Transcription

Evaluasi Mutu Benih danKesehatan Benih Tingkat Petani diLahan Rawa Sumatera SelatanHalaman 317-325EVALUASI MUTU BENIH DAN KESEHATAN BENIH TINGKAT PETANIDI LAHAN RAWA SUMATERA SELATANMira Landep Widiastuti1*, Bambang Nuryanto1, Ni Luh Putu Sri Ratmini2 , Waluyo212Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Jl. Raya 9 Sukamandi, Subang 41256Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan, Jln. Kol. H. Barlian Km 6Palembang, Sumatera Selatan*Penulis untuk korespondensi: [email protected] seed is one of the leading technology in increasing productivity inmarginal land, especially swamp land in South Sumatera Province. Evaluation ofSeed Quality and Seeds Health in Swamp Land of South Sumatera wasconducted in April-July 2015 aimed at (a) obtaining information on varieties, seedsources, pests and diseases, production methods and seed storage, (b)evaluating viability and seed health used by farmers. In the data collectionconducted survey to 60 respondents farmers use questionnaires and collectsamples of seeds owned by farmers. And test viability and seed health in ICRRLaboratory.Survey shows that 30% of farmers have attended seed training. The samefarmers have been able to apply improved production techniques and seedmanagement. Among them save the seeds in plastic, provide a base andtraditional air screen cleaned, but rouging only do before harvesting. So thequality of the seeds showed low viability, especially local rice seed, Pegagan fromPamulutan and Vietnam seed from Tanjung Lago is 70%. Another contributingfactor is the drying aspect. Most farmers keep seeds on moisture content above13% in dirty conditions without any treatment. So the percentage of seedsinfected by pathogens is more than 54%.Keywords: pathogens, rouging, storage, survey, viabilityABSTRAKBenih bermutu merupakan salah satu teknologi andalan dalammeningkatkan produktifitas di lahan marginal, khususnya lahan rawa di PropinsiSumatera Selatan. Penelitian Evaluasi Mutu Benih dan Kesehatan Benih di LahanRawa Sumatera Selatan telah dilakukan pada bulan April–Juli 2015 yangbertujuan untuk: (a) mendapatkan informasi varietas, sumber benih, hama danpenyakit, cara produksi serta penyimpanan benih, (b) mengevaluasi viabilitasserta kesehatan benih yang digunakan oleh petani. Dalam pengumpulan datadilakukan survey kepada 60 responden petani menggunakan kuisioner danmengumpulkan sampel benih yang dimiliki oleh petani untuk dilakukan ujiviabilitas dan kesehatan benih di Laboratorium BB Padi.Survey menunjukkan bahwa 30% petani pernah mengikuti pelatihanperbenihan. Petani yang sama telah mampu mengaplikasikan teknik produksi danpengelolaan benih yang lebih baik. Di antaranya melakukan penapihan denganmengangin-anginkan benih, mengeringkan dan menyimpan dalam plastik, danmemberikan alas simpan. Roguing hanya dilakukan sekali dipertanaman,Prosiding Seminar Nasional PERIPI 2017 317Bogor, 3 Oktober 2017

