Transcription

BAB IILANDASAN TEORIA. Kajian Tentang Moderasi1. Pengertian moderasiSecara bahasa moderasi berasal dari bahasa inggris moderation yangmemiliki arti sikap sedang, sikap tidak berlebih-lebihan.1 Dalam Mu’jamMaqayis, Ibnu Faris menyampaikan yang dimaksud dengan wasatiyah itumerupakan susuatu yang menunjukan pada keadilan dan tengah-tengah.2Pakar bahasa Raghib Al-Asfahani mengatakan wasatiyah yang berasal darikata wasat yakni sesuatu yang berada di antara dua ekstrimitas, sementarayang berasal dari awsat memiliki arti titik tengah.3Kata moderisasi berasal dari bahasa latin moderatio yang berarti kesedangan (tidak berlebih dan kekurangan). Moderasi beragama adalah adildan berimbang dalam memandang, menyikapi, dan mempraktikan semuakonsep yang berpasangan, dalam KBBI kata adil diarikan (1) tidak beratsebelah atau tidak memihak, (2) berpihak kepada kebenaran, dan (3)sepatutnya atau tidak sewenang wenang.4Di dalam bukunya The Middle Path of Moderation in Islam (OxfrordUniversity Press, 2015) Mohamad Hasyim Kamali memberi penegasanbahwa moderate dalam bahasa arab “wasathiyah” tidak terlepas dari kata1John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia: An English-IndonesianDictionary (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2009) Cet. 29, 384.2Ahmad Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis al-Lughah (Beirut: Dar al-Fikr, 1979),1083Raghib al-Asfahani, Mufradat al-Faz al-Qur’an. tahq. Safwan ‘Adnan Da wuri (ttp: tp,tt), 879.4Kementrian Agama RI, Moderasi Beragama (Jakarta : Badan Litbang dan Diklat kementrianagama RI, 2019).15-19.13

14kunci berimbang (balance) dan adil (justice). Menurut MohammadHashim Kamali, keseimbangan (balance) dan berlaku adil (justice)merupakan prinsip dasar dari moderasi dalam beragama. Seseorang yangberagama tidak boleh memiliki pandangan yang ekstrem bahkan radikaldengan hanya melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang saja melainkanharus bisa mencari titik tengah dari dua sudut pandang tersebut, dengan itusebagai hubungan antar umat beragama akan tercipta hubungan yangharmonis dan nyaman.5Moderat sendiri bukan berarti sikap atau prilaku mengajak untukmengkompromikan sebuah prinsip-prisip pokok amalan ibadah setiapagama yang sudah menjadi keyakinan, namun moderat adalah sebauh sikaptoleran kepada umat agama lain dalam hubungan sebagia manusia, laluImam Shamsi Ali memberi kesimpulan bahwa moderasi adalah suatukomitmen kepada apa adanya, tanpa dikurangi atau dilebihkan, maksudnyabersikap tengah-tengah tidak mengarah pada rasa egoisme.6Moderat menurut pandangan Khaled Abou El Fadl senada denganistilah modernis, progresif, dan reformis. Namun istilah moderat ia pilihkarena lebih tepat untuk memberi gambaran kepada kelompok yang iahadapkan dengan kelompok puritan. Menurutnya modernis mengisyaratkansatu kelompok yang berusaha mengatasi tantangan modernitas yang5Harin Hiqmatunnisa dan Ashif Az-Zafi, “Penerapan Nilai-nilai Moderasi Islam dalamPembelajaran Fiqih Di PTKIN menggunakan Konsep Problem Based Learn”, Jurnal JIPIS, Vol.29,No. 1 (April 2020), 29.6Priyantoro Widodo dan Karnawati, “Moderasi Agama dan Pemahaman Radikalisme agamaKristen”, Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen, Vol.15, No.2 (Oktober 2019), 10.

