Transcription

Prosiding Seminar Nasional Ikan ke 8Biodiversitas dan distribusi ikan di Danau TempeSyahroma Husni NasutionPusat Penelitian Limnologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,Jl. Raya Jakarta Bogor Km. 46, Cibinong 16911Surel: [email protected]; [email protected] ikan air tawar di Indonesia tertinggi kedua setelah Brazil. Danau (D.) Tempe merupakan paparan banjir di wilayah Kabupaten Wajo, Sidrap, dan Soppeng-Sulawesi Selatan. Ikan aslinya yaitu ikan bungo (Glossogobius c.f aureus). Diperkirakan telah terjadi penurunan jumlah jenis,pro-duksi dan distribusi yang tidak merata disebabkan tingginya sedimentasi dan penangkapan ikandi perairan D. Tempe. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan biodiversitas dan distribusiikan serta mengetahui kondisi habitatnya. Penelitian dilakukan pada saat air surut bulan Oktober2012, di beberapa tipe habitat yang berbeda, pada tujuh stasiun yaitu ST1 (Kel. Lelo), ST2 (Ds.Tancung), ST3 (Kec. Bellawa), ST4 (Ds. Wetta’e), ST5 (Ds. Anetue), ST6 (Ds. Salo Menrakeng), ST7(Ds. Pallimae). Data diperoleh dengan melakukan survei lapangan dan informasi melalui kuisionermaupun dari data sekunder. Pengambilan sampel ikan dilakukan selama dua jam di setiap stasiundengan mengguna-kan alat tangkap jaring insang, ukuran mata jaring 1, 2, 3, dan 4 inci. Hasilmemperlihatkan perairan D. Tempe didominasi oleh ikan-ikan introduksi. Dijumpai sembilanjenis yang tertangkap berasal dari delapan famili yang didominasi famili Belontiidae danCyprinidae. Secara umum seluruh ki-saran kualitas air di setiap stasiun pengamatan masihmemenuhi persyaratan untuk kegiatan peri-kanan. Mengingat perairan D. Tempe didominasioleh ikan-ikan introduksi, maka diharapkan ti-dak ada lagi introduksi ke dalam perairan ini,karena akan menurunkan bahkan menghilangkan jenis ikan asli di perairan danau.Kata kunci: biodiversitas, distribusi, ikan, Danau TempePendahuluanSulawesi termasuk kawasan Wallacea yang merupakan peralihan antara zoogeografiOriental dan Australian (Whitten et al. 1987), banyak terdapat jenis flora dan fauna endemik, termasuk ikan. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa perbedaan geografis yangekstrim dapat berpengaruh terhadap susunan komunitas ikan yang ada di perairan tersebut (Carmona et al. 1999 dan Pyron and Lauer 2004).Keanekaragaman ikan air tawar di Indonesia adalah yang tertinggi kedua setelahBrazil, yaitu sebanyak 1300 jenis (World Bank, 1998). Keanekaragaman ikan di Indonesiasaat ini menghadapi ancaman dari berbagai aktivitas manusia yang dapat menyebabkanmenurunnya keanekaragaman ikan-ikan tersebut. Dari 87 jenis ikan Indonesia yang terancam punah, diketahui 66 spesies (75%) diantaranya adalah ikan air tawar (Froese & Pauly2004). Sebagian besar (68%) dari ikan air tawar yang terancam punah ini adalah ikan endemik. Di Sulawesi, telah tercatat ikan air tawar sebanyak 62 jenis dan diantaranya merupakan jenis endemik (Kottelat et al. 1993). Menurut Reid and Miller (1989) menurunnya stokikan air tawar sebagian besar disebabkan oleh kerusakan/lenyapnya habitat (35%), introduksi spesies eksotik (30%), dan eksploitasi spesies yang berlebihan (4%). Sisanya (31%),karena pencemaran, persaingan penggunaan air dan pemanasan global.Danau Tempe terletak di wilayah Kabupaten Wajo, Sidrap, dan Soppeng- SulawesiSelatan. Bagian utara 2.300 ha termasuk wilayah Sidrap 10% dari seluruh luas danau, ba-381