Evaluasi Mutu Benih danKesehatan Benih Tingkat Petani diLahan Rawa Sumatera SelatanHalaman 317-325sehingga mutu benihnya rendah, terutama terutama benih padi lokal Pegagandari Pamulutan dan benih Vietnam dari Tanjung Lago yaitu viabilitasnya 70%.Faktor penyebab lainnya yaitu aspek penyimpanan benih dalam kondisi kotortanpa perlakuan apapun. Sehingga persentase benih terinfeksi patogen lebih dari54%.Kata kunci: patogen, penyimpanan, rouging, survey, viabilitasPENDAHULUANPenerapan teknologi budidaya padi khususnya pada lahan marginalmerupakan upaya dalam menggali potensi sumber daya alam sehingga mampumengatasi permasalahan yang ada untuk meningkatkan produksi danpendapatan petani. Rendahnya produktivitas pertanian menunjukkan bahwapeluang pengembangan usaha tani di lahan rawa masih besar denganmenerapkan teknologi yang tepat. Permasalahan utama dalam memanfaatkanlahan rawa untuk pertanian menurut Tim Sintesis Kebijakan, Balai BesarPenelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Kementan adalahbagaimana mengelola dan mempertahankan produktivitas tanaman yangdibudidayakan (Tim Sintesis Kebijakan, 2008). Hal ini terkait dengan karakteristiklahan rawa yang tidak subur yang dicirikan oleh rendahnya pH tanah, bahanorganik rendah kekurangan unsur makro NPK dan unsur mikro Cu, Zn, sertakeracunan Al, Fe dan Sulfat. Oleh sebab itu, upaya penerapan teknologi secaraspesifik lokasi agar dapat meningkatkan produktivitas padi.Kontribusi benih dalam upaya peningkatan produktivitas padi yaitu sekitar56% dalam peningkatan produksi beras nasional (BB Padi, 2007). Inovasiteknologi yang paling menonjol untuk meningkatkan hasil padi adalahpenggunaan varietas unggul yang didukung dengan teknologi budidaya secaraspesifik. Peran benih varietas unggul bila dikombinasikan dengan penggunaanpupuk dan irigasi yang baik mampu memberi kontribusi dalam peningkatan hasilpadi sampai 75%. Peran komponen benih bermutu ini akan maksimal jikadidukung oleh sistem budidaya, pengendalian hama dan penyakit, teknikproduksi dan pengolahan serta penyimpanan benihnya.Namun yang dilakukan petani dalam mencapai produktivitas yang lebihtinggi, petani menggunakan pengetahuan mereka sendiri dalam budidaya,pengendalian hama dan penyakit serta mengidentifikasi tanaman yang palingmenguntungkan dengan kondisi lapangan mereka. Begitupula produksi,pengolahan (jika memproduksi sendiri) dan penyimpanan benihnya. Khususnyadi lingkungan lahan marjinal petani mengandalkan pertukaran benih antar petanidan penilaian secara visual tentang varietas yang dikembangkan oleh petani.Sebagian besar petani tidak memiliki akses terhadap informasi terkini varietasunggul baru (VUB) padi dan umumnya tidak berkonsultasi terhadap varietasspesifik lokasi yang sedang dikembangkan. Dan pada awal tahun 1980-an, parailmuwan sudah menggarisbawahi pentingnya on-farm diagnostic dan penelitianterapan oleh tim interdisipliner, yang menempatkan petani pada semua tahapproses pemecahan masalah pedesaan (Rhoades & Booth, 1982).Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah, menggunakanpendekatan partisipatif kepada petani, untuk (a) mengetahui informasi varietas,sumber benih, hama dan penyakit tanaman, hasil panen, dan cara produksiserta penyimpanan benih padi rawa yang digunakan oleh petani. (b)318 Prosiding Seminar Nasional PERIPI 2017Bogor, 3 Oktober 2017

Evaluasi Mutu Benih danKesehatan Benih Tingkat Petani diLahan Rawa Sumatera SelatanHalaman 317-325mengevaluasi mutu benih (fisik dan fisiologis) serta kesehatan benih padi rawayang digunakan oleh petani.BAHAN DAN METODESurveyTahap awal telah dilakukan survei ke petani padi di lahan rawa (hasilpenentuan wilayah pada tahap 1) untuk mendapatkan informasi mengenaivarietas yang ditanam, sumber benih yang digunakan, OPT, produksi, sertateknik produksi dan pengelolaan (pengolahan dan penyimpanan) benih (apabilapetani memproduksi benih sendiri). Sebagai alat bantu digunakan kuisioner.Petani yang