Transcription

RAHARJANING KABUDAYAN PERSPEKTIF AL-HUDA TAFSIRBASA JAWI KARYA BAKRI SYAHID SURAT YUNUS 10: 5Skripsi:Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memeroleh Gelar Sarjana Strata Satu(S1) Pada Prodi Ilmu AlQuran dan TafsirOleh :ZUYYINA MILLATINIM: E03215054PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIRFAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFATUNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPELSURABAYA2019

ABSTRAKZuyyina Millati, “Konsep Raharjaning Kabudayan Perspektif al-Huda Tafsir BasaJawi Karya Bakri Syahid Surat Yunus 10: 5”.Program Sarjana Tahun 2019.Karya tafsir pada dasarnya merupakan produk budaya yang lahir dari prosesdialektika antara penafsir dengan budaya yang melingkupinya di satu pihak dialognyadengan al-Qur’an. Tema ini membahas tentang kegiatan penafsiran al-Qur’an yangmerupakan kegiatan yang tidak pernah berhenti dari masa ke masa. Tujuan daripenulisan ini adalah untuk menelusuri salah satu khazanah tafsir yang ikutmeramaikan perkembangan tafsir pada periode modern pada pasca kemerdekaanadalah al-Huda: Tafsir Qur’an Basa Jawi karya Bakri Syahid. Penelitian inimenggunakan metode kualitatif yang datanya bersumber dari kepustakaan (libraryresearch).Bakri Syahid lahir dan dibesarkan dalam interaksi budaya Jawa. Tafsir alHuda merupakan proses pergumulan antara al-Qur’an, wawasan budaya Jawa yangdimiliki pengarang, kondisi sosial budaya Jawa yang melingkupinya. Tafsir al-Hudamemiliki keistimewaan metode penulisan dan penjelasannya, yaitu; didalam Tafsiral-Huda dengan bahasa Jawa, kemudian diterjemahkan dan diberikan penjelasan (footnote) dalam Bahasa Jawa. Tafsir al-Huda ini merupakan tafsir kontemporer budayaJawa yang bersifat kultural-kontekstual dan integratif-interkonektif. Pendekatanintegrafif-interkonektif adalah pendekatan yang berusaha saling menghargai;keilmuan umum dan agama, sadar akan keterbatasan masing-masing dalammemecahkan persoalan manusia, hal ini akan melahirkan sebuah kerja sama,setidaknya saling memahami pendekatan (appoarch) dan metode berpikir (proccesand procedure) antara dua keilmuan tersebut.Kata kunci: Raharjaning Kabudayan, Tafsir al-Huda, Bakri Syahidviidigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

DAFTAR ISISAMPUL DALAM . iPERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI . iiPENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI . iiiPERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI . ivMOTTO . vPERSEMBAHAN . viABSTRAK . viiKATA PENGANTAR . viiiDAFTAR ISI . xPEDOMAN TRANSLITERASI . xiiiBAB I: PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah . 1B. Rumusan Masalah . 9C. Tujuan Penelitian . 9D. Signifikan da Kegunaan Penelitian . 91. Secara Teoritik . 92. Secara Praktis . 10E. Kerangka Teoritik . 10F. Telaah Putakan . 11G. Metodologi Penelitian . 121. Model dan Jenis Penelitian . 132. Sumber Data Penelitian . 133. Teknik Pengumpulan Data . 144. Teknik Analisis Data . 14xdigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

H. Sistematika Pembahasan . 14BAB II: BUDAYA SEJAHTERAA. Pengertian Budaya . 17B. Pengertian Kesejahteraan . 19C. Unsur-unsur Kebudayaan . 201. Sistem Bahasa . 202. Sistem Pengetahuan . 213. Sistem Sosial . 214. Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi. 225. Sistem Mata Pencaharian Hidup . 226. Sistem Religi . 237. Kesenian . 23D. Konsep Budaya dalam Islam . 24BAB III: MENGENAL BAKRI SYAHID DAN TAFSIR AL-HUDAA. Riwayat Hidup Bakri Syahid . 32B. Pendidikan dan Karir . 35C. Profil Tafsir al-Huda . 381. Metode Tafsir al-Huda . 382. Corak Tafsir al-Huda . 423. Latar Belakang Penulisan Tafsir al-Huda . 434. Referensi Penafsiran . 45BAB IV : RAHARJANING KABUDAYAN DALAM TAFSIR AL-HUDAA. Penafsiran Surat Yunus ayat 5 dalam Tafsir al-Huda . 49xidigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

