Transcription

BAB IILANDASAN TEORIA. Pengertian Metode Student Team Achievement Division (STAD)1. Pengertian Metode Pembelajaran.Dalam proses pembelajaran, metode sangat dibutuhkan untuk menjalankankegiatan pembelajaran. Metode akan menjadi penunjang berhasil atau tidaknyasuatu pembelajaran.Metode adalah cara yang digunakan untuk mengiplementasikan rencanayang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapaisecara optimal.1 Dalam hal ini, metode dalam rangkaian sistem pembelajaranmemegang peran yang sangat penting.Metode adalah cara yang telah diatur dan berpikir baik-baik untuk mencapaisesuatu yang dimaksud dalam ilmu pengetahuan.2 Metode pembelajaranadalah cara-cara atau tehnik penyajian bahan pelajaran yang akan digunakanoleh guru pada saat menyajikan bahan pelajaran, baik secara individual atausecara kelompok.3Fungsi metode pengajaran tidak dapat diabaikan karena metode mengajartersebut turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses pembelajaran. Olehkarena itu, pemakaian metode harus sesuai dengan karakteristik siswa, materi,kondisi lingkungan dimana pembelajaran berlangsung.Metode pembelajaran tidak hanya dilaksanakan begitu saja, namun metodepembelajaran adalah sebagai unsur dasar teknologi dinamis dalam prosespembelajaran harus mampu menggerakan situasi pendidikan menjadi kegiatan1Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Cet Ke6., Jakarta: Kencana 2009), h. 147.2Pandom Media Nusantara, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta 2014, h. 557.3Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar, (Cet Ke-2., Ciputat: PT. Ciputat Press 2007), h.49.12

13nyata yang langsung melibatkan peserta didik. Melalui proses pembelajaran itulahpuncak-puncak fungsi dan pendidikan tertunaikan.42. Pengertian Metode Student Team Achievement Division STADSlavin dalam Masniati mengatakan bahwa :Pembelajaran kooperatif dengan model STAD, siswa dibagi dalam timbelajar beranggotakan 4-5 orang siswa yang berbeda-beda tingkatkemampuan akademik sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yangberprestasi tinggi, sedang, dan rendah atau variasi jenis kelamin, ras, danetnis, atau kelompok sosial lainnya untuk bekerja dalam tim sertamemastikan semua anggota tim menguasai pelajaran dan dapat mengerjakansoal mengenai materi secara individu.5Iman Kurniasih dalam Masniati mengemukakan bahwa:Student team achievement division (STAD) dikembangkan oleh RobertSlavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins. Siswa dalamsuatu kelas tertentu dipecahkan menjadi kelompok dengan anggota 4-5orang, usahakan setiap beranggotakan dengan heterogen, terdiri atas lakilaki dan perempuan, berasal dari berbagai suku, memiliki kemampuantinggi, sedang, dan rendah. Anggota tim menggunakan lembar kegiatan atauperangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajarannyadan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahanpelajaran melalui diskusi dan kuis.6Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajarankooperatif tipe STAD tipe pembelajaran kooperatif dimana siswa dikelompokkandalam kelompok belajar yang heterogen terdiri dari 4-5 orang siswa baikheterogen jenis kelamin, ras, etnik, dan kemampuan. Siswa saling membantuuntuk memahami pembelajaran dan menyelesaikan tugas yag diberikan oleh guruberupa LKS yang akan dikerjakan bersama anggota kelompok masing-masing dan4Prayitno, Dasar Teori dan Praktis pendidikan, (Cet Ke- 1., Jakarta: Pt. Grafindo 2009). h.320.5Robert E Slavin, Cooperatif Learning: Riset dan Praktik. (Terjemahan). (Jakarta: NusaMedia, 2005), h. 11.6Iman Kurniansih, Ragam Pengembangan Model Pembelajaran Untuk PeningkatanProfesionalitas Guru (t.t: Kata Pena, 2006), h. 22.

