Transcription

PARADIGMA CAPAIAN PEMBELAJARANDokumen 005Direktorat Jendral Pembelajaran dan KemahasiswaanKementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan TinggiRepublik Indonesia2015

PARADIGMA CAPAIAN PEMBELAJARANCapaian Pembelajaran Dan KompetensiCapaian pembelajaran (learning outcomes) adalah suatu ungkapan tujuan pendidikan, yangmerupakan suatu pernyataan tentang apa yang diharapkan diketahui, dipahami, dan dapatdikerjakan oleh peserta didik setelah menyelesaikan suatu periode belajar. Capaianpembelajaran adalah kemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan, sikap,keterampilan, kompetensi, dan akumulasi pengalaman kerja.Istilah capaian pembelajaran kerapkali digunakan bergantian dengan kompetensi, meskipunmemiliki pengertian yang berbeda dari segi ruang lingkup pendekatannya. Allan dalamButcher (2006) menjelaskan bahwa banyak terminologi digunakan untuk menjelaskaneducational intent, di antaranya adalah; learning outcomes; teaching objectives;competencies; behavioural objectives; goals; dan aims.Menurut Butcher (2006), “aims” merupakan ungkapan tujuan pendidikan yang bersifat luasdan umum, yang menjelaskan informasi kepada siswa tentang tujuan suatu pelajaran,program atau modul dan umumnya ditulis untuk pengajar bukan untuk siswa. Sebaliknyacapaian pembelajaran (learning outcomes) lebih difokuskan pada apa yang diharapkan dapatdilakukan oleh siswa selama atau pada akhir suatu proses belajar. Sedangkan “objectives”cakupannya meliputi belajar dan mengajar, dan kerapkali digunakan dalam proses asesmen.Kompetensi adalah suatu bentuk capaian pembelajaran, bersifat lebih terbatas.Ketercapaiannya biasanya dinyatakan dengan kompeten atau tidak kompeten, lulus atautidak lulus, dan bukan dalam bentuk peringkat (grade). Capaian pembelajaran dapat dicapaidalam bentuk berbagai tingkatan, bahkan dengan berbagai cara, dan hasilnya dapat diukurdengan berbagai cara pula, tidak hanya dengan observasi langsung. Bentuk lain dari capaianpembelajaran adalah “behavioural objectives”, dimana pencapaiannya dapat diamati secaralangsung.Capaian pembelajaran menunjukkan kemajuan belajar yang digambarkan secara vertikal darisatu tingkat ke tingkat yang lain serta didokumentasikan dalam suatu kerangka kualifikasi.Capaian pembelajaran harus disertai dengan kriteria penilaian yang tepat yang dapatdigunakan untuk menilai bahwa hasil pembelajaran yang diharapkan telah dicapai.Capaian pembelajaran, bersama dengan kriteria penilaian, dapat menentukan persyaratanuntuk pemberian kredit (Butcher dan Highton, 2006). Akumulasi dan transfer kredit dapatdilakukan apabila terdapat capaian pembelajaran yang jelas untuk menunjukkan secara tepatatas kredit yang diberikan (Gonzale'z dan Wagenaar, 2005). Hal ini mengidentifikasi capaianpembelajaran sebagai tujuan belajar yang terukur.