Syahroma Husni Nasutiongian Selatan (3.000 ha) termasuk wilayah Soppeng 15%, dan bagian timur (9.445 ha) termasuk wilayah Kabupaten Wajo 75% dari seluruh luas danau. Sungai besar yang masukke danau ini adalah Sungai Bila dan Sungai Walanae.Pada saat normal Danau Tempe luasnya 10.000 ha, pada musim hujan mencapailuas maksimum 30.000 ha, sedang pada musim kemarau mencapai minimum luas 1.000 ha.Kedalaman dan luas Danau Tempe cenderung terus menurun, hal ini diduga karena pendangkalan akibat sedimentasi yang terjadi pada musim hujan. Fluktuasi luasan perairan,secara tidak langsung mendukung tingginya produksi perikanan di Danau Tempe. Penggenangan daerah tersebut pada awal musim hujan, akan membawa nutrien bagi anakanikan sebagai sumber pakannya.Diduga telah terjadi penurunan jumlah jenis (biodiversitas), produksi ikan dan distribusi yang tidak merata di perairan Danau Tempe. Hal ini karena adanya proses penggenangan dan penyurutan perairan dan penangkapan ikan yang intensif dan menurunnyakualitas perairan/habitat. Penurunan kulaitas perairan karena masuknya pupuk dan pembasmi hama ke danau pada musim air tinggi yang disebabkan sedimen terbawa oleh Sungai Bila dan Walanae ke dalam danau. Informasi faktor biologi dan ekologi yang pentingdalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan adalah keadaan populasisumberdaya tersebut dan distribusinya (Kesteven 1971 in Nasution et al. 1994).Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan biodiversitas dan distribusi iktiofauna serta mengetahui kondisi habitat perairan tempat hidupnya di Danau Tempe.Bahan dan metodePenelitian dilakukan di Danau Tempe, Sulawesi Selatan pada saat air surut (musimkemarau) tanggal 4 - 11 Oktober 2012. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptifanalitik. Pendataan dilakukan pada beberapa tipe habitat yang berbeda yang terdapat didanau tersebut pada tujuh stasiun yaitu: ST1, Kelurahan Lelo; ST2 , Desa Tancung; ST3,Kecamatan Bellawa; ST4, Desa Wetta’e; ST5, DesaAnetue; ST6, Desa Salo Menrakeng; ST7,Desa Pallimae (Gambar 1).Pengambilan data dilakukan secara langsung dengan melakukan survei lapangandan informasi penduduk setempat melalui quisioner maupun dari data sekunder. Pengambilan sampel ikan dilakukan selama dua jam, di setiap stasiun menggunakan alat tangkapjaring insang eksperimental dengan ukuran mata jaring 1, 2, 3 dan 4 inci. Satu unit alattangkap tersebut berukuran panjang masing-masing 25 m dan tinggi 50 cm, sehingga totalpanjang jaring adalah 100 m (Gambar 2).Setiap sampel ikan yang diperoleh diukur menggunakan mistar berketelitian 1,0mm dan ditimbang bobotnya dengan timbangan digital berketelitian 1,0 gram. Sampellalu diawetkan dengan formalin 10% dan diberi label. Di laboratorium, sampel ikan dicuci dari larutan formalin, lalu disimpan dalam larutan alkohol 70%. Ikan diidentifikasimenggunakan buku Weber & Beaufort (1916), Weber & Beaufort (1922), dan Kottelat etal. (1993).382