B. Implementasi Konsep Raharjaning Kabudayan Pada Tafsir al-Huda dalamSurat Yunus: 5 . 56BAB V : PENUTUPA. Kesimpulan . 64B. Saran . 65DAFTAR PUSTAKA . 66xiidigilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahAl-Qur‟an merupakan kitab suci yang kerap diasosiakan sebagai kitabreferensi yang selalu relevan dalam menyelesaikan segala problem kehidupanyang dihadapi umat Islam, shalih li kulli zaman wa makan. Hal ini memberikanruang dinamis bagi penafasiran al-Qur‟an pada masa ke masa. Bahkan, eksistensipenafsiran al-Qur‟an telah dibuktikan dalam potret sejarah sejak Nabi Muhammadmenerima wahyu hingga saat ini dan akan terus berlanjut seiring denganperkembangan Islam itu sendiri.Pandangan bahwa tafsir merupakan sebuah mekanisme kebudayaan,berarti tafsir al-Qur‟an diposisikan sebagai suatu yang khas insani. Al-Qur‟ansebagai perwujudan kalam ilahi yang suci, di satu pihak, dan tafsir al-Qur‟ansebagai karya manusia yang profan, di pihak lain. keberadaan tafsir al-Qur‟antidak bisa lepas dari peran akal; potensi dasar pentingnya yang dimiliki manusiasebagai pembentuk kebudayaan.1Dalam lintas sejarah penafsiran al-Qur‟an, berkembangnya agama Islamkeberbagai belahan dunia dengan sosio-kultur yang berbeda-beda pada akhirnyamenuntut adanya pembacaan ulang terhadap al-Qur‟an berdasarkan situasi dankondisi yang ada guna mencari jawaban atas problematika umat yang semakin1Musa Asy‟ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an (Yogyakarta: LESFI, 1992),105.1digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

2kompleks. Implikasinya, relevansi pembacaan dan pemahaman yang menjadiacuan dari setiap aktifitas penafsiran al-Qur‟an pada akhirnya melahirkanpendekatan dan corak yang variatif, seperti fikih, kalam, politik, tasawuf, filsafatdan sebagainya.2Tafsir al-Qur‟an berbeda dengan al-Qur‟an, objek yang ditafsirkan. Jikayang pertama merupakan hasil kreasi budaya yang bersifat nisbi dan profan, makayang kedua diyakini sebagai kalam Tuhan yang bersifat mutlak dan suci.Kenyataan ini perlu disadari oleh umat Islam agar tidak mudah terjebak dalampemutlakan penafsiran yang diyakininya benar. Oleh karena itu, kajian tentang alQur‟an dengan kebudayaan kiranya sangat perlu dilakukan agar dapat diketahuibagaimana relasi antara Islam dan kebudayaan itu terjadi.Lahirnya berbagai pengalaman Islam yang berbeda-beda di kalangan umatIslam merupakan refleksi dari perbedaan yang muncul dalam memahami kitabsuci (al-Qur‟an). Sehubungan dengan itu, menjadi penting untuk mengetahuiproses lahirnya Islam pada tataran realitas berdasarkan apa yang telah dilakukanoleh umat Islam dalam aktivitas keagamaanya, dan bukan berdasarkan apa yangseharusnya. Oleh karena itu, produk-produk penafsiran kitab suci dan praktikpraktik keislaman masyarakat yang muncul dalam bentuk yang berbeda-bedatersebut harus disikapi secara arif dan bijaksana sehingga perbedaan itu tidakmenjadi terjadinya konflik.2Abdul Mustaqim, Dinamika Sejarah Tafsir al-Qur’an (Yogyakarta: Adab Press, 2014), 155.digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