dijadikan responden masing-masing kecamatan sebanyak 60responden antara lain: 1) petani yang menanam padi lokal dengan sumber benihyang dihasilkan sendiri; 2) Petani yang menanam padi VUB dengan sumberbenih yang dihasilkan sendiri; 3) Petani yang menanam padi VUB dengan sumberbenih dari kios/ dari UPBS BB Padi.Pengujian Mutu Benih dan PenanamanBenih yang diperoleh dari penyimpanan petani akan digunakan sebagaisumber benih dan pengujian di laboratorium Mutu Benih BB Padi. Meliputi 1)Mutu fisik benih meliputi: kadar air, kemurnian dan bobot 1000 butir, 2) Mutufisiologis benih (daya berkecambah, vigor AAT, panjang akar, panjang batangdan berat kering kecambah), 3) Pengujian kesehatan benih (prosentasecendawan terbawa benih dan cendawan terbawa gudang).Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang disusun dengan 3ulangan. Evaluasi mutu benih padi mengikuti International Seed Testing Analysis(ISTA, 2014). Statistik deskriptif dan perbandingan sederhana rata-rata yangdisediakan dasar untuk analisis data. Untuk data kuantitatif akan di analisadengan software statistic SAS versi 9.0.HASIL DAN PEMBAHASANPra SurveyPra-survey (pengamatan lapang) dan diskusi dengan beberapa peneliti,penyuluh dan teknisi lapang BPTP Sumsel, menunjukkan bahwa secara umumlahan rawa di Sumatera Selatan terdapat dua jenis yaitu pasang surut dan lebak(lebak dangkal, lebak sedang, dan lebak dalam). Dilahan pasang surut kondisilahan pertanian 50% hampir sama dengan kondisi irigasi namun berbeda kondisiair yang terkadang banjir pada saat pasang dan kering pada saat surut. Panenpadi terjadi sebanyak dua kali. Hal ini seiring dengan klasifikasi yang dilakukanoleh Direktorat Rawa 1992 yaitu ekosistem rawa lebak dibagi dalam 3 kategori,yaitu 1) lahan rawa lebak dangkal atau lahan pematang; 2) lahan rawa lebaktengahan dan 3) lahan rawa lebak dalam dicirikan kedalaman genangan air lebihdari 100 cm dengan lama genangan lebih dari 6 bulan.Penggunakan varietas unggul relatif sudah banyak dilakukan masyarakatnamun pengelolaan sumber benih yang masih perlu dikaji secara mendalam. Dirawa lebak, kondisi genangan air tidak menentu, penanaman padi dilakukantidak serempak, begitu pula panennya. Sebagian besar petani menanam padisekali dalam setahun pada musim kemarau, untuk menghindari genangan airyang dalam di musim hujan. Pada umumnya petani masih menanam padi lokalProsiding Seminar Nasional PERIPI 2017 319Bogor, 3 Oktober 2017

Evaluasi Mutu Benih danKesehatan Benih Tingkat Petani diLahan Rawa Sumatera SelatanHalaman 317-325karena padi lokal tahan genangan air, tahan terhadap serangan hama danpenyakit, meskipun tekstur nasinya pera.Survey dan Pengumpulan DataSurvey dilakukan di Desa Mulyasari dan Telang Sari, Kecamatan TanjungLago Kabupaten Banyuasin untuk daerah rawa pasang surut. Sedangkan DaerahRawa Lebak dilakukan Survey Ke Desa Pamulutan Ulu, Teluk Kecapi danbeberapa desa di Kecamatan Pemulutan, Desa Ilir, Desa Tanjung Serian,Kecamatan Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komeriling Ilir untuk wilayah rawalebak (Gambar 1).Survey di Kec.Survey di Kec.Survey di Kec.Survey di Kec.Tanjung LagoTelang SariPamulutanKayu AgungGambar 1. Kegiatan Survey di Lahan Rawa Sumatera SelatanHasil survey menunjukkan sebagian besar petani di rawa lebak lebihbanyak sebagai penyewa dibandingkan sebagai pemilik (Tabel 1). Berbedadengan petani di daerah rawa dangkal maupun pasang surut yang cenderungpetani pemilik. Dan