15problem kekninian. Bukan hanya itu saja, ia juga mengklaim bahwa sikapmoderasi menggambarkan pendirian keagamaan mayoritas umat Islam saatini.7Selain itu Khaled menjelaskan lebih jauh tentang moderatmerupakan sikap yang yakin bahwa Tuhan menganugrahi manusia dankemampuan untuk membedakan perkara yang benar dan salah. Sehinggamemiliki kebebasan ruang dalam menentukan pilihan terbaik, dalam artimasih tetap dalam koridor moral yang diterapkan di masyarakat umum.8Menurut definisi Yusuf al-Qaradhawi moderat adalah sikap yangmengandung adil, perwujudan dari rasa aman, persatuan, dan kekuatan.Agar dapat tercapai sikap tersebut perlulah memiliki pemahaman yangkomprehensif terhadap keyakinan agamanya masing-masing. Yusuf alQaradhawi memandang moderat mengangkat nilai-nilai sosial sepertimusyawarah, keadilan, kebebasan, hak-hak manusia dan hak minoris.9Nur kolis memberikan kesimpulam dari gagasan tokoh sufi ternamaHusin Mansur al-Hallaj dan Muhryi al-Din Ibn ‘Arabi, bahwa pemikirsufistik wahdat al-adyan menawarkan satu gagasan moderat yang humanis,dan universal dalam konteks relasi agama-agama, dimana didalamnyaterkandung pesan moral yang terkait secara langsung dengan masalahMuhamad Nur, “Problem Terminologi Moderat dan Puritan dalam Pemikiran Khaled Abou ElFadl”, Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Vol.11, No. 1 (Maret 2013), 27.8Khaled Abou El Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan (Jakarta: Serambi,2006), 117-122.9“Taqrib al-Madhahib-Qaradawi’s Declaration of Principles Regarding Sunni-Shi’i t/site/topics/static.asp?cu no 2&lng 0&templateid 11&temp type 42. Diakses pada 2 Juli 2020.7

16harmoni kehidupan sosial keagamaan. Setiap agama pasti dalam ajaranyamengajak untuk hidup saling mebantu satu sama lain dalam hubungan sosialdengan tanpa adanya membedakan agama maupun golongan.10Menurut Nurcholis Madjid terkait dengan moderisasi merupakansuatu proses perubahan, baik sikap dan mentalitas untuk menyesuaikantuntunan hidup dengan tuntunan hidup sekarang guna terciptanyakebahagian hidup bagi masyarakat. Moderasi juga dapat diartikan sebagaisuatu gerakan atau upaya yang mempunyai tujuan dalam amenyesuaikandenganperkembangan zaman dan ilmu pengetahuan.Moderasi beragama sangat penting dalam sebuah negara yanghomogen, seperti Indonesia yang kaya akan keberagaman sehingga sangatmudah sekali munculnya gesekan antar kelompok terlebih terhadap antaragama. sehingga perlunya memberikan pemahaman bahwa nilai-nilaibersikap dalam konteks keberagaman menjadikan kita tidak egoisme,intoleran, diskriminatif dan sebagainya.11Menurut Abudin Nata pendidikan moderat memiliki sepuluh nilaidasar yang menjadi indikatornya, yaitu:a. Pendidikan damai, yang menghormati hak asasi manusia danpersahabatan antara bangsa, ras, atau kelompok agama.b. Pendidikan yang mengembangkan kewirausahaan dan kemitraandengan dunia industri.c. Pendidikan yang memperhatikan visi misi profetik Islam, yaituhumanisasi, liberasi dan transenderasi untuk perubahan sosial.10Nur Kolis, “Moderasi Sufistik atas Pluralitas Agama”, Jurnal Pemikiran Keislaman danKemanusian, Vol.01, No.02 (Oktober 2017), 166-180.11Sumarto dan Emmi Kholilah Harahap, “Mengembangkan Moderasi Pendidikan IslamMelaluiPeran Pengelolaan Pondok Pesantren, RI, AYAH”, Vol. 4, No. 01 (Januari-Juni 2019), 21.