3Kedatangan Islam di suatu tempat akan selalu mengalami kontak dengannilai-nilai budaya masyarakatnya. Dalam situasi kontak tersebut, seringkali Islammenyerap unsur-unsur lokal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasarajarannya. Hal ini terjadi karena di dalam setiap kebudayaan masyarakatsesungguhnya menyimpan nilai-nilai universal al-Qur‟an. Tafsir al-Hudamerupakan salah satu wujud dari kontak yang terjadi antara Islam (al-Qur‟an) danbudaya lokal tersebut, khususnya budaya jawa.Keragaman bentuk dan corak tafsir al-Qur‟an ini juga disebabkan olehbeberapa faktor, misalnya latar belakang pendidikan, keilmuan, motif penafsian,dan kondisi sosial dimana sang penasir menyejarah.3 Faktor-faktor tersebut tidakberdiri sendiri, akan tetapi bergerak secara interaktif dan dinamis.4 Dengan katalain, al-Qur‟an secara intrinsik selalu berdialog secara interaktif denganmasyarakat dalam berbagai dimensi dan corak sosialnya, baik di masa lampau,kini maupun mendatang melalui penafsirnya.5Corak tafsir ijtima‟i dalam al-Huda Tafsir Basa Jawi sangat dominan punmenunjukkan kecenderungan Bakri Syahid dalam melihat permasalahan sosialyang umum terjadi di lingkungan kehidupan mufasir. Sehingga umat muslim,khususnya kalangan pengkaji al-Qur‟an layak mencontoh perilaku tersebut.Dengan melihat problematika sosial dewasa ini, seperti konflik sosialbertendensikan agama, masalah keamanan di lingkungan masyarakat, problem3Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), 388-389.Nashr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Qur’an, terj. Khoiron Nahdliyyin (Yogyakarta: LkiS,2013), 2.5Umar Shihab, Kapita selekta mozaik Islam: Ijtihad, Tafsir dan Isu-isu Kontemporer (Bandung:PT Mizan Pustaka, 2014), 49.4digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

4asusila dan kekerasan dalam rumah tangga, hingga masalah dalam dunia digitalterkait penyebaran informasi dalam ragam media sosial.Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia turutmemberikan andil besar dalam perkembangan tafsir al-Qur‟an. dalam pelataransejarah Islam Indonesia, al-Qur‟an untuk pertama kali diajarkan dan dipelajariseiring dengan masuknya Islam di Indonesia. Selanjutnya, al-Qur‟an punditerjemahkan dan ditafsirkan ke dalam berbagai bahasa, baik bahasa nasionalmaupun bahasa daerah.Secara historis, penafsiran al-Qur‟an di Indonesia dimulai sejak abad ke 17Masehi. Salah satu ulama Indonesia yang menulis karya tafsir pada era ini adalahAbd Ra‟uf al-Sinkili (1615-1693) dengan kitabnya yang berjudul Turjuman alMustafid. Pada era selanjutnya, terdapat banyak sekali karya-karya tafsir yangdiproduksi oleh mufasir Indonesia yang berjudul dengan bahasa yang beragam,misalnya Raudah al-Irfan dan Kitab Tafsir al-Fatihah yang ditulis denganmenggunakan bahasa sunda atau Faid al-Rahman karya kiai Saleh Darat (18201903 M) yang dikemas dengan bahasa Jawa. Untuk kasus bahasa Bugis, pada era1940-an Anre Garutta H. M. As‟ad menulis Tafsir Bahasa Boegisnya SoerahAmma. Muncul juga penggunaan bahasa aceh yang dapat dilihat pada Tafsir Pase:Kajian Surah al-Fatihah dan Surah-surah dalam Juz ‘Amma yang ditulis tim danditerbitkan Balai kajian Tafsir al-Qur‟an Pase Jakarta tahun 2001. Terdapat pulakarya tafsir yang ditulis memakai bahasa Arab, misalnya Tafsir Mu’awidataynkarya Ahmad Asmuni Yasin. Sementara tafsir-tafsir di Indonesia yang ditulisdengan memakai bahasa Indonesia antara lain Tafsir al-Azhar karya Hamka,digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