Kompetensi berasal dari kata bahasa Latin ‘competere’, yang memiliki arti kesesesuaian.Kompetensi umumnya direferensikan sebagai kesesuaian dengan pekerjaan tertentu(Nordhaug dan Gronhaug dalam Nilsson, 1994). Di bidang pendidikan vokasi dan pelatihan,seseorang dinyatakan kompeten apabila ia dapat secara konsisten menerapkan pengetahuandan keahliannya ke dalam standar kinerja yang diperlukan di tempat kerja (Department ofEducation and Training, Western Australia, 2008). Kompetensi yang dicapai seseorangmerupakan hasil belajar yang terstruktur dan berjenjang, yang dicapai dalam kurun waktutertentu.Model kompetensi menurut Burke (2005) dapat dikelompokkan ke dalam beberapa model.Model pertama adalah model “input” yang didasarkan pada asumsi mengenai sikap,pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki seseorang (individual attribute). Model inidiasumsikan sebagai konsep model yang memiliki pengertian luas (broaden), di mana kinerjadilihat sebagai elemen yang merupakan ciri-ciri atau elemen isi (ketrampilan, tugas dll.).Model berikutnya adalah model “outcome” yang didasarkan atas deskripsi aspekkarakteristik pekerjaan (work role), atau hasil dari kinerja (outcomes of performance) yangmemiliki ciri-ciri antara lain; didasarkan atas deskripsi hasil pekerjaan, interaksi antaraketrampilan teknis dan lingkungan organisasi, dan dinamis terhadap perubahan organisasidan teknologi. Model lainnya adalah model kompetensi kerja (job competence model).Model ini didasarkan pada standar input yang sempit yang menekankan deskripsi tugas danketrampilan kepada prosedur kerja.Gonczi dalam Velde (2009) membedakan kompetensi ke dalam tiga konsep dasar, yakni: 1)the ‘behaviourist’ dimana kompetensi dikonsepsikan dalam terminologi perilaku diskrit ataudiscrete behaviours yang diasosiasikan dengan penyelesaian berbagai tugas; 2) the ‘generic’yang mengkonsentrasikan pada atribut seperti antara lain critical thinking capacity; dan 3)the ‘integrated’ yang merupakan kombinasi dari pendekatan the ‘behaviourist’ dan the‘generic’.Kompetensi menurut Ellstrom dalam Nilsson (2007) merupakan atribut individu/modalinsani, berupa kemampuan yang dihasilkan dari semua pengetahuan yang telah diakuisisioleh seseorang (pengetahuan, afektif dan keterampilan sosial). Kompetensi dapat jugadinyatakan sebagai ----------- broaden concept, can be transferred into productivity----------,serta merupakan atribut dari suatu pekerjaan, potensi individu atau kebutuhan tugas(kualifikasi). Kombinasi dari keduanya adalah kompetensi yang benar-benar digunakan ditempat kerja yang merupakan interaksi antara individu dan pekerjaan.LANDASAN HUKUM KOMPETENSI DAN CAPAIAN PEMBELAJARANDalam Penjelasan UU No.: 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 35 ayat1, disebutkan bahwa kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yangmencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telahdisepakati. Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun

2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 1 ayat 4, standar kompetensi lulusanadalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, danketerampilan. Sebagaimana telah diuraikan di atas, pengertian kompetensi dalam pendidikanformal nampaknya lebih tepat diungkapkan dalam bentuk capaian pembelajaran. Alasanyang mendasarinya adalah hasil pembelajaran pendidikan formal tidak semata-matadimaksudkan untuk memenuhi standar kompetensi yang diperlukan di tempat kerja, akantetapi lebih luas lagi untuk menghasilkan insan Indonesia yang cerdas spiritual, cerdasemosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinestetis, sebagaimana diungkapkandalam visi pendidikan nasional yang tertuang dalam Rencana Strategis Pendidikan Nasional2010-2025.Kompetensi memiliki ruang lingkup pengertian luas dan sempit tetapi, sedang capaianpembelajaran (CP) adalah identik dengan kompetensi yang memiliki ruang lingkup luas.Dengan demikian, dalam uraian selanjutnya istilah kompetensi akan digunakan secarabergantian dengan capaian pembelajaran sesuai konteks kalimat yang akan diuraikan.Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 Tentang Kerangka KualifikasiNasional Indonesia, pasal 1 ayat (2), menjelaskan bahwa capaian pembelajaran adalahkemampuan yang diperoleh melalui internalisasi pengetahuan, sikap, ketrampilan,kompetensi, dan akumulasi pengalaman kerja. Sedangkan pengakuan terhadap capaianpembelajaran dijelaskan dalam pasal 4, ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) dan ayat (5)sebagai berikut:1) Capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan atau pelatihan kerjadinyatakan dalam bentuk sertifikat.2) Sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk ijazah dan sertifikatkompetensi.3) Ijazah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bentuk pengakuan atas capaianpembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan.4) Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan bentukpengakuan atas capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pendidikan atau pelatihankerja.5) Capaian pembelajaran yang diperoleh melalui pengalaman kerja dinyatakan dalambentuk keterangan yang dikeluarkan oleh tempat yang bersangkutan bekerja.Selanjutnya dalam Undang-undang Pendidikan Tinggi Nomor 12 Tahun 2012 TentangPendidikan Tinggi pasal 42 ayat (1) dijelaskan bahwa, ijazah diberikan kepada lulusanpendidikan akademik dan pendidikan vokasi sebagai pengakuan terhadap prestasi belajardalam penyelesaian program studi tertentu, yang terakreditasi diselenggarakan olehPerguruan Tinggi. Selanjutnya dalam pasal 44 ayat (1) dinyatakan bahwa sertifikatkompetensi merupakan pengakuan kompetensi atas prestasi lulusan yang sesuai dengankeahlian dalam cabang ilmunya dan/atau memiliki prestasi di luar program studinya.

CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN FORMALDeskripsi capaian pembelajaran untuk masing-masing jenjang kualifikasi lulusan pendidikantinggi dapat ditemukan dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik IndonesiaNomor 232/U/2000 Tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi danPenilaian Hasil Belajar, pasal 3 (ayat (2), ayat (3), dan ayat (4)), dan pasal 4 (ayat (2), ayat (3),ayat (4), dan ayat (5)). Dalam Keputusan Menteri tersebut uraian hasil pembelajarandijelaskan sebagai berikut:1) Program Diploma I diarahkan pada hasil lulusan yang menguasai kemampuan dalammelaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin, atau memecahkan masalah yang sudahakrab sifat-sifat maupun kontekstualnya di bawah bimbingan, melaksanakan pekerjaanyang kompleks, dengan dasar kemampuan profesional tertentu, termasuk keterampilanmerencanakan, melaksanakan kegiatan, memecahkan masalah dengan tanggungjawabmandiri pada tingkat tertentu, memiliki ketrampilan manajerial, serta mampu mengikutiperkembangan, pengetahuan, dan teknologi di dalam bidang keahliannva.2) Program Diploma II diarahkan pada hasil lulusan yang menguasai kemampuan dalammelaksanakan pekerjaan yang bersifat rutin, atau memecahkan masalah yang sudahakrab sifat-sifat maupun kontekstualnya secara mandiri, baik dalam bentuk pelaksanaanmaupun tanggungjawab pekerjaannya.3) Program Diploma III diarahkan pada lulusan yang menguasai kemampuan dalam bidangkerja yang bersifat rutin maupun yang belum akrab dengan sifat-sifat maupunkontekstualnya, secara mandiri dalam pelaksanaan maupun tanggungjawabpekerjaannya, serta mampu melaksanakan pengawasan dan bimbingan atas dasarketerampilan manajerial yang dimilikinya.4) Program Diploma IV diarahkan pada hasil lulusan yang menguasai kemampuan dalammelaksanakan pekerjaan yang kompleks, dengan dasar kemampuan professionaltertentu termasuk keterampilan merencanakan, melaksanakan kegiatan, memecahkanmasalah dengan tanggungjawab mandiri pada tingkat tertentu, memiliki keterampilanmanajerial serta mampu mengikuti perkembangan, pengetahuan, dan teknologi didalam bidang keahliannva.5) Program Sarjana hasil lulusan diarahkan memiliki kualifikasi sebagai berikut:a. menguasai dasar-dasar ilmiah dan keterampilan dalam bidang keahlian tertentusehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan, dan merumuskan carapenyelesaian masalah yang ada di dalam kawasan keahliannya;b. mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya sesuaidengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepadamasyarakat dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata kehidupan bersama;c. mampu bersikap dan berperilaku dalam membawakan diri berkarya di bidangkeahliannya maupun dalam kehidupan bersama di masyarakat;d. mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenianyang merupakan keahliannya.6) Program Magister diarahkan pada hasil lulusan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. mempunvai kemampuan mengembangkan dan memutakhirkan ilmu pengetahuan,teknologi, dan/atau kesenian dengan cara menguasai dan memahami pendekatan,metode, kaidah ilmiah disertai keterampilan penerapannya;b. mempunyai kemampuan memecahkan permasalahan di bidang keahliannya melaluikegiatan penelitian dan pengembangan berdasarkan kaidah ilmiah;c. mempunyai kemampuan mengembangkan kinerja profesionalnya yang ditunjukkandengan ketajaman analisis permasalahan, keserbacakupan tinjauan, kepaduanpemecahan masalah atau profesi yang serupa;7) Program Doktor diarahkan pada hasil lulusan yang memiliki kualifikasi sebagai berikut:a. mempunyai kemampuan mengembangkan konsep ilmu, teknologi, dan/atau kesenianbaru di dalam bidang keahliannya melalui penelitian;b. mempunyai kemampuan mengelola, memimpin, dan mengembangkan programpenelitian:c. mempunyai kemampuan pendekatan interdisipliner dalam berkarya di bidangkeahliannya.CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN NON-FORMALPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan danPenyelenggaraan Pendidikan, pasal 102 ayat (2) menyatakan bahwa Pendidikan non-formalbertujuan untuk membentuk manusia yang memiliki kecakapan hidup, keterampilanfungsional, sikap dan kepribadian profesional, dan mengembangkan jiwa wirausaha yangmandiri, serta kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu, dan/atau melanjutkanpendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikannasional.Sementara itu, capaian pembelajaran pendidikan non-formal dalam lingkup ketenagakerjaandalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2006 Tentang Sistem Pelatihan KerjaNasional, pasal 1 ayat (4) menyatakan bahwa kompetensi kerja adalah kemampuan kerjasetiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yangsesuai dengan standar yang ditetapkan. Rumusannya dijelaskan dalam pasal (5), berupaStandar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia yang selanjutnya disingkat SKKNI. Rumusankemampuan kerja mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian sikapkerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuaidengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.CAPAIAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN INFORMALPendidikan informal dilakukan oleh keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajarsecara mandiri. Werquin (2010) menyebutkan bahwa belajar informal adalah belajar yangdihasilkan dari kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan pekerjaan, keluarga ataukesenangan. Dalam hal ini tujuan belajar, waktu dan fasilitas belajarnya tidak terorganisasiatau tidak terstruktur. Dalam banyak kasus, ditinjau dari perspektif pembelajar, belajar