Prosiding Seminar Nasional Ikan ke 8Gambar 1. Peta Lokasi pengambilan sampel di Danau Tempe Oktober 2012Gambar 2. Jaring insang eksperimental alat menangkap ikan dengan berbagai ukuranmata jaring (Foto: Ricky 2012)Untuk mengetahui kondisi kualitas perairan dilakukan pengukuran beberapaparameter kualitas air (Anonim 1995) meliputi parameter físik (suhu, kedalaman, kecerahan, dan turbiditas) dan parameter kimiawi (pH, oksigen terlarut, total N, total P, danNH4).Distribusi biota perairan bergantung pada beberapa faktor biotik maupun abiotik. Pola distribusi yang khas suatu biota dipengaruhi habitat di mana biota tersebutberada. Faktor penentu distribusi ikan yaitu tipe habitat, stratifikasi suhu dan oksigenterlarut, serta ketersediaan makanan alami (Lagler et al. 1977 dan Krebs 1985). Untuk383

Syahroma Husni Nasutionmengetahui distribusi dan komposisi jenis ikan pada masing-masing stasiun pengamatan dilakukan penghitungan jumlah setiap jenis ikan yang tertangkap.Indeks keanekaragaman digunakan untuk mengetahui keanekaragaman jenisbiota yang diteliti. Indeks keanekaragaman dihitung berdasarkan rumus Shanon andWienner (Krebs, 1985)nH ' Pi log2 PiPi l 1niNH’ indeks diversitas (keanekaragaman)ni jumlah individu spesies ke-iN jumlah individu dari seluruh jenis yang ada dalam contohIndeks kemerataan digunakan untuk mengetahui kemerataan jenis biota yangditeliti. Indeks kemerataan dihitung berdasarkan rumus Evennes yaitu:H’E Log2 SE indeks kemerataanH’ indeks keanekaragamanS jumlah spesies dalam contohKrebs (1985) mengkategorikan nilai indeks keanekaragaman (H): H 1 menunjukkan keanekaragaman tinggi, H 1 menunjukkan keanekaragaman sedang/moderatdan H 1 menunjukkan keanekaragaman rendah. Indeks kemerataan (E): E 0,5 menunjukkan distribusi merata di setiap tempat dan apabila E 0,5 menunjukkan distribusitidak merata.Hasil dan pembahasanKegiatan perikanan di Danau Tempe berlangsung sepanjang tahun. Puncak penangkapan ikan terjadi pada saat kemarau yaitu bulan September – November. Pengamatan ini dilakukan pada bulan Oktober pada saat air rendah. Menurut Suwignyo(1978), hasil tangkapan ikan di danau ini masih tergolong tinggi, pada tahun 1975mencapai 4.000 ton/th atau 200 kg/ha/th. Setelah 32 tahun kemudian (tahun 2007dan 2008), produksi ikan Danau Tempe meningkat menjadi 13.525 ton dan pada tahun2009, 2010 dan 2011, produksi ikan danau ini terus menurun masing-masing menjadi11.177 ton, 11.272 ton dan 10.960 ton (Anonim 2011).Diperkirakan produksi perikanan di perairan danau ini akan menurun terus karena tangkap lebih dan terjadinya pendangkalan perairan danau. Laporan dari DinasPengairan bahwa laju pendangkalan Danau Tempe adalah 10 – 20 cm tahun-1, dapatdiperkirakan bahwa dalam waktu yang relatif singkat, kemampuan perairan danausebagai sumber produksi ikan tidak dapat diandalkan lagi. Sangat disayangkan apabilaproduksi perikanannya terus menurun karena diketahui bahwa Danau Tempe memilikikontribusi sebagai penghasil ikan, baik untuk konsumsi lokal maupun regional.Alat tangkap yang beroperasi di Danau Tempe meliputi jaring insang tetap yangdisebut juga lanra dan gillnet, jaring angkat (serok), pancing rawai, perangkap(sero, jer-384