5Tafsir al-Nur dan al-Bayan karya T.M Hasbi al-Shiddieqy, dan Tafsir al-Misbahkarya M. Quraish Shihab.6Sejak era abad ke-19 hingga awal abad ke-21, tafsir al-Qur‟an berbahasaJawa ditulis dan dipublikasikan. Sejumlah ulama memainkan peran utama dalamkeberlangsungan penulisan tafsir berbahasa Jawa tersebut. Mereka ini juga beradadi garda depan dalam kebudayaan. Pada awal abad 19 KH. Muhammad Salih bin„Umar as-Samarani (1820-1903) dikenal juga dengan nama Kiai Saleh Darat,menulis tafsir Faid ar-Rahman fi Tarjamah Kalam Malik ad-Dayyan. Pada akhirabad ke-20 KH. Misbah Zainul Mustafa Bangilan (1916-1994) yang menulis aliklil fi Ma’ani at-Tanzil dan KH. Bisri Mustafa Rembang (1915-1977) yangmenulis al-Ibriz li Ma’rifati Tafsir al-Qur’an al-Aziz.Selain karya tafsir yang memakai aksara pegon diatas, terdapat tafsir alQur‟an berbahasa Jawa yang ditulis dengan aksara Latin, yaitu Tafsir al-Qur’anjawi karya KH. Muhammad Adnan (1889-1969) yang dipublikasikan pada era1960-an dan Tafsir Qur’an Hidaajatur-Rahmaan yang ditulis oleh MoenawarChalil (1909-1961) yang dipublikasikan pada 1958.7 Pada awal era 1990-anmuncul juga tafsir al-Qur‟an berbahasa Jawa dengan aksara Latin, yaitu al-HudaTafsir Qur’an Basa Jawi karya Bakri Syahid (1918-1994), yang dipublikasikanpada tahun 1976 dan Sekar Sari Kidung Rahayu, Sekar Macapat Terjemahanipun6Islah Gusmian, “Bahasa dan Aksara dalam Penulisan Tafsir al-Qur‟an di Indonesia Era Awalabad 20,” dalam Mutawatir: Jurnal keilmuan Tafsir Hadis , Vol. 5, No. 2 (Desember 2015), 225234.7Moeawar Chalil, Tafsir Qur’an Hidaajatur Rahmaan, Juz 1 (Solo: AB, Siti Sjamsijah, 1958)digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

6Juz Amma karya Ahmad Djawahir Anomwidjaja yang dipublikasikan pada 1992dan mengalami cetak ulang untuk kali kedua pada 2003.8Selain karya diatas, terdapat kitab al-Huda Tafsir Basa Jawi yang ditulisdengan menggunakan bahasa Jawa yang disusun oleh Drs. H. Bakri Syahidseorang purnawirawan TNI (dahulu ABRI) kelahiran Yogyakarta berpangkatKolonel.Tafsir al-Huda merupakan salah satu tafsir al-Qur‟an yang menggunakanbahasa Jawa sebagai media penafsirannya. Hal ini mengasumsikan adanyadialektika antara dua sistem nilai budaya yang berbeda sebagaimana tercermindalam simbol-simbol bahasanya, yaitu bahasa al-Qur‟an (Arab) disatu pihak danbahasa Jawa dipihak lain. Sebab, bahasa Jawa memiliki muatan makna simbolikdari dunia materi dan ide-ide abstrak kebudayaan Jawa.9Diantara unsur penting yang senantiasa ada dan melekat dalam kebudayanmasyarakat adalah bahasa.10 Bahasa dan masyarakat merupakan dua hal yangtidak dapat dipisahkan, karena bahasa dapat membentuk realitas, atau dapat pulasebaliknya, bahasa merupakan refleksi dari realitas. Dengan kata lain, bahasamerupakan perangkat sosial yang paling penting dalam menangkap dan8Ahmad Djawahir Anomwidjaja, Sekar Sari Kidung Rahayu, Sekar Macapat Terjemahanipun JuzAmma (Yogyakarta: Bentang, 2003)9Imam Muhsin, Tafsir al-Qur’an dan Budaya Lokal (t.k: Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI),8.10Menurut Antropolog, bahasa merupakan salah satu dari tujuh unsur universal sekaligus isi darisemua kebudayaan di dunia. Ketujuh unsur itu, selain bahasa adalah sistem religi dan upacarakeagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, kesenian, sistem matapencaharuan hidup dan sistem teknologi dan peralatan. Baca Koentjaraningrat, Kebudayaan,Mentalitas dan Pembangunan, 2.digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