petani Pemulutan persentase petani yang sudahmendapatkan teknik produksi benih sederhana lebih banyak dibandingkan petanilainnya. Di Pamulutan petani cenderung menanam benih yang diproduksi sendiriyaitu varietas lokal Pegagan, dan hanya beberapa varietas unggul baru yangsudah banyak ditanam oleh petani dirawa lebak maupun rawa pasang surut.Kelas benih yang digunakan tidak lebih dari kelas benih ES (Ekstension Seed).Hal ini seiring dengan hasil penelitian Manikmas 20013 bahwa petani padi dilahan rawa lebak cenderung menggunakan benih yang diproduksi sendiri danmasih sering menggunakan varietas padi sawah karena bibit padinya mudahdiperoleh. Namun Petani di rawa pasang surut Telang Sari, meskipun hanyasekitar 10% yang pernah mengikuti pelatihan produksi benih, tetapi penggunaanbenih bermutu dan bersertifikat cukup banyak yaitu sekitar 90% dari petani yangdisurvey menggunakan benih minimal benih ES.Proses teknologi sederhana lain yang masih digunakan adalah teknologibudidaya pengelolaan manajemen agronomi dilapang, teknologi pasca panen danpenyimpanan benihnya. Sistem tanam yang sebelumnya menggunakan sistemtebar langsung tidak efektif karena menggunakan pemborosan penggunaanbenih bermutu, kesulitan dalam pemeliharaan apalagi kegiatan roguing/seleksi.Selanjutnya tahap pemeliharaan tanaman dari serangan hama tikus biasanyamenggunakan aliran listrik sangat berbabahaya. Ditambah pada saat lahanbasah, petani tidak dapat memastikan bahwa tanaman cukup air atau tidak. Danpada saat tahap prosessing dan pengelolaan pasca panen masih sangat perludiarahkan agar benih yang dihasilkan lebih bermutu, karena benih hasilpenggebotan, kemudian dikeringkan sampai kadar air yang tidak diperhatikan320 Prosiding Seminar Nasional PERIPI 2017Bogor, 3 Oktober 2017

Evaluasi Mutu Benih danKesehatan Benih Tingkat Petani diLahan Rawa Sumatera SelatanHalaman 317-325dan penyimpanan dalam kemasan yang masih memungkinkan udara masukkedalam kemasan benih yang mengakibatkan benih akan menurun mutunyadalam waktu yang relatif singkat. Dan di khawatirkan viabilitas benihnya tidakakan sampai pada musim tanam berikutnya.Tabel 1. Keragaman kondisi responden petani padi rawa berdasarkan tipe sawahyang berbedaAsal/TipesawahPamulutan/RawaLebakUmur50% 45th, 40thKayuAgung/RawaLebakTanjungLago/RawaDangkal30% 45th,70% 40thTelangSari/RawaPasangSurut20% 45th,80% 40th50% 45th, atihanVarietas yangditanamCiherang,Mekongga, SBagendit,IR42, Ketan,PegaganCihrang, IR42,Inpari10,Inpari1,Inpari 6Ciherang,IR64, Bestari,Inpara2,Cigobo,SBagendit,IR42, Towuti,Vietnam,IRMlanggasCiherang,Mekongga, SBagendit,Cibogo,Towuti,Inpari1Kelasbenih50% ES,50% NK30% ES,70% NK50% ES,50% NK90% ES,10% NKTabel 2 menunjukkan bahwa petani di Pamulutan yang terlatih dandaerah Tanjung Lago yang belum terlatih, dalam memproduksi benih cukupberagam frekuensi melakukan seleksi/roguing, yaitu 1, 2, 3 dan 4 kaliseleksi/roguing. Bahkan di daerah Telang Sari, sekitar 30% petani yang disurveytidak melakukan seleksi benih dilapangan, hanya menyisihkan gabah panennyauntuk ditanam dimusim berikutnya. Demikian pula teknik pengeringan,pensortiran, pengemasan dan penyimpanannya masih beragam. Beberapateknologi yang sudah di adopsi petani di lahan rawa tersebut yaitu sepertipenapihan/pensortiran menggunakan Air Screen Cleaner (ASC) sederhana telahdilakukan di daerah Pamulutan namun frekuensi penggunaannya relatif kecil. Didaerah lain sebagian menggunakan tampih dengan angin. Teknologi lainbeberapa sudah menerapkan penggunaan IRRI Super Bag untuk pengemasan,penggunaan gudang dan pemberian alas untuk penyimpanan serta waktu simpanyang relatif optimal untuk penyimpanan minimal satu musim berikutnya.Prosiding Seminar Nasional PERIPI 2017 321Bogor, 3 Oktober 2017