Prosiding Seminar Nasional Ikan ke 8mal dan bubu), jala, garpu tombak. Namun dalam pengamatan ini alat tangkap yangdigunakan adalah jaring insang eksperimental.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa biodiversitas ikan yang tertangkap pada musim kemarau (Oktober 2012) menggunakan jaring insang eksperimental selamadua jam di setiap stasiun adalah sembilan jenis. Jenisnya yaitu Glossogobius c.f aureus,Thinnichthys sp., Oreochromis niloticus, Osteochillus hasselti, Trichogaster pectoralis, Barbonymus gonionotus, Channa striata, Oxyeleotris marmorata dan Anabas testudineus. Kelimpahan ikan di tujuh stasiun adalah 552 ekor (Tabel 1). Sembilan jenis yang tertangkapberasal dari delapan famili, didominasi famili Belontiidae dan Cyprinidae. Dominasianggota famili Cyprinidae adalah hal yang umum ditemukan di perairan tropis Indonesia (Hartoto & Mulyana 1996, Hartoto 2000, dan Doi et al. 2000). Lebih sedikitnyajumlah jenis iktiofauna yang diperoleh karena pengambilan sampel ikan dalam studi inihanya berdasarkan hasil tangkapan menggunakan jaring insang eksperimental.Tabel 1. Kelimpahan dan jumlah jenis ikan disetiap stasiun Danau TempeFamiliNama lokalNama latinSt 1St 2St 3St 4St 5St 6St 711323119GobiidaeBlosoh/BungoGlossogobius c.f omis niloticus712224CyprinidaeNilem/DoyokOsteochillus vittatus37384317BelontiidaeSepat siam/JanggoTrichogaster pectoralis55045151216152CyprinidaeTawesPuntius javanicus7242117ChanidaeGabusChana striataEleotrididaeBetutu/LapusoOxyeleotris marmorata31AnabantidaeBetokAnabas testudineus152312Kelimpahan5810579213721231Jumlah jenis6664647Keterangan:ST1 (Kelurahan Lelo), ST2 (Desa Tancung), ST3 (Kecamatan Bellawa), ST4 (Desa Wetta’e), ST5 (Desa Anetue),ST6 (Desa Salo Menrakeng), ST7 (Desa Pallimae)Kelimpahan ikan (ekor)160G. c.f aureus140O. niloticus120100O. hasselti8060T. pectoralis40P. javanicus200ST 1ST 2ST 3ST 4ST 5ST 6ST 7Stasiun PengamatanGambar 3. Kelimpahan ikan di setiap stasiun Danau Tempe385

Syahroma Husni NasutionKelimpahan ikan di setiap stasiun pengamatan memperlihatkan bahwa jenisikan yang mendominasi di perairan danau ini adalah jenis ikan sepat siam,Trichogasterpectoralis sebanyak 295 ekor (Gambar 3). Kelimpahan tertinggi dijumpai di ST 7 sebanyak 152 ekor, kemudian diikuti oleh jenis ikan nilem atau doyok (Osteochillus vittatus)sebanyak 104 ekor dan kelimpahan tertinggi dijumpai di ST 2. Danau Tempe sepertihalnya Danau Semayang dan Danau Melintang termasuk kelompok perairan rawabanjiran atau perairan danau yang dangkal. Lukman & Gunawan (1998) menemukan 34jenis ikan di Danau Semayang dan Melintang. Hasil penelitian Nasution et al. (2008),dijumpai sebanyak 25 jenis iktiofauna penghuni perairan Danau Semayang. Terlihatbahwa terjadi penurunan jumlah jenis ikan dalam kurun waktu 10 tahun.Dari sembilan jenis ikan yang ditemukan di Danau Tempe, ada satu jenis ikanyang populasinya cenderung menurun bahkan langka yaitu jenis ikan bungo/beloso(Glossogobius c.f aureus) (IUCN 2003) dengan kelimpahan total 31 ekor. Salah satu jenisikan yang bernilai ekonomis tinggi yang mengalami penurunan populasi dan cenderung langka dan ukuran yang dijumpai semakin mengecil adalah