informal ini tergolong belajar yang tidak disengaja (Cedefop1, 2008). Kerapkali pembelajaraninformal disebut sebagai "pembelajaran melalui pengalaman" atau sebagai "pengalaman".Idenya adalah bahwa manusia, berdasarkan dari keberadaannya, secara terus-menerusberada dalam situasi belajar.Seperti sudah diketahui bahwa kesulitan pertama dalam proses pengakuan hasilpembelajaran informal adalah calon yang akan diberikan pengakuan belum tentusepenuhnya menyadari sifat dan ruang lingkup pembelajaran informal yang telah merekaalami. Masalah kedua adalah kenyataan bahwa hasil pembelajaran informal tidak dapatmemperoleh pengakuan apapun jika hasil pembelajarannya jauh di bawah standar yangditetapkan oleh evaluator atau badan penilai.McGivney mendefinisikan pembelajaran informal sebagai berikut: Belajar yang terjadi di luar lingkungan belajar dan timbul dari kegiatan dankepentingan individu dan kelompok, tetapi tidak dapat diakui sebagai prosespembelajaran. Kegiatan tidak berbasis mata pelajaran (yang mungkin termasuk diskusi, pembicaraanatau presentasi, informasi, saran dan bimbingan) yang disiapkan atau difasilitasidalam rangka menanggapi kebutuhan dari berbagai sektor dan organisasi (kesehatan,perumahan, pelayanan sosial, pelayanan ketenagakerjaan, pendidikan dan jasapelatihan, dan pelalayanan bimbingan). pembelajaran yang direncanakan dan terstruktur seperti kursus singkat yangdiselenggarakan dalam menanggapi kepentingan dan kebutuhan yang teridentifikasi,tetapi disampaikan dengan cara yang fleksibel dan informal serta dalam pengaturanmasyarakat informal.Berbeda halnya dengan McGivney, Dale dan Bell (1999) mendefinisikan pembelajaraninformal agak lebih sempit yakni sebagai proses belajar yang berlangsung dalam kontekskerja, berkaitan dengan kinerja seseorang pada pekerjaannya, namun tidak secara resmidiatur dalam sebuah program atau kurikulum.PENYETARAAN CAPAIAN PEMBELAJARAN ANTARA JALUR PENDIDIKANKebijakan pendidikan pada saat ini semakin fokus pada capaian pembelajaran dan mengacukepada perspektif belajar sepanjang hayat. Pengakuan kompetensi yang diperoleh seseorangdari pembelajaran non-formal atau pembelajaran informal berfokus pada capaianpembelajaran dan penyediaan kesempatan lintas jalur untuk melanjutkan ke pendidikan11The European Centre for the Development of Vocational Training (Cedefop) is the European Union'sreference Centre for vocational education and training. It provides information on and analyses of vocationaleducation and training systems, policies, research and practice. Cedefop was established in 1975 by CouncilRegulation (EEC) No 337/75.