Evaluasi Mutu Benih danKesehatan Benih Tingkat Petani diLahan Rawa Sumatera SelatanHalaman 317-325Tabel 2. Evaluasi Panen dan Penanganan BenihLokasiCara SeleksipanenPamulutan Panen 3 & 4, Rawagabah kalilebak(20%),1&2kali(30%)KayuPanen 10%Agung,gabah geringanPenyimpanKantong Ruang Alas20%: 0.5 hari 20% ASC 35%20%50%80%: 1 harisederhana, goni,gudang kayu30% angin 65%, 80% 50%50% tidak plastikkamar tanpaalas5% : 1 jam20% : 8jam40% : 10 jam30% : 12 jam5% : 14 jam50% 1 hari40% 2 hari10% 3 hariPanen 10% 3gabah kali,20% 2kali,70% 1kali saatpanenTelangsari, Panen 70% 180% 3 hari,Rawagabah kali,20% 0% tampi 30%karungplastik50%20% IRRIkipas,super25%bag, 25%angin,goni,25% tidak 50%karungplastik50% tidak 10%goni,dan90% krgditapihplastikLama20% 1-2bulan,30% 5-6bulan,50% 6-7bulan100% 100% 50% 5-6dapur kayu bulan,50% 6-7bulan25%10%gudang tanpa, 20% , 90%dapur, dialas5%ruangan100% 80%dapur kayu,20%tidak25% 6-7bulan,75% 4-5bulan100% 34 bulanPenerapan teknologi di dalam penerapannya, teknologi akan berhadapandengan faktor budaya, perilaku, dan nilai-nilai di masyarakat. Herdikiagung 1992dalam penelitiannya menyatakan hal serupa, bahwa tidak akan lepas dari latarbelakang sosiokultur, tingkat pendidikan dan resistensi terhadap perubahan yangberlainan akan menimbulkan persepsi yang berlainan pula terhadap penerapanteknologi di masyarakat. Reaksi yang timbul dapat berupa penerimaan ataupenolakan terhadap teknologi, disamping itu dampak ekologi yangditimbulkannya. Secara tradisional petani sangat sulit menerima introduksiberbagai hal baru, demikian juga dalam mengintroduksi komoditas usahatanibaru. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk meyakinkan petani agar maumenerima dan menerapkan teknik budidaya di lahan rawa lebak. Kebun contohberfungsi sebagai sarana penyuluhan dan demonstrasi budidaya, kemudiandilakukan pembinaan agribisnis dengan memberikan bantuan teknik dan saranaproduksi berupa bibit dan sarana produksi lainnya yang besarnya disesuaikandengan kepemilikan lahan petani.Pengujian Mutu BenihTabel 3 menunjukkan bahwa mutu fisik benih dari petani respondenmeliputi persentase kadar air benih, dan kemurnian yang dihasilkan penangkarbenih di daerah rawa tersebut tidak memenuhi standar yang dipersyaratkan olehKepmentan No 355/HK.130/C/05/2015 yaitu kadar air maksimum 13% dankemurnian benih minimum 98%. Namun mutu benih secara fisiologis sepertipada tolok ukur daya berkecambah dan vigor masih dalam batas minimum yangdipersyaratkan kecuali benih Inpara 6 dan IR 42 Vietnam yang diperoleh dariPamulutan, daerah rawa pasang surut. IR 42 merupakan salah satu varietasyang diamati oleh Wayan (2005) yang menyatakan bahwa padi merupakan322 Prosiding Seminar Nasional PERIPI 2017Bogor, 3 Oktober 2017