ikan bungo/blosohyang komposisinya tinggal 1,47% dari seluruh ikan yang ada (Ali 1994) dan ukurannyadari rata-rata di atas 200 mm kini hanya sekitar 120 mm (Tamsil 2000). Ikan bungo adalah ikan yang rasanya khas dengan harga yang tinggi, dikonsumsi dalam bentuk segarmaupun kering. Dahulu ikan bungo mempunyai nilai sosial yang tinggi bagi masyarakat sekitarnya, karena hanya boleh dikonsumsi oleh para bangsawan dan pemuka masyarakat. Ditemukan juga jenis ikan muara diperkirakan dari Famili Carangidae sebanyak dua ekor, diduga ikan ini terbawa dari muara masuk ke perairan danau melaluisungai-sungai besar yaitu Sungai Bila dan Sungai Walanae.Iktiofauna penghuni Danau Tempe yang tertangkap didominasi ikan introduksiyaitu ikan nila (Oreochromis niloticus), gabus (Channa striata), sepat (Trichogaster pectoralis), betok (Anabas testudineus), nilem (Osteochillus vittatus), dan ikan betutu (Oxyeleotrismarmorata). Ikan gabus dan betutu tergolong jenis karnivora diperkirakan menjadikompetitor dan pemangsa ikan bungo/blosoh karena tubuhnya lebih besar dan anakanak ikan blosoh menjadi makanan kedua ikan karnivora ini (Gambar 3 dan 4). Ikanblosoh akan sulit memperoleh makanan karena bersaing dengan gabus dan betutu. Inisalah satu yang menjadikan populasi ikan blosoh cenderung menurun dan bahkanmenjadi langka. Diperlukan kehati-hatian apabila akan mengintroduksi jenis ikan asingke dalam suatu perairan karena akan mengganggu kehidupan ikan asli penghuni perairan Danau Tempe. Apakah ikan tersebut akan menjadi kompetitor atau bahkanmenjadi sumber makanan bagi ikan asing tersebut.Di samping faktor di atas masih ada beberapa faktor yang menyebabkan semakin menurun dan cenderung langkanya popopulasi ikan di Danau Tempe antara lainkarena:1) intensitas penangkapan yang tinggi (tangkap lebih);2) rusaknya habitat seperti pendangkalan danau antara lain disebabkan: sedimen yangterbawa banjir kiriman dari sungai masuk kedalam danau, belum adanya zonasi alattangkap karena kebanyakan nelayan yang selesai menangkap ikan tidak membersihkan alat tangkap yang digunakan dan meninggalkan di danau seperti alat tangkap386

Prosiding Seminar Nasional Ikan ke 8Oreochromis niloticusOsteochillus hasseltiOxyeleotrisTrichogaster pectoralisPuntius javanicusGlossogobius c.f aureusKampulangChana striataGambar 4. Beberapa jenis iktiofauna yang tertangkap di Danau Tempe (Sumber foto:Diskan Kabupaten Wajo dan Ricky)387

Syahroma Husni Nasutionjabba dan belle merupakan alat tangkap ilegal yang terbuat dari kawat, sedimentasiyang berasal dari limbah perkebunan dan pertanian, dan tumbuhan air eceng gondok (Eichhornia crassipes) pada musim kemarau lebih 50% permukaan air tertutupioleh tanaman ini (Husnah et al 2008; komunikasi pribadi dengan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wajo).3) penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaaan listrik(strum), jaring dengan ukuran mata jaring yang sangat kecil dengan ketentuan yangada karena anakan ikan akan tertangkap semua, jenis alat tangkap yang sifatnyamemutus ruaya ikan dan penangkapan ikan yang menggunakan racun (tuba, potas,dan lain-lain). Penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan di DanauTempe yaitu strum, pengoperasian “palawang” dan “bungka toddo” (Husnah et al.2008) serta “jabba” dan “belle” (komunikasi pribadi);4) penurunan kualitas lingkungan disebabkan beberapa kegiatan di daerah tangkapanair (DTA) dan di perairan itu sendiri. Kegiatan tersebut antara lain pembukaan hutan(penebangan kayu, industri penggergajian kayu), kegiatan pertambangan, limbah industri dan permukiman.Besarnya ketergantungan penduduk terhadap produksi ikan dari danau, makapemerintah daerah setiap tahun melakukan introduksi ikan mas (Cyprinus carpio) dannila (Oreochromis niloticus). Ikan nila mudah beradaptasi dan kini populasinya telahmenggeser jenis ikan lain (Tamsil 2000). Ikan nila yang tertangkap pada pengamatan inijumlahnya 47 ekor, umumnya berukuran besar, diperkirakan saat kemarau merupakanmusim pemijahan ikan tersebut.Apabila dilihat dari indeks keanekaragaman (H), nilai keanekaragaman ikan diDanau Tempe berada pada kisaran 1,12–1,90 (Gambar 5). Umumnya keanekaragamaniktiofauna di setiap stasiun pengamatan adalah tinggi, ditunjukkan dengan nilai H 1.Keanekaragaman tertinggi dijumpai di stasiun-5 (H 1,90).Berdasarkan indeks kemerataan (E), nilai kemerataan iktiofauna di perairan iniberkisar antara 0,60–0,73 (Gambar 6), menunjukkan bahwa distribusi ikan merata di setiapstasiun karena nilai E 0,5. Terlihat bahwa hampir semua jenis ikan dijumpai di semua stasiun pengamatan.Menurut Krebs (1985) dan Lagler et al. (1977), faktor penentu distribusi ikan adalah tingkah laku ikan dalam memilih habitat, stratifikasi suhu dan oksigen terlarut, serta ketersediaan makanan alami. Kondisi habitat perairan relatif sama, terlihat bahwawarna air di semua stasiun pengamatan adalah coklat dan keruh (Tabel 2).Secara umum seluruh kisaran kualitas air di setiap stasiun pengamatan pada bulan Oktober masih memenuhi persyaratan golongan C yaitu untuk kegiatan perikananmenurut baku mutu Kementerian Lingkungan Hidup (Anonim 2001). Pescod (1973)mengemukakan bahwa batas toleransi organisme air terhadap pH bervariasi dan dipengaruhi oleh suhu, oksigen terlarut, serta jenis dan stadia setiap organisme. Ambangtoleransi untuk parameter suhu berfluktuasi tidak melebihi 30C, nilai pH berkisar 6-9,nilai pH di semua stasiun masih pada ambang batas yg disarankan dan oksigen terlarutminimum 3 mg l-1, sedangkan pada penelitian ini berkisar 6,2 – 9,1 mg l-1 (Tabel 2).388

Indeks keanekaragamanProsiding Seminar Nasional Ikan ke 281,12ST 1ST 2ST 3ST 4ST 5ST 6ST 7Stasiun PengamatanGambar 5. Grafik indeks keanekaragaman ikan di Danau Tempe0,80,73Indeks ,20,10ST 1ST 2ST 3ST 4ST 5ST 6ST 7Stasiun PengamatanGambar 6. Grafik indeks kemerataan ikan di Danau TempeDari kondisi nutriennya, perairan D. Tempe merupakan perairan eutrofik (kandungan P 0,1 mg l-1) (Vollenweider & Kerekes, 1980). Kekeruhan menggambarkan sifatoptik air yang ditentukan oleh banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan olehbahan-bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh bahan organik dananorganik baik tersuspensi maupun terlarut seperti lumpur, pasir halus dan plankton(Nasution et al. 2008). Kekeruhan di perairan D. Tempe relatif tinggi yang diperlihatkandengan kondisi air yang keruh dan berwarna coklat, di samping itu juga diperlihatkantingginya nilai TOM berkisar 9,94 – 29,64 mg l-1.Lebih dari 75% luasan D. Tempe ditutupi oleh gulma air berupa makrofita akuatik, Eceng gondok (Eichhornia crassipes). Diperkirakan pada musim kemarau/keringsumber hara D. Tempe berasal dari dalam danau sendiri (autochthonous) yang berasaldari proses pembusukan makrofita akuatik.389