17d. Pendidikan yang memuat ajaran toleransi beragama dan pluralisme.e. Pendidikan yang mengajarkan paham Islam yang menjadi mainstreamIslam Indonesia yang moderat.f. Pendidikan yang menyeimbangkan antara wawasan intelektual (head),wawasan spiritual dan akhlaq mulia (heart).g. Pendidikan yang menjadi solusi bagi problem-problem pendidikan saatini seperti masalah dualisme dan metodologi pembelajaran.h. Pendidikan yang menekankan mutu pendidikan secara komprehensif.i. Pendidikan yang mampu meningkatkan penguasaan atas bahasa asing.122. Konsep ModerasiYusuf Al Qardhawi merupakan salah satu penggerak al-wasathiyahschool of thought yang sesungguhnya sudah dirintis oleh generasi zamanjamaluddin al-afghani, Muhammad Abdh, dan Rasyid Ridha. Merekaberusaha ingin membebaskan umat yang belenggu, memadukan sertamemberi keseimbangan antara adil dan moderat. Maka dari itu perlu adanyakonsep moderasi, berikut merupakan salah satu konsep moderasi versiYusuf Al Qardhawi :a. Komitmen pada nilai moralitas akhlak.Mempunyai nilai akhlah yang mulia kejujuran, amanah,kesepakatan, bersikap rendah hati dan malu, begritu juga pada haldengan moralitas sosial seperti keadilan, kebijakan, berasosiasi dengankelompok masyarakat.b. Kerjasama kombinatif antara dua hal yang bersebranganPosisi moderat yang memperlihatkan dapat mengambil manfaatdari kelebihan dan menjahui kekurangan dari dua sisi aspek yangkonfrontatif tersebut. Sehingga tidak boleh memihak pada satu sisi danmenjahui sisi yang lain sehingga akan bersikap ekstrim.c. Perlindungan hak-hak agama minoritasKewajiban mereka sama dengan apa yang yang dilakukan olehorang lain, namun dalam hal agama ibadah harusnya adanya pemisahantidak bercampur. Negara tidak diperkenankan untuk mempersempitToto Suharto, “Indonesianisasi Islam: Penguatan Islam Moderat dalam Lembaga PendidikanIslam di Indonesia, Al-Tahrir”, Jurnal Pemikiran Islam, Vol.17, No.1 (2017), 168.12

18ruang gerak aktifitas keagamaan minoritas seperti larangan makan babidan minuman keras.d. Nilai-nilai humanis dan sosialNilai-nilai humanis dan sosial sesungguhnya merupakankhazanah otentik Islam. Perkembangan modern lebih mengidentifikasihal tersebut sebagai nilai barat. Ia menjadi nilai yang pararel dengankonsep keadilan di tengah masyarakat dan pemerintah, kebebasan,kemulian dan hak asasi manusia.e. Persatuan dan royalitasSemua komponen umat harus bisa berkerja sama dalam hal yangdisepakati dan bertoleransi dalam perkara yang sudah disepakati semuaorang.f. Mengimani pluralitasKeimanan akan pluralitas religi, pluralitas tradisional, pluralitasbahasa, pluralitas intelektualitas, pluralitas politis, pentingnyakonsistensi antar berbagai peradapan.13B. Pluralisme1. Pengertian PluralismePluralisme berasal dari kata plural dan isme, plural yang berartibanyak (jamak), sedangkan isme berarti paham. Jadi pluralism adalahsuatu paham atau teori yang menganggap bahwa realitas itu terdiri daribanyak substansi.14 Pluralisme merupakan sebuah upaya untukmembangun tidak hanya kesadaran yang bersifat teologis namunkesadaran sosial. Hal itu dikembangkan pada kesadaran bahwa manusiahidup di tengah masyarakat yang bermacam-macam dari segi agama,budaya, etnis, dan berbagai keragaman sosial lainnya. Pluralisme sendirimengandung konsep teologis dan konsep sosiologis.15Ahmad Dumyathi Bashori, “Konsep Moderat Yusuf Qardhawi : Tolak Ukur Moderasi danPemahaman Terhadap Nash”, Jurnal Penelitian dan Kajian Keagamaan, vol .36, No.01 (Agustus2013), 3-10.14Pius A. P, M Dahlan, Kamus Ilmiah Popular, (Surabaya : Arkola, 1994), 604.15Moh. Shofan, Pluralisme Menyelamatkan Agam-agama, (Yogyakarta: Samudra Biru, 2011), 48.13