formal atau kualifikasi yang memiliki penghargaan di pasar tenaga kerja. Fokus utamapengakuan adalah untuk membuat capaian pembelajaran itu terlihat, sehingga capaianpembelajaran pendidikan non-formal dan pendidikan informal dapat dilegitimasi dan dapatdiakui pada kualifikasi yang sesuai.Meskipun pembelajaran sering terjadi dalam kondisi formal pada lingkungan belajar yangtertata, tetapi banyak pula pembelajaran yang berharga berlangsung dalam kehidupansehari-hari secara informal. Dalam banyak kasus, capaian pembelajaran pendidikan informalini diakui melalui pemberian upah yang lebih tinggi kepada mereka yang sudahberpengalaman. Pengakuan tersebut telah membuat sumber daya manusia lebih terlihat danlebih bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya (Werquin, Patric: Recognising Non-Formaland Informal Learning, Outcomes, Policies and practice, OECD 2010).Pengakuan capaian pembelajaran pendidikan non-formal dan informal berperan penting disejumlah negara dengan cara menyediakan validasi kompetensi untuk memfasilitasi aksesmenjadi mahasiswa di pendidikan tinggi. Hal ini sering kali dilakukan melalui pembebasanmata kuliah tertentu atau bagian dari kurikulum sebuah program studi. Pendekatan inimemungkinkan seseorang menyelesaikan pendidikan formal dengan lebih cepat, efisien danmurah tanpa harus menempuh mata kuliah yang telah dipahami dan dikuasainya.Kesempatan untuk pengakuan capaian pembelajaran pendidikan non-formal dan informaljuga dapat membuat seseorang tertarik untuk terlibat dalam kegiatan belajar secara mandiri.Peyetaraan dan pengakuan capaian pembelajaran antar jalur pendidikan dapat dilakukandengan adanya Kerangka Kualifikasi Nasional. UU No. 12 Tahun 2012 Tentang PendidikanTinggi, pasal 29 ayat (1) menjelaskan bahwa Kerangka Kualifikasi Nasional merupakanpenjenjangan capaian pembelajaran yang menyetarakan luaran bidang pendidikan formal,non-formal, informal, atau pengalaman kerja dalam rangka pengakuan kompetensi kerjasesuai dengan struktur pekerjaan diberbagai sektor. Selanjutnya, Peraturan PemerintahRepublik Indonesia No. 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan PenyelenggaraanPendidikan, pasal 115 ayat (1) menyatakan bahwa hasil pendidikan non-formal dapatdihargai setara dengan hasil pendidikan formal setelah melalui uji kesetaraan yangmemenuhi Standar Nasional Pendidikan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah ataupemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing, dan sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan. Sementara itu, pasal 117 ayat (1) menjelaskan bahwa hasilpendidikan informal dapat dihargai setara dengan hasil pendidikan non-formal dan formalsetelah melalui uji kesetaraan yang memenuhi Standar Nasional Pendidikan oleh lembagayang ditunjuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing,dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.Secara konseptual, penyetaraan antara jalur pendidikan tersebut di atas terhadap KerangkaKualifikasi Nasional dapat digambarkan sebagai berikut:

S3/Sp9Sp -US1/D48D3D27D1SMA/MA/SMKSMP654321Gambar 1: Penyetaraan antar jalur pendidikan terhadap Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesian(Ilustrasi oleh Rudy Handojo, PII)Werquin (2010) menjelaskan beberapa manfaat dari pengakuan capaian pembelajaranpendidikan non-formal dan informal seperti antara lain:a) Pengakuan menjadikan capaian pembelajaran pendidikan non-formal dan informalberguna untuk belajar lanjut pada jalur pendidikan formal.b) Pengakuan menjadikan capaian pembelajaran non-formal dan informal berguna untukbursa ketenagakerjaan.c) Pengakuan dapat memperbaiki kesetaraan.REFERENSIBurke, Travis B (2005). Defining Competency and Reviewing Factors That May Impact thePerceived Importance, Knowledge and Use of Competencies in The 4- H Professional'sJob. Dissertation, Department of Adult and Community College Education, CarolineState University.

Butcher, C., Davies, C. and Highton, M. (2006) Designing Learning. From module outline toeffective teaching. London and New York: RoutledgeMcGivney, Veronica (1999) Informal learning in the community: a trigger for change anddevelopment. Published: Leicester, England: National Institute of Adult ContinuingEducation (England and Wales)Nilsson, Staffan and Kerstin Ekberg, (2013) Employability and work ability: returning to thelabour market after long-term absence, A Journal of Prevention, Assesment andrehabilitation, (44), 4, 449-457.Velde, Christine (1999). An Alternative Conception of Competence: implications forvocational education, Journal of Vocational Education and Training, Vol. 51, No. 3Werquin, Patrick (2010). Recognising Non-Formal and Informal Learning; Outcomes, PoliciesAnd Practices. www.oecd.org/publishing/corrigendaDisusun oleh Tim KKNIMegawati Santoso, Ardhana Putra, Junaedi Muhidong,Illah Sailah, SP Mursid, Achmad Rifandi, Susetiawan, EndrotomoEditor: Yusring Baso

fungsional, sikap dan kepribadian profesional, dan mengembangkan jiwa wirausaha yang mandiri, serta kompetensi untuk bekerja dalam bidang tertentu, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sementara itu, capaian pembelajaran pendidikan non-formal dalam lingkup ketenagakerjaan