14soal kuis yang dikerjakan secara individu. Perolehan skor individu/kuis masingmasing anggota kelompok akan dijumlahkan dan dirata-ratakan berdasarkanjumlah siswa dalam kelompok tersebut. Kelompok yang memperoleh skorterbanyak akan diberikan penghargaan oleh guru.3. Langkah-langkah Metode Student Team Achievement Division STADSetiap model pembelajaran tentunya memiliki langkah-langkah dalamprosesnya, memudahkan menggunakannya dalam proses pembelajaran. langkahlangkah sebagai upaya inovatif pembelajaran yang meningkatkan taraf berfikirsiswa melalui metode yang sederhana ini namun dapat mengembangkan polapikirnya. Menurut Sugiyono dalam Fianti Suhardi langkah-langkah pembelajaranmodel kooperatif tipe STAD sebagai berikut:71. Peserta didik dalam satu kelas dibagi menjadi kelompok-kelompokdengan anggota 4-5 anggota siswa, tiap anggota kelompok memilikianggota yang heterogen, baik jenis kelamin, etnis, maupun kemampuanakademik (tinggi, sedang, rendah).2. Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik dankemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanyajawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok.3. Secara individual atau kelompok, tiap minggu atau tiap dua minggu gurumengevaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahanakademik yang telah dipelajari.Sugiyono, Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG), “Model-ModelPembelajaran Inovatif”, (Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 Surakarta, 2007), h. 14.7

154. Tiap siswa atau tiap kelompok dievaluasi dan diberikan skor ataspenguasaannya terhadap bahan ajar dan kelompok siswa secara individuatau kelompok yang meraih prestasi tinggi ataupun memperoleh skorsempurna diberikan penghargaan.Sedangkan menurut Slavin langkah-langkah atau prosedur kooperatif ajarandanmembangkitkan motivasi, b) Menyajikan informasi kepada siswa dengandemonstrasi disertai penjelasan verbal, buku teks, atau bentuk-bentuk lain, c)Mengorganisasikan dan membantu kelompok belajar, d) Mengelolah danmembantu kerja kelompok, e) Menguji penguasaan kelompok atas bahan ajar, f)Memberi penghargaan atau pengakuan terhadap hasil belajar siswa.4. Kelebihan dan Kelemahan Metode Student Team Achievement DivisionSTAD.a. KelebihanMenurut Imas Kurniasih dan Berlin Sani bahwa ada banyak sekali manfaatdari model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini, diantaranya:1. Karena dalam kelompok siswa dituntut untuk aktif sehingga denganmodel ini siswa dengan sendirinya akan percaya diri dan meningkatkecakapan individunya.2. Interaksi sosial yang terbangun dalam kelompok, dengan sendirinyasiswa belajar dalam bersosialisasi dengan lingkungannya (kelompok).8Slavin, op cit, h. 56.

163. Dengan kelompok yang ada, siswa diajarkan untuk membangunkomitmen dalam mengembangkan kelompoknya.4. Mengajarkan menghargai orang lain dan saling percaya.5. Dalam kelompok siswa diajarkan untuk saling mengerti dengan materi.yang ada, sehingga siswa saling memberitahu dan mengurangi sifatkompetitif.9Berdasarkan teori diatas dapat disimpulkan bahwa kelebihan model STADadalah dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran melalui kerjasamadalam kelompok untuk menyelesaikan LKS yang diberikan oleh guru, siswa akansaling memberikan scafolding terutama bagi siswa yang berkemampuan tinggidan melatih kecakapan siswa dalam berinteraksi dan mengemukakan pendapatmasing-masing melalui diskusi kelompok. Sehingga akan menciptakan hubungansosial yang baik karena siswa saling menghargai dan percaya terdapat pendapatorang lain untuk mencapai keberhasilan kelompok dan meningkatkan hasil belajarsiswab. KelemahanMenurut Ahmad Suyuthi kelemahan model STAD adalah:a) Jika siswa tidak memahami tujuan model pembelajaran dengan baik,maka mereka yang dianggap memiliki kelebihan akan merasa terhambatbelajarnya oleh siswa yang dianggap kurang dalam hal memilikikemampuan, akibatnya keadaan ini dapat mengganggu iklim kerjasamakelompok.9Iman Kurniasih, Berlin Sani, op cit.

