anak lk)- SendirianataubersamaDzawil FurudhAshabah - 2 x bagian Sdr pr kandung(jika ada Saudara lk danSaudara pr kandung)dibagi rataSaudara lk kandung lebih dariseorang bagianSaudaraseibuAhli waris: Suami, Ibu,Saudara kandung dan duaorang atau lebih Saudaraseibu0Ada: Ayah/ Anak lk/ Cucu lk(dari Anak lk)½Saudara pr kandung hanyaseorang

382/3Ashabah013Saudara lksebapakAshabah14SaudaraprsebapakSaudara pr kandung lebihdari seorang (dibagi rata)- Bersama dengan Saudara lkkandung (bagian perempuan½ bagian laki-laki)- Bersama Anak pr atau CucuprAda: Ayah/ Anak lk/ Cucu lk(dari Anak lk)/ Saudara l

mengatur tentang peralihan harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal serta akibatnya bagi para ahli warisnya.3 dan juga berbagai aturan tentang perpidahan hak milik, hak milik yang dimaksud adalah berupa harta, seorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Dalam istilah lain waris disebut juga