19Demikian pluralisme terdapat banyak ragam latar belakangagama yang berbeda-beda dalam kehidupan masyarakat yangmempunyai eksistensi hidup berdampingan, saling bekerja sama dansaling berinteraksi antara penganut satu agama dengan penganut agamalainnya, setiap penganut agama dituntut bukan saja mengakuikeberadaan dan menghormati hak agama lain.16 Termasuk dalamkonteks pluralitas agama, setiap umat beragama berusaha untuk bisamemahami serta bisa menyikapi perbedaan dan keragaman agamadengan mengacu pada nilai-nilai dasar agama yang dianutnya.172. Faktor-faktor Penyebab dalam PluralismePluralisme agama menarik untuk dikaji karena istilah initermasuk terminologi filsafat yang mencangkup empat hal, yakni :a. Monism, ialah pandangan yang menyatakan bahwa “yang ada”hanyalah satu, yang serba spirit.b. Dualisme berpendapat bahwa “yang ada” terdiri dari dua hakikat,materi dan roh.c. Pluralisme beranggapan bahwa “yang ada” tidak hanya terdiri darimateri roh atau ide, melainkan terdiri dari banyak unsur.d. Agnotisisme beranggapan bahwa manusia tidak mempunyaikemampuan untuk mengetahui hakikat materi maupun rohanitermasuk juga yang mutlak dan transenden.Selain itu juga ada dua faktor yang menjadi penyebab dalampluralisme yaitu faktor internal (ideologis) dan Faktor ekstenal. Antaradua faktor ini saling mempengaruhi dan saling berkesinambungan.Faktor internal merupakan faktor yang muncul disebabkan adanya16Ibid., 52.Limas Dodi, “Persoalan Kehidupan Kontemporer:Menggagas Kajian Sachedina Tentang TheologiPluralisme”, Jurnal Empirisma, Vol. 26, No.1 (Januari 2017), 26.17

20tuntunan akan kebenaran yang mutlak (absolute truthclaims) dariagamanya sendiri, baik dalam masalah akidah, sejarah maupun dalammasalah keyakinan atau doktrin. Faktor ini sering juga dinamakandengan faktor yang bersifat ideologis. Maksud dari ideologi ialah umatmanusia terbagi menjadi dua, pertama orang yang beriman teguh kepadawahyu langit atau samawi, kedua orang yang tidak beriman kecualihanya kepada kemampuan akal saja (rasional).18Sedang faktor yang disebabkan dari luar ada dua pembagianyakni faktor sosio politis dan faktor ilmiah.19 Terdapat juga dua faktoreksternal yang kuat dan mempuyai peran kunci dalam menciptakankeadaan yang kondusif dan lahan yang subur bagi tumbuhberkembangnya teori pluralisme. Kedua faktor tersebut adalah faktorsosio-politis dan faktor ilmiah:a. Faktor Sosio PolitisFaktor yang mendorong adanya teori pluralisme agamadapat berkembang wacana sisio politis, demokratis dan nasionalisyang memunculkan sistem negara bangsa lalu mengarah padakedewasaan yang disebut globalisasi, yang termasuk hasil dariproses sosial dan politis yang berlangsung selama kurang lebih tigaabad.1819Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama Tinjauan Kritis (Jakarta: Perspektif, 2006), 24.Ibid., 25.

21b. Faktor Keilmuan atau IlmiahPada hakikatnya ada banyak faktor keilmuan yang berkaitandengan pembahasan ini. Namun yang mempunyai kaitan secaralangsung dengan munculnya teori pluralisme agama ialah maraknyastudi ilmiah modern terhadap agama-agama dunia, atau seringterkenal dengan sebutan studi agama agama.203. Dasar-dasar PluralismeTerkait dengan adanya dasar-dasar pluralisme terdapat tigapokok yaitu: Pertama, Dasar Filosofis Kemanusiaan, Kedua, DasarSosial Kemasyarakatan dan Budaya. Ketiga, Dasar Teologi.Sebagaimana dari tiga pokok ini akan dijelaskan.a. Dasar Filosofis Kemanusiankeberagaman dalam faham pluralisme merupakan suatu halyang mutlak tidak adanya tawar-menawar. Ini bentuk sikapkonsekuwensi dari kemanusiaan. Manusia sendiri memiliki unsuresensisal (inti sari) serta tujuan atau cita-cita hidup yang berbedasatu sama lain, baik secara personal maupun kelompok.21b. Dasar Sosial Kemasyarakatan dan ional sebagai suatu masyarakat (suku, bangsa, bahkan20Ibid,. 41-42.Susurin, Nilai-nilai Pluralisme Dalam Islam:Bingkai Gagasan yang Berserak (Bandung: Nuansa,2005), 94.21