17b) Karena siswa saling membelajarkan, bisa terjadi cara belajar yangdemikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernahtercapai oleh siswa.c) Upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan waktuyang cukup panjang dan hal ini sulit dicapai hanya dengan sekalipenerapan strategi ini.10Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa kekurangan modelSTAD adalah jika siswa tidak memahami tujuan model STAD maka akan merasaterhambat belajarnya karena harus melakukan scafolding kepada siswa lain, sertatujuan pembelajaran tidak tercapai karena siswa saling membelajarkan danmemerlukan waktu yang cukup lama untuk membangun iklim kerja sama dalamkelompok belajar sehingga guru harus mengontrol waktu pembelajaran danmenggunakan waktu secara efisien.B. Deskripsi Hasil Belajar1. Pengertian BelajarBelajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkansatu sama lain. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan seseorangsebagai subjek yang menerima pelajaran (sasaran didik) dan siapa saja bisamelaksanakannya, sedangkan mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukanoleh guru sebagai mengajar atau hanya orang-orang tertentu yang dapatmelakukan.10Ahmad Suyuthi, Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD(StudentTeam Achievement Division) Dalam Pendidikan Agama Islam, Jurnal L HIKMAH, Volume 2,Nomor 2, September 2012.

18Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangatfundamental dalam menyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.Ini berarti bahwa, berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan ituamat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika iaberada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarga sendiri.11Dengan demikian pemahaman yang benar mengenai definisi belajarmencakup segala aspek, bentuk dan menisfestasinya mutlak dibutuhkan olehsetiap orang khususnya para pendidik. Berikut pandangan para ahli terkait definisibelajar:Gronbach berpendapat bahwa learning is shown by change in behavior as aresult of experince. Belajar sebagai suatu aktivitas yang ditunjukkan olehperubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.12 Belajar adalahtahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetapsebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkanproses kognitif.13 Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahantingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus danrespon.14Belajar merupakan proses perubahan didalam kepribadian yang berupakecakapan, kebiasaan, dan kepandaian yang bersifat menetap dalam tingkah lakuyang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.Menurut Morgan belajar adalah “relatively permanent change in behaviorwich occur as result of experience of practice”. yang berarti belajar adalahperubahan tingkah laku yang relatif tetap yang merupakan hasil daripengalaman atau latihan. Belajar sebagai suatu proses, ditandai denganadanya perubahan pada diri seseorang.1511Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Cet ke-15., Bandung PT Remaja Rosda Karya2010), h. 87.12Syaiful Bahri Djamari, Psikologi Belajar, (Cet ke-1., Jakarta: PT. Rineka cipta 2002),h. 13.13Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Grafindo Persada 2006), h. 68.14Asri Budingsih, Belajar Dan Pembelajaran, (Cet ke-1., Jakarta: PT. Rineka Cipta2005), h. 20.15Makzun, Implementasi Metode Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Hasil BelajarFiqih Materi Binatang Halal Pada Siswa Kelas V Semester 1 MI NU 08 Brangsong Kendal TahunPelajaran 2014/2015, (Semarang 2015), h. 9.

19Pengertian belajar tidak hanya dilaksanakan sebagai hanya mestinya,namun sesorang akan dikatakan belajar apabila telah berhasil mengaplikasikandari hasil belajar, sebagaimana yang dijelaskan oleh Howard L. Kingskey bahwa:Learning is ithe proses by whit behavior (in the broarder sence) isoriginated of change thorough practice or training. belajar adalah prosesdimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melaluipraktek atau latihan.16Istilah hasil belajar terdiri dari dua kata yaitu hasil dan belajar. hasilmerupakan sesuatu yang dicapai setelah melakukan kegiatan pembelajaran.sedangka belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku terhadap diriseseorang yang berusaha memaknai sesuatu yang diperoleh.Individu yang belajar akan memperoleh hasil dari apa yang telah diapelajari selama proses belajar berlangsung. Perubahan yang terjadi pada diriindividu yang belajar bukan hanya perubahan mengenai pengetahuan, namun jugamembentuk kecakapan, kebiasaan, pengertian, penguasaan, maupun penghargaandalam diri seseorang yang belajar.Berdasarkan konsep teori dan pandangan dapat disimpulkan bahwa hasilbelajar adalah nilai (skor) yang dicapai oleh siswa melalui proses belajar yangditunjukan dalam bentuk angka, huruf maupun tindakan yang armerupakanwujudyangmenggambarkan usaha belajar yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa,ataupun orang lain dan lingkungannya.16Syaiful Bahri Djamari, op cit, h. 13