Evaluasi Mutu Benih danKesehatan Benih Tingkat Petani diLahan Rawa Sumatera SelatanHalaman 317-325komoditas dominan yang diusahakan di lahan lebak dengan varietas padi yangberadaptasi bagus dengan produksi cukup tinggi adalah IR42, Kapuas,Lematang, Cisanggarung dan Cisadane, dengan tingkat hasil 4-5 ton ha-1.Tabel 3. Mutu fisik benih hasil surveyPersentase (%)KAKM10001Inpari 6, KontrolSS, BB Padi13.09726.742Inpari 22, KontrolSS, BB Padi12.79925.303Inpari 30 Chrg Sub-1, KontrolSS, BB Padi12.89824.304Ciherang JumboTanjung lago13.1* 80*25.705TWTanjung Lago14.4* 75*27.216CibogoTanjung lago13.2* 84*28.907Inpari 30Telang Sari14.3* 70*26.948Inpara 6Telang Sari14.4* 70*26.319Inpari 10Telang Sari14.3* 69*8.5010 IR 42 VietnamPamulutan15.5* 60*24.8511 PegaganPamulutan18.6* 50*24.70Keterangan: KA Kadar Air, KM Kemurnian, 1000 Bobot 1000 butir, * menunjukkan nilai kadar air dan kemurnian benihnya melebihi standar mutubenih menurut Kepmentan. 2015. No 355/HK.130/C/05/2015NoVarietas/ nama daerahAsal (kelas benih, lokasi)Tabel 4. Mutu fisiologis benih hasil surveyNo.123Varietas/Nama DaerahAsal (kelasbenih, lokasi)Persentase (%)DBVPj. BtgPj. AkarBbt.Bbt.BtgAkar0.19 d 0.07 c0.61 a 0.16 b0.58 ab 0.18 bInpari 6, KontrolSS, BB Padi95949.15 bc 8.41 abInpari 22, KontrolSS, BB Padi9794 11.50 b 7.75 cInpari 30 Ciherang Sub-1, SS, BB Padi9796 11.25 b 8.00 bKontrol4 Ciherang JumboTanjung lago 95939.80 bc 8.30 ab 0.50 b 0.20 a5 TWTanjung Lago 8983 10.20 b 9.74 a0.37 c 0.11 bc6 CibogoTanjung lago 9490 10.16 b 8.54 ab 0.48 b 0.20 a7 Inpari 30Telang Sari8579* 8.78 bc 8.05 b0.42 b 0.16 b8 Inpara 6Telang Sari8984 11.30 b 8.95 ab 0.45 b 0.16 b9 Inpari 10Telang Sari8579* 8.50 c8.83 ab 0.42 bc 0.08 bc10 IR 42 VietnamPamulutan70*68* 9.30 bc 9.20 a0.29 c 0.06 c11 PegaganPamulutan20*70* 14.95 a 8.25 ab 0.17 d 0.04 cKeterangan: Pj Btg Panjang Batang, Pj. Akar Panjang Akar, Bbt Btg Bobot Batang, Bbt 100btr Bobot 1000 butir, DB Daya Berkecambah, V Vigor. Angka yang diikuti hurufyang sama pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5%. * menunjukkan nilai daya berkecambah dan vigor benihnya melebihi standar mutu benihmenurut Kepmentan. 2015. No 355/HK.130/C/05/2015Sedangkan vigor benih tidak masuk dalam persyaratan mutu benih, hanyamenunjukkan kemampuan benih untuk tumbuh dalam kondisi yang optimum.Tabel 4 menunjukkan sebagain besar sampel benih memiliki vigor yang tinggi,kecuali benih yang di peroleh dari daerah rawa lebak (benih IR42 Vietnam danPegagan) dan dari rawa pasang surut Telang Sari (Inpari 30 dan Inpari 10).Panjang Batang, Panjang Akar, Bobot Batang dan Bobot Akar beragam padamasing-masing perlakuan sumber benih.Prosiding Seminar Nasional PERIPI 2017 323Bogor, 3 Oktober 2017

Evaluasi Mutu Benih danKesehatan Benih Tingkat Petani diLahan Rawa Sumatera SelatanHalaman 317-325Pengujian Kesehatan BenihMutu patologis benih yang diperoleh dari hasil survey diidentifikasikeberadaan pathogen dalam benihnya. Pengamatan terhadap persentasekeberadaan Fusarium, Helmintosporangium, Alternaria, Culvularia, Pyrikularia,Aspergilus, dan Bakteri. Persentase keberadaannya terhadap benih sehat. Tabel5 menunjukkan bahwa keberadaan pathogen terdapat pada semua benihtermasuk benih yang diproduksi oleh UPBS BB Padi, namun dengan persentaseyang lebih sedikit dibandingkan benih yang diperoleh dari petani. Hampir semuapathogen ditemukan dalam pengujian, kecuali Pyricularia yang tidak ditemukandalam benih manapun. Intensitas benih yang terinfeksi patogen beragam dari51%-87%. Benih yang diperoleh dari Telang sari relatif tinggi terinfeksi olehpathogen. Salah satu penyebabnya adalah pengolahan tanah yang tidaksempuna. Khadijah et al. (2012) menyatakan apabila tanah tidak diolah ataudiolah secara minimum akan mengakibatkan terakumulasinya bahan organik danunsur hara di permukaan tanah.Tabel 5. Mutu Patologis Benih Hasil