7mengorganisasi dunia. Berbicara tentang bahasa tidak mungkin terlepas daribudaya dan realitas masyarakat pengguna bahasa tersebut.11Salah satu sistem bahasa yang tidak dapat dipisahkan dari budaya danrealitas masyarakat penggunanya adalah bahasa Jawa. Meskipun bahasa ini telahmengalami perkembangan sejak abad ke-8 M melalui beberapa fase yangberbeda-beda berdasarkan beberapa ciri idiomatik yang khas dari lingkungankebudayaan pujangganya, tetapi keberadaannya sebagai media artikulasi simbolsimbol budaya Jawa dapat dikatakan tidak mengalami perubahan. Bahasa Jawasarat dengan makna-makna simbolik dari nilai-nilai budaya dalam kehidupanmasyarakat Jawa. Penggunaan sistem tingkat yang sangat rumit menyangkutperbedaan-perbedaan yang harus digunakan dalam hal kedudukan, pangkat, umur,serta tingkat keakraban antara yang menyapa dan yang disapa.12Sebagai upaya untuk memahami al-Qur‟an dan menyampaikan pesanpesannya kepada masyarakat, tafsir al-Huda juga menggunakan unsur-unsurlokalitas yang diharap mampu memudahkan masyarakat untuk memahami apayang disampaikan didalamnya. Hal ini diperkuat dengan penyebutan beberapaistilah seperti “Ketahanan Nasional,”13 “Sumpah Pemuda, “PembangunanSosial”14 Taman kanak-kanak,”15 dan lain sebagainya.1611Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Qur’an, 9.Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan, 21.13Lihat bakri Syahid, Tafsir al-Huda; Tafsir al-Qur’an Basa Jawi (Yogyakarta: Bagus Arafah,1983), 158.14Diakhir QS: al-An‟am (6): 138Bakri memberikan penafsiran berupa catatan kaki:“Kados mekaten tetiyang musyrik damel tatanan ingkang murni, beres, rasionil lan universal,inggih punika agama Islam. Dening tiyang dipun reka-daya kapidatosan-musyrik ingkang sarwasemrawut lan mbingungaken tiyang kathah wau nyuwun sajajar kaliyan Agama Islam (ingkangmurni saking Allah). Pramila penetrasi (nyampur ing babagan kapidatosan utawi sinkretisme)12digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

8Penafsiran al-Qur‟an hakikatnya bukan sekedar praktik memahami teks(nass) al-Qur‟an, tetapi juga berbicara tentang realitas yang terjadi dan dihadapioleh penafsir. Sebagai produk budaya, tafsir al-Qur‟an berdialektika dengankultur, tradisi, serta realitas sosial. Di sepanjang sejarah penulisan dan publikasitafsir al-Qur‟an di Nusantara hal-hal tersebut terjadi. Di antaranya tampak padapemakaian bahasa, aksara, serta isu sosial dan ideologi yang dikontestasikan.Dalam dinamika penulisan tafsir al-Qur‟an yang demikian, tafsir al-Qur‟anberbahasa Jawa merupakan fenomena yang penting dikaji. Di tengah popularitasbahasa Indonesia dan aksara Latin sejak era awal abad ke-20 didorong oleh politketis Belanda dan momentum Sumpah Pemuda pada 1908 bahasa Jawa masihhidup dalam tradisi penulisan tafsir al-Qur‟an di Indonesia dengan variasi aksarayang digunakan, yaitu aksara Pegon, Latin, dan Jawa.B.Rumusan MasalahAgar lebih jelas dan memudahkan penelitian, perlu diformulasikan beberaparumusan permasalahan pokok, sebagai berikut:1. Bagaimana Penafsiran Surat Yunus: 5 Menurut Bakri Syahid dalam Tafsir alHuda ?saking pokalipun tiyang musyrik wau bade awon sanget akibatipu wonten alaming PembangunanNasional kita”Bakri Syahid menafsirkan ayat ini dengan bahaya atau ancaman dari orang-orang musyrikyang dapat merusak tatanan sistem”Pembangunan Nasional”. Terutama karena keyakinan seorang“musyrik” yang telah menyimpang dari ajaran agama Islam yang murni itu akan mencoba untukmeniru atau bahkan membuat sistem/tatanan kepercayaan yang mirip seperti agama Islam. Karenatidak murnian kepercayaan inilah maka “musyrik” menjadi ancaman dalam menyatukan tujuanPembangunan Nasional. Sebab bagaimana mungkin seorang yang ragu-ragu terhadap“keyakinan”nya mampu menyatukan tujuan dengan orang-orang yang keyakinannya telah mapanBakri Syahid, Tafsir al-Huda, 248.15Bakri Syahid, Tafsir al-Huda, QS: Luqman (31): 19, 798.16Nurul Huda, “Penafsiran Politik Kolonel Bakri Syahid dalam Tafsir al-Huda,” 111-115.digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