202. Jenis-Jenis BelajarDalam proses belajar dikenal adanya jenis-jenis kegiatan yang memilikicorak yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Adapun jenisjenis belajar tersebut anatar lain: belajar abstrak, belajar keterampilan, sosial,belajar pemecahan masalah, belajar kebiasan, belajar apresiasi, dan belajarpengetahuan.1. Belajar abtsrak adalah belajar yang menggunakan cara-cara berpikirabstrak. Tujuannya ialah untukmemperoleh pemahaman danpemecahan masalah yang tidak nyata. Termasuk dalam jenis belajar inimisalnya, belajar metamtika, dan materi bidang studi agama sepertitauhid.2. Belajar keterampilan adalah belajar yang menggunakan gerakkangerakan motorik yakni yang berhubungan dengan urat-urat syaraf danotot-otot. Tujuannya untuk memperoleh dan menguasai keterampilantertentu.3. Belajar sosial adalah belajar memahami masalah-masalah dan teknikteknik untuk memecahkan masalah tersebut. Tujuannya untuukmenguasai pemahaman dan kecakapan dalam memecahkan masalahmasalah sosial seperti: masalah keluarga, masalah nyangbersifatkemasyarakatan.4. Belajar pemecahan masalah adalah belajar menggunakan metodemetode ilmiah atau berpikir secara sistematis, logis teratur, dann teliti.

21Tujuannya ialah untuuk memperoleh kemampuan dan kecakapankognitif untuk memecahkan masalah secara rasional, lugas, dan tuntas.5. Belajar kebiasaan adalah proses pembentukan kebiasaan-kebiasaanyang telah ada. Belajar kebiasaan selain menggunakan perintah suritauladan dan pengalaman khusus, juga menggunakan hukuman danganjaran.Tujuannyaagarsiswa memperoleh sikap-sikapdankebiasaan-kebiasaan perbuatan baru yang telah tepat dan positif dalamarti selaras dengan kebutuhan ruang dan waktu (kontekstual).6. Belajar apresiasi adalah belajar mempertimbangkan arti penting ataunilai suatu objek.7. Belajar pengetahuan (studi) adalah belajar dengan cara huantertentu.Tujuannya belajar pengatahuan adalah agar siswa memperoleh ataumenambah informasi dan pemahaman terhadap pengetahuan tertentuyang bisanya lebuh rumit dan memerlukan kiat khusus alat,laboratorium, dan penelitian lapangan.3. Faktor Yang Mempengaruhi BelajarSecara global, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kitabedakan menjadi tiga macam, yaitu:1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa) yakni: keadaan atau kondisijasmani dan rohani siswa.

222. Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni: kondisi lingkungandisekitar siswa.3. Faktor pendekatan (belajar approach to learning), jenis upaya belajarsiswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untukmelakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran.17C. Hakikat Mata Pembelajaran Matematika1. Pengertian MatematikaAbdul Aziz dan Abdusysyakin berpendapat, sebagaimana yang penuliskutip dari latar belakang dalam bukunya “Analisis Matematis Terhadap FilsafatAl-Qur’an”, mereka mengatakan:Matematika adalah salah satu ilmu pasti yang mengkaji abstraksi ruang,waktu dan angka. Matematika merumuskan gagasan-gagasan atau konsepkonsepnya kedalam bahasa lambang dan angka untuk mendeskripsikanrealitas alam semesta. Setelah itu dapatlah diikuti secara deduktif konsepnyadan menetapkan sebuah sistem pengukuran tertentu yang berkenaan denganangka-angka dan keruangannya, yang semuanya berguna dalam kehidupankita, dan dalam penelitian ilmu lainnya.18Di dalam Agama Islam, matematika telah digunakan sedemikian luas baikdalam hal ibadah maupun muamalah. Bahkan begitu pentingnya matematika,maka ada beberapa syari’at Islam yang tidak dapat dilaksanakan tanpamemanfaatkan ilmu matematika seperti ilmu falaq dan waris.19Sujono dalam Fathani mengemukakan beberapa pengertian matematika,diantaranya:17Muhibin syah, op cit, h. 145.18Abdul Aziz, Abdusysyakin, Analisis Matematis Terhadap Filsafat Al-Qur’an, (Malang:UIN-Malang, 2006), h. 5.19Yusran Fauzi, Keutamaan Mempelajari Matematika Dalam Perspektif Al-Qur’an,(Banjarmasin: Antasari Press, 2006), h. 8

23Matematika diartikan sebagai cabang ilmu pengetahuan yang eksak danterorganisasi secara sistematik. Selain itu, matematika merupakan ilmupengetahuan tentang penalaran yang logik dan masalah yang berhubungandengan bilang. Bahkan dia mengartikan matematika sebagai ilmu bantudalam menginterprestasikan ide dan kesimpulan.20Jannah mengartikan matematika sebagai “ilmu hitung atau ilmu tentangperhitungan angka-angka untuk menghitung berbagai benda ataupun lainnya”.21Sedangkan matematika dalam sudut pandangan Andi Hakim Nasution dalamFathani berpendapat bahwa “istilah matematika berasal dari kata Yunani, matheinatau manthenein yang berarti mempelajari. Kata ini memiliki hubungan yang eratdengan kata sansekerta, medha atau widya yang memiliki arti kepandaian,ketahuan atau intelegensia”.22Dalam bahasa Belanda, matematika disebut dengan kata wiskunde yangberarti ilmu tentang belajar (hal ini sesuai dengan arti kata mathein padamatematika). Menurut Johns dan Myklebust dalam Abdurrahman, matematikaadalah “bahasa simbol yang berfungsi praktisnya untuk mengekspresikanhubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedangkan fungsi teorotisnyaadalah untuk memudahkan berpikir”.232. Pembelajaran Matematika di SD/MIMenurut susanto pembelajaran matematika adalah:Suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru untukmengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan20Abdul Halim Fathani, Matematika Hakikat dan Logika, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2009), h. 1921Raodatul Jannah, Membuat Anak Cinta Matematika dan Eksak Lainnya, (Jogjakarta:Diva Press,2011), h. 1722Ibid, h. 2123Op. Cit, h. 252.

24kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuanmengkontruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaanyang baik terhadap materi matematika.24Ada banyak alasan tentang perlunya belajar matematika. Cornelius dalamAbdurrahman mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika,Karena matematika merupakan (1) Sarana berpikir yang jelas dan logis, (2)Sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari, (3) Saranamengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman, (4) Saranauntuk mengembangkan kreativitas dan (5) Sarana untuk meningkatkankesadaran terhadap perkembangan budaya.25Cockroft dalam abdurrahman mengemukakan bahwa matematika perludiajarkan kepada siswa bahwa:(1)Selalu digunakan dalam segala segi kehidupan; (2) Semua bidangstudi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai; (3) Merupakansarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; (4) Dapat digunakan untukmenyajikan informasi dalam berbagai cara; (5) Meningkatkan kemampuanberpikir logis, ketelitian dan kesadaran keruangan; dan (6) Memberikankepuasaan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.263. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Matematika di SD/MIMatematika berfungsi mengembangkan kemampuan berhitung, mengukur,menurunkan dan menggunakan rumus matematika sederhana yang diperlukaandalam kehidupan sehari-hari melalui materi bilangan, pengukuran, geometri, danpengolahan data. Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan24Ahmad Susanto, Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana,2013), h. 186.25Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: PTRineka Cipta, 2003), h. 253.26Ibid, h. 253