SurveyNo.Sampel (Namabenih)Asal (kelas,lokasi)Persentase (%)FrHAltCulPyr As Bakteri SehatTerinfeksipathogen(%)53.053.060.01 Inpari 6SS, BB Padi26.7 9.0 6.0 10.0 - 2.00.347.02 Inpari 22SS, BB Padi30.0 12.0- 11.0 - 1.01.047.03 Inpari 30 CihrgSS, BB Padi44.3 0.7 8.3 5.7- 1.71.040.0Sub-14 Ciherang Jumbo Tanjung lago 52.01.047.053.05 TWTanjung lago 51.01.048.751.06 CibogoTanjung lago 49.01.048.751.07 Inpari 30Telang Sari55.32.0 0.31.341.059.08 Inpara 6Telang Sari60.35.7 7.02.726.374.09 Inpari 10Telang Sari59.0 26.3 4.0 1.36.013.087.010 IR42 VietnamPamulutan60.35.7 7.02.726.374.011 PegaganPamulutan62.0 3.3 12.3 3.0 0.3 0.73.021.778.0Keterangan: FR Furicularia, H Helmintosporium, ALT Alternaria, CUL : Culvularia, PYR :Pyricularia, AS AspergilusKESIMPULANMutu benih yang diperoleh pada lahan rawa Sumatera Selatan pada saatsurvey sebagian besar sudah mengalami kemunduran benih. Sebagian kecilpetani responden telah mengalipkasikan prinsip-prinsip teknologi benih secarasederhana, bahkan beberapa benih memenuhi standar mutu benih yang dipersyaratkan untuk label biru. Mutu kesehatan benih padi di petani rawa cukuprendah yaitu dengan keberadaan Patogen Fusarium, beberapa helmintosporium,dan alternaria yang menyebabkan Hawar daun Bakteri.DAFTAR PUSTAKA[BB Padi] Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2007. Penelitian Padi MendukungUpaya Peningkatan Produksi Beras Nasional. Balai Besar PenelitianTanaman Padi. Badan Litbang Pertanian. Jakarta.324 Prosiding Seminar Nasional PERIPI 2017Bogor, 3 Oktober 2017

Evaluasi Mutu Benih danKesehatan Benih Tingkat Petani diLahan Rawa Sumatera SelatanHalaman 317-325Direktorat Rawa. 1992. Kebijaksanaan Departemen Pekerjaan Umum dalamRangka Pengembangan Daerah rawa. Jakarta.[ISTA] International Seed Testing Asiciation. 2014. International Rules for SeedTesting. International Seed Testing Asiciation. Switserland.Kepmentan. 2015. No 355/HK.130/C/05/2015. Pedoman Teknis Sertifikasi BenihBina Tanaman Pangan. Jakarta.Khodijah, S. Herlinda, C. Irsan, Y. Pujiastuti, R. Thalib. 2012. Artropoda Predatorpenghuni ekosistem persawahan lebak dan pasang surut Sumatera Selatan.Jurnal Lahan Suboptimal. ISSN2252-6188. 1(1):57-63.Manikmas, M.O.A. 2013. Farmers willingness to accept (WTA) for submergencerice varieties at flash flood and flood prone affected rice area. IJAS. 13(2).Rhoades, R.E., R.H. Booth. 1982. Farmer-back-to-farmer: a model for generatingacceptable agricultural technology. Agric. Admin. 11:127–137Sudaryanto, D. 2009. Peningkatan produksi padi di lahan lebak sebagai alternatifdalam pengembangan lahan pertanian ke luar pulau Jawa. Pusat TeknologiProduksi Pertanian–Tab Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi.Jurnal Sains Dan Teknologi Indonesia. 11(1):64-69.Tim Sintesis Kebijakan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan SumberdayaLahan Pertanian; Kementan. 2008. Pemanfaatan dan konservasi ekosistemlahan rawa gambut di Kalimantan. Pengembangan Inovasi Pertanian.1(2):149–156.Sudana, W. 2005. Analisis kebijakan pertanian. 3(2):141-151.Prosiding Seminar Nasional PERIPI 2017 325Bogor, 3 Oktober 2017

1Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Jl. Raya 9 Sukamandi, Subang 41256 2Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan, Jln. Kol. H. Barlian Km 6 . Teluk Kecapi dan beberapa desa di Kecamatan Pemulutan, Desa Ilir, Desa Tanjung Serian, Kecamatan Kayu Agung, Kabupaten Ogan Komeriling Ilir untuk wilayah rawa .