22dunia), yang berbudaya. Karena keberagaman merupakankesepakatan dari hakekat manusia sebagai makhluk sosial. Jadikeberagaman merupakan unsur penentu bagi adanya dan kekhasandari suatu masyarakat. oleh karenanya dalam sejarah pembentukandan kehidupan setiap kelompok masyarakat senantiasa adakesadaran dan pengakuan akan adanya keberagaman, juga eberagaman secara konsisten.22c. Dasar TeologisDalam suatu masyarakat yang beragama seperti masyarakatIndonesia, ada berbagai bentuk macam agama yang berbeda dalamberbagai aspek atau unsur-unsurnya, dan kemajemukan harusditerima sebagai kesepakatan dari nilai-nilai luhur dan gambaran“sang Ilahi” (Allah) yang maha baik serta cita-cita atau tujuanmulia dari setiap agama dan para penganutnya.234. Dampak Pluralisme dalam Kehidupan BermasyarakatDalam kehidupan masyarakat yang plural guna dapatmendukung konsep pluralisme, perlu adanya toleransi antar sesamaumat beragama. Agar kehidupan masyarakat terjalin secara damaitentram dan tidak ada konflik antar umat beragama. Oleh karena itu22Muhammad Fathi Osman, Islam, Pluralisme dan Toleransi Keagamaan (Jakarta selatan: PSIKUniversitas Paramadina, 2006), 124.23Abd. A’la, Ahmad Baso, Azyumardi Azra dkk, Nilai-nilai Pluralism Dalam Islam (Bandung:Nuansa, 2005), 68.

23pluralisme dalam kehidupan bermasyarakat mempunyai dampak yangbermanfaat seperti:a. Toleransi beragamaMenurut KBBI, toleransi berasa dari kata “toleran”bermakna sendiri mempunyai karakter atau sifat yang memegangprinsip saling menghargai, membiarkan dan memperbolehkanToleransi perlu difahami dan dipraktikkan sebab akeanekaragaman yang berada di Indonesia, budaya, bahasa, suku,agama dan ras.24b. Kerukunan antar Umat BeragamaDari asal kata “Rukun” dari Bahasa Arab “ruknun” memilikiartinya asas-asas atau dasar, seperti rukun Islam. Rukun dalam artiadjektiv yakni baik atau damai. Kerukunan umat beragama yangdimaksud ialah hidup dalam nuansa damai tidak aksi radikalismeagama. Kerukunan umat beragama adalah program pemerintahmeliputi semua agama, semua warga negara Republik Indonesia.Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwakerukunan antar umat beragama agama adalah asas-asas atau dasaryang dijadikan untuk menciptakan suasana damai, tentram,harmonis dalam masyarakat yang dilandasi sikap toleransi, saling24Sukiman, Seri Pendidikan Orang Tua Menumbuhkan Sikap Toleransi Pada Anak ( Jakarta:Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, 2016), 4-5.

24pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalampengamalan ajaram agamanya dan kerjasama dalam kehidupanbermasyarakat.25Bihim BM, “Kerukunan Antar Umat Beragama”, unan-antar-umat-beragama.html, diakses tanggal 01 Juli 2020.25

13 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Tentang Moderasi 1. Pengertian moderasi Secara bahasa moderasi berasal dari bahasa inggris moderation yang memiliki arti sikap sedang, sikap tidak berlebih-lebihan.1 Dalam Mu’jam Maqayis, Ibnu Faris menyampaikan yang dimaksud dengan wasatiyah itu merupakan susuatu yang menunjukan pada keadilan dan tengah-tengah.2