25mengkomunikasi gagasan dengan bahasa melalui model matematika yang dapatberupa kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik atau tabel.27Secara khusus, tujuan pembelajaran matematika di sekolah dasar,sebagaimana disajikan oleh Depdiknas dalam Susanto, sebagai berikut:(1)Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep, dan mengaplikasikan konsep atau logaritma; (2) Menggunakanpenalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalamgeneralisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pertanyaanmatematika; (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuanmemahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model,dan menafsirkan model yang diperoleh; (4) Mengkomunikasikan gagasandengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk menjelaskan keadaanatau masalah; dan (5) Memiliki sikap menghargai penggunaan matematikadalam kehidupan sehari-hari.28Tahap berpikir siswa SD merupakan karakteristik antara matematika dananak usia SD, matematika akan sulit dipahami oleh siswa tanpa memikirkantingkat pola berpikir anak. Menurut Suwangsih (2006: 15) dalam pembelajaranmatematika di SD, konsep matematika yang abstrak yang dianggap mudah dansederhana menurut kita yang cara berpikirnya sudah formal, dapat menjadi halyang sulit dimengerti oleh anak.Konsep pembelajaran matematika di SD yang telah dikemukakan di atas,sesuai dengan ciri-ciri pembelajaran matematika di SD sebagai berikut.a. Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral. Metode spiral inimelambangkan adanya keterkaitan antar materi satu dengan yang27Depertemen Agama RI, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Madrasah Ibtidaiyah,(Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 2004), h. 173.28h. 190Ahmad Susanto, Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah, (Jakarta: Kencana, 2013),

26lainnya. Topik sebelumnya dapat menjadi prasyarat untuk memahamitopik berikutnya atau sebaliknya.b. ripembelajaran matematika diajarkan secara bertahap yang dimulai darikonsep-konsep yang sederhana, menuju konsep yang lebih kompleks.c. Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif, sedangkanmatematika merupakan ilmu deduktif. Namun, karena sesuai tahapperkembangan siswa maka pembelajaran matematika di SD digunakanpendekatan induktif.d. Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi.e. Pembelajaran matematika hendaknya bermakna. Konsep matematikatidak diberikan dalam bentuk jadi, tetapi sebaliknya siswalah yang harusmengonstruksi konsep tersebut. (Suwangsih, 2006: 25 – 26).Jadi peneliti menyimpulkan bahwa pembelajaran matematika di SDhendaknya merujuk pada tahap pola berpikir anak agar konsep-konsep yangabstrak mudah dipahami.D. Hasil Penelitian yang RelevanHasil penelitian yang relevan dengan penelitian tindakan kelas dalamskripsi ini sebagai berikut.1. Masniati(2013) dalam skiripsinya berjudul“Penerapan ModelPembelajarann Kooperatif Tipe STAD (Student Teams AchievementDivision) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran

27IPS Di Kelas V SDN 2 Tonggoni Kec. Pomalaa Kab. Kolaka,membuktikan bahwa penerapan model Kooperatif STAD.2. Meilan Masuna (2015) dalam skripsinya yang berjudul “MeningkatkanKemampuan Siswa Dalam Menulis Karangan Sederhana Melalui Modelkooperatif tipe STAD Di Kelas IV SDN 22 Limboto Kab. Gorontalo ”,Hasil penelitian menunjukan bahwa mengalami peningkatan dari setiapsiklusnya.E. Kerangka PikirKerangka berpikir penelitian adalah kerangka yang mendasari operasionalpenelitian yang merupakan sejumlah asumsi-asumsi, konsep-konsep, asehinggadapatmengarahkan alur pikir dalam pelaksanaan penelitian.Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti, menghasilkan data faktayang mendasari dilakukannya penelitian ini yaitu beberapa masalah yang timbuldalam proses pembelajaran, antara lain yaitu pada saat pembelajaran berlangsung,guru aktif dan siswa pasif, ini terlihat dari kurangnya partisipasi siswa untukbertanya dan mengemukakan pendapat, proses pembelajaran yang kurang variatifsehingga membuat siswa merasa bosan, kurang menarik, dan kurang melibatkansiswa dalam proses pembelajaran, guru kurang berupaya melibatkan siswa dalamproses pembelajaran, baik ketika penanaman konsep, maupun penugasan.Secara teoritik, penulis memandang bahwa problematika pendidikan yangada saat ini menjadikan tuntutan bagi pendidik untuk senantiasa aktifmengembangkan kemampuannya guna mengatasi masalah tersebut.