92. Bagaimana Raharjaning Kabudayan dalam Tafsir al-Huda karya BakriSyahid ?C.Tujuan PenelitianPenelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:1.Mengetahui Penafsiran Surat Yunus: 5 Menurut Bakri Syahid menurut BakriSyahid dalam Tafsir al-Huda.2.Menemukan Konsep Raharjaning Kabudayan dalam tafsir al-Huda karyaBakri Syahid.D. Signifikasi dan Kegunaan PenelitianDalam penelitian ini ada dua signifikasi yang akan dicapai yaitu aspekkeilmuan yang bersifat teoritis, dan aspek praktis yang bersifat fungsional.1.Secara TeoritisPenelitian ini diharapkan dapat menemukan rumusan tentang polahubungan antara Bakri Syahid, al-Qur‟an, dengan lokalitas budaya Jawa,sehingga dapat dijadikan acuan dalam memahami agama Islam dan tradisibudaya yang mengakar dalam struktur masyarakat Jawa.2. Secara PraktisPenelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalampengembanngan khazanah tafsir di Indonesia, untuk generasi Jawa sendirikhususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

10E.Kerangka TeoritikPenelitian ini memposisikan karya tafsir sebagai suatu fenomena budaya.Budaya dalam hal ini diartikan sebagai keseluruhan cara hidup yang khas dalampenekanan pada pengalaman sehari-hari. Oleh karena penelitian ini inginmengungkap dialektika Tafsir al-Huda Basa Jawi dengan budaya Jawa, makateori yang digunakan sebagai pisau analisis adalah teori Enkulturasi budaya.Enkulturasi merupakan usaha masuk dalam suatu budaya, meresapi suatukebudayaan, menjadi senyawa, dan membudaya dengan menjelma dalam suatukebudayaan.17Bakri Syahid lahir dan dibesarkan dalam interaksi budaya Jawa. Tafsir alHuda merupakan proses pergumulan antara al-Qur‟an, wawasan budaya Jawayang dimiliki pengarang, kondisi sosial budaya Jawa yang melingkupinya. Tafsiral-Huda memiliki keistimewaan metode penulisan dan penjelasannya, yaitu;didalam Tafsir al-Huda dengan bahasa Jawa, kemudian diterjemahkan dandiberikan penjelasan (foot note) dalam Bahasa Jawa. Tafsir al-Huda inimerupakan tafsir kontemporer budaya Jawa yang bersifat kultural-kontekstual danintegratif-interkonektif.18F. Telaah PustakaPenelitian tentang karya tafsir yang ditulis oleh mufasir Indonesia sudahbanyak dilakukan oleh para sarjana. Sementara untuk objek penelitian Tafsir al-17Ali Sodiqin, Antropologi al-Qur’an: Model Dialektika wahyu dan Budaya (Yogyakarta: AlRuzz Media, 2008) 181-182.18Amin Abdullah. Desain Pengembangan Akademik IAIN Menuju Sunan Kalijaga: dariPendekatan Dikotomis-anatomis ke Arah integratif-interdisiplinary dalam Bagir, Zainan Abidin.Integrasu Ilmu dan Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 242.digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

11Huda karya Bakri Syahid, sejauh pengetahuan penulis belum banyak penelitianyang mengkaji secara spesifik tentang budaya Jawa.Meski demikian, ada beberapa buku dan artikel yang membahas tentangTafsir al-Huda. Pertama, karya Bakri Syahid yang ditulis oleh Imam Muhsindalam penelitian disertasi yang berjudul “Tafsir al-Qur‟an dan Budaya Lokal:Studi Nilai-nilai Budaya Jawa”. Buku ini diterbitkan oleh Elsaq Press,Yogyakarta, pada tahun 2013. Ia menggunakan metode kualitatif denganparadigma konstruktif. Menurut paradigma ini, realitas disikapi sebagai gejalayang sifatnya tidak tetap dan memiliki hubungan masa lalu, sekarang, dan akandatang.Hasil penelitiannya adalah bahwa al-Huda merupakan salah satu wujudkebudayaan Islam Jawa yang dapat diposisikan sebagai “model dari realitas”(model of reality) sekaligus “model untuk realitas (model for reality). Hal yangpertama berkaitan dengan kenyataan bahwa keberadaan tafsir al-Huda tidak dapatdilepaskan dari kondisi sosial-budaya yang melingkupinya, sedangkan yang keduaberkaitan dengan keberadaannya sebagai suatu guidebook bagi pengalaman pesanpesan al-Qur‟an.19Kedua, Jurnal yang ditulis oleh Novita Siswayanti dengan judul Nilai-nilaiEtika Budaya Jawa dalam Tafsir al-Huda, dalam jurnal Analisa, Vol. 20 no. 02,Desember 2013.19Imam Muhsin, Al-Qur’an dan Budaya Jawa, 239-240.digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