Syahroma Husni NasutionTabel 2. Kualitas air Danau Tempe pada bulan Oktober 2012StasiunParameterWarna airKedalaman (cm)SuhuOksigen terlarutpHST 1CoklatkeruhST 2CoklatkeruhST 3CoklatkeruhST 4CoklatkeruhST 5CoklatkeruhST 6CoklatkeruhST 680,48020,27970,53430,29420,47101,1913N-NO3 (mg/L) 0,00150,02290,01780,02440,03990,03400,0577N-NO2 (mg/L)0,0083 0,00030,0014 0,00030,00310,00160,0077N-NH4 (mg/L) 0,0018 0,0018 0,00180,02490,00180,02030,3447Total P PO4 M 153,636127,743108,754101,849103,575120,838Total N (mg/L)Klorofil-a (mg/m3)Alkalinitas (mgCaCO3/L)SimpulanIktiofauna di perairan Danau Tempe didominasi oleh sepat siam (Trichogasterpectoralis) dan nilem/doyok (Osteochillus vittatus). Dijumpai sembilan jenis ikan yangtertangkap dan berasal dari delapan famili. Iktiofauna. Secara umum seluruh kisarankualitas air di setiap stasiun pengamatan pada bulan Oktober masih memenuhipersyaratan golongan C yaitu untuk kegiatan perikanan.Mengingat iktiofauna yang dijumpai di perairan Danau Tempe didominasi olehikan-ikan introduksi, maka diharapkan pemerintah tidak lagi melakukan introduksi kedalam perairan ini, karena akan menurunkan bahkan menghilangkan jenis ikan asliyang terdapat di perairan danau yaitu ikan bungo (Glossogobius c.f aureus).Daftar pustakaAli IM. 1994. Struktur komunitas ikan dan aspek biologi ikan-ikan dominan di DanauSidenreng, Sulawesi Selatan. Skripsi. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.Bogor.Anonim. 1991. Himpunan peraturan di bidang lingkungan hidup, Penerbit Ekojaya. 370hal.Anonim. 1995. APHA Standard methods for the examination of water and wastewater.19th ed.Anonim, 2011. Profil Danau Tempe (sektor perikanan). Dinas Kelautan dan PerikananKabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.Carmona J, I Doadrio ALM Arquez, R Real, B Hugueny, Vargas JM. 1999. Distributionpatterns of indigenous freshwater fishes in the Tagus River Basin, Spain. Environmental Biology of Fishes, 54: 371-387.390

Prosiding Seminar Nasional Ikan ke 8Doi, AR Komatsu, Hartoto DI. 2000. Fish occuring in a black water oxbow lake in SouthBorneo. Report of the Suwa Hydrobiological Station Shinshu University No. 12:25-28.Froese R, D. Pauly D. Fish base. World Wide Web electronic publication. www.fishbase.org. Diunduh 6 July 2004.Hartoto DI, Mulyana E. 1996. Hubungan antara parameter kualitas air dan struktur iktiofauna perairan darat Pulau Siberut.Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 29: 4145.Hartoto DI. 2000. An overview of some limnological parameters and management status of fishery reserves in Central Kalimantan. Report of the Suwa Hydrobiological Station Shinshu University No. 12: 49-74.Husnah, Tjahjo DWH, Nastiti A, Oktaviani D, Nasution SH, Sulistiono. 