28Penugasan hanya menggunakan sumber buku pegangan siswa tanpamenggunakan buku lainnya yang relevan sehingga pengetahuan siswa hanyasebatas buku pegangan siswa. Sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajarmatematika yang dibuktikan dengan persentase siswa yang tuntas mencapaiKKM.Model pembelajaran kooperatif kini diharapkan dan ditawarkan adalahmodel pembelajaran kooperatif yang mampu mendokrak delematis yang menjadiproblem pendidik, hal ini mulai terus digagas oleh praktisi pendidik sehinggamunculah model-model pembelajaran kooperatif yang memfokuskan siswasebagai subyek belajar dengan presentase keaktifan siswa yang luar biasa,termasuk yang dimaksud para praktisi pendidikan adalah model pembelajarankooperatif tipe STAD yakni pendekatan pembelajaran yang mengutamakankesiapan siswa dan adanya kerja sama antar siswa dalam kelompok untukmencapai tujuan pembelajaran.STAD merupakan metode yang paling baik untuk permulaan bagi guruyang baru menggunakan pendekatan kooperatif. STAD membagi para siswa dalamtim belajar yang terdiri atas empat orang yang berbeda-beda tingkat kemampuan,jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, lalusiswa bekerja sama dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggotatim telah menguasaai pelajaran. Selanjutnya, semua siswa mengerjakan kuismengenai materi secara individu, di mana saat itu mereka tidak diperbolehkanuntuk saling bantu. Skor kuis para siswa di berikan poin berdasarkan tingkatkemajuan yang di raih siswa dibandingkan hasil yang mereka capai sebelumnya.

29poin ini kemudian di jumlahkan untuk memperoleh skor tim, dan tim yangberhasil memenuhi kriteria tertentu akan mendapatkan hadiah atau penghargaanlainnya.Gambar 3.1Kerangka PikirKegiatan AwalKegiatan IntiKegiatan Akhirpada saat pembelajaran berlangsung, guruaktif dan siswa pasif, ini terlihat darikurangnya partisipasi siswa untuk bertanyadan mengemukakan pendapat, prosespembelajaran yang kurang variatif sehinggamembuat siswa merasa bosan, kurangmenarik, dan kurang melibatkan siswadalam proses pembelajaran, guru kurangberupaya melibatkan siswa dalam prosespembelajaran, baik ketika penanamankonsep, maupun penugasan.Menerapkan Metode STADpada saat pembelajaran berlangsung, guruaktif dan siswa aktif, ini terlihat daripartisipasi siswa untuk bertanya danmengemukakanpendapat,prosespembelajaran yang variatif sehinggamembuat siswa merasa senag, menarik, danmelibatkansiswadalamprosespembelajaran, guru berupaya melibatkansiswa dalam proses pembelajaran, baikketikapenanamankonsep,maupunpenugasan.

30F. Hipotesis Tindakan.Berdasarkan landasan teori di atas dapat dirumuskan hipotesis penelitiantindakan kelas ini adalah ”Apabila dalam proses pembelajaran Matematikamenerapkan model Cooperative Learning tipe STAD dengan langkah-langkahyang tepat, maka dapat meningkatkan hasil belajar Matematika pada materipecahan siswa kelas V SDN 1 Wakorumba Selatan Tahun Pelajaran 2018/2019”.

STAD adalah jika siswa tidak memahami tujuan model STAD maka akan merasa terhambat belajarnya karena harus melakukan scafolding kepada siswa lain, serta tujuan pembelajaran tidak tercapai karena siswa saling membelajarkan dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk membangun iklim kerja sama dalam .