12Analisis data yang digunakan adalah pendekatan hermeneutika, yaknimenafsirkan simbol berupa teks untuk dicari arti dan maknanya.20 Hasilpenelitiannya adalah bahwa dalam tafsir al-Huda termuat nilai-nilai etika budayaJawa yang meliputi dua unsur, yaitu: pertama, ketauhidan (upaya mendekatkandiri kepada Tuhan) dan kedua, kebajikan memberi petunjuk/nasehat kepadasiapapun yang berisi anjuran maupun larangan).21Ketiga, jurnal yang ditulis oleh Imam Muhsin, dengan judul BudayaPesisiran dan pendalaman dalam Tafsir al-Qur’an (Studi Kasus Tafsir al-Ibrizdan Tafsir al-Huda), yang diterbitkan melalui jurnal Thaqafiyyat, Vol. 15, no. 1,Juni 2014.Pada penelitiannya, ia mengkomparasikan antara tafsir al-Ibriz dengantafsir al-Huda dalam ranah kebahasaan, yang mana bahasa merupakan bagian darikebudayaan. Hasil penelitiannya adalah bahwa perbedaan pada kedua tafsirtersebut terletak pada konsistensi pengggunaan konsep-konsep budaya Jawa,kedalaman pembahasaan dalam menghubungkan nilai-nilai atau konsep-konsepbudaya Jawa, serta kepatuhan penerapan nilai-nilai budaya Jawa. Hal inidimungkinkan karena latar belakang kultural masing-masing penulisnya.22G. Metodologi penelitianPada hakikatnya, penelitian merupakan suatu tindakan yang diterapkanmanusia untuk memenuhi hasrat yang selalu ada pada kesadaran manusia, yakni20Novita Siswayanti, “Nilai-nilai Etika Budaya Jawa dalam Tafsir al-Huda”, dalam Analisa, Vol.20. No. 02 (Desember 2013), 210.21Ibid., 219.22Imam muhsin, “Budaya Penafsiran dan Pedalaman dalam Tafsir al-Qur‟an (Studi kasus Tafsiral-Ibriz dan Tafsir al-Huda)”. Dalam Thaqafiyat, Vol. XV, no. 1, (Juni 2014), 19-20.digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

13rasa ingin tahu.23 Meski demikian, dibutuhkan sebuah metode guna mewujudkanpenelitian yang akurat, jelas dan terarah. Secara terperinci metode dalampenelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:1. Model dan Jenis PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang dimaksud untukmendapatkan data tentang tujuan Bakri Syahid dalam menyusun al-HudaTafsir Basa Jawi. Konsep sejahteranya budaya dan peradaban melalui risetkepustakaan dan disajikan secara deskriptif-analitis2. Sumber Data PenelitianStudi pustaka (library research) studi ini untuk mencari beberapapenelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan olehpenulis. Setelah data terkumpul, kemudian mengklasifikasikanya kedalam duasumber:a.Sumber PrimerSumber primer dalam penelitian ini adalah buku Tafsir al-Huda:Tafsir Qur’an Basa Jawi karya (Brigjen Purn.) Drs. H. Bakri Syahid.b.Sumber SekunderSumber sekunder dalam penelitian ini terdiri buku-buku tulisanilmiah lainnya yang beru

Tafsir Qur’an Basa Jawi karya Bakri Syahid (1918-1994), yang dipublikasikan pada tahun 1976 dan Sekar Sari Kidung Rahayu, Sekar Macapat Terjemahanipun 6 Islah Gusmian, “Bahasa dan Aksara dalam Penulisan Tafsir al-Qur‟an di Indonesia Era Awal abad 20,” dalam Mutawatir: Jurnal keilmuan Tafsir Hadis , Vol. 5, No. 2 (Desember 2015), 225-234. 7