2008. Statuskeanekaragaman hayati sumberdaya perikanan perairan umum di Sulawesi.Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Pusat Riset Perikanan Tangkap, BadanRiset Kelautan dan Perikanan. Jakarta. 130 hal.IUCN. 2003. 2003 IUCN Redlist of threatened species www.redlist.org. Download onJuly 16, 2004.Kottelat M, Whitten AJ, Kartikasari SN, Wirjoatmodjo S. 1993. Ikan air tawar Indonesiabagian Barat dan Sulawesi. Periplus Edition (HK) Ltd. 293 hal.Krebs CJ. 1985. Ecology: The experimental analysis of distribution abundance, ThirdEdition, Harper and Row Publisher, New York. 800 p.Lagler KF, Bardach JE, Miller RH, Passino DRM. 1977. Ichthyology. John Wiley andSons, Inc. Toronto, Canada. 556 p.Lukman, Gunawan. 1998. Lake Semayang and Melintang, East Kalimantan as the habitat of freshwater dolphin. In: Anonimus (Eds). Pendayagunaan dan rehabilitasilingkungan perairan Danau Semayang, Kalimantan Timur. Puslitbang Ekonomi danPembangunan LIPI, Jakarta. p. 51-68.Nasution SH, Nofdianto, Fauzi H. 1994. Komunitas ikan di Sungai Cisiih, Banten Selatan. Limnotek, Perairan Darat Tropis di Indonesia, 2(2): 67-72.Nasution SH, Oktaviani D, Dharmadi, Hartoto DI. 2008. Komunitas ikan dan faktorkondisi beberapa ikan putihan di Sungai Muara Kaman dan danau Semayang.Limnotek, Perairan Darat Tropis Di Indonesia 15(1): 10-21.Pescod MB. 1973. Investigation of rational effluent and stream standards for tropicalcountries. AIT Bangkok. 59 p.Pyron M, L Thomas E. 2004. Hydrological Variation and Fish Assemblage Structure inthe Middle Wabash River. Hydrobiologia 525: 203–213Reid WV, Miller KR. 1989. Keeping option alive: The scientific basis for conserving biodiversity. World Recources Institute, Washington D.C. 128 p.Suwignyo P. 1978. Kasus perencanaan Danau Tempe ditinjau dari aspek biologi/ekologi perairannya. SEAMEO Regional Center for Tropical Biology, Bogor-Indonesia. Hal 1-20.Tamsil A. 2000. Studi beberapa karakteristik reproduksi prapemijahan dan kemungkinan pemijahan buatan ikan bungo (Glossogobius cf. aureus) di Danau Tempe danDanau Sidenreng, Sulawesi Selatan. Disertasi. Program Pascasarjana, InstitutPertanian Bogor. Bogor. 167 hlm.391

Syahroma Husni NasutionVollenweider RA, Kerekes J. 1980. The loading concept as basis for controlling eutrophication philosophy and preliminary results of the OECD programme on eutrophication, Prog. Wat. Tech. 12:5-38.Weber M, de Beaufort LF. 1916. The fisheries of Indo-Australia archipelago. Vol. III. E.J.Brill. Ltd., Leiden: 455 pp.Weber M & de Beaufort LF. 1922. The fisheries of Indo-Australia archipelago. Vol. IV. E.J.Brill. Ltd., Leiden: 410 pp.Whitten AJ, Mustafa M, Henderson GS. 2002. The ecology of Sulawesi. Vol IV. FirstPeriplus Edition. Periplus (HK) Ltd. 754 p.World Bank. 1998. Integrating freshwater biodiversity conservation with development.Some emerging lessons. Natural habitats and ecosystems management series,Paper No. 61. 24 p.392

dangkalan akibat sedimentasi yang terjadi pada musim hujan. Fluktuasi luasan perairan, secara tidak langsung mendukung tingginya produksi perikanan di Danau Tempe. Peng-genangan daerah tersebut pada awal musim hujan, akan membawa nutrien bagi anakan ikan sebagai sumber pakannya.