Transcription

Buku Pengantar Standardisasi ini merupakan materi awal tentangpendidikan standardisasi, yang terus disempurnakan oleh suatu timdari BSN dan beberapa Perguruan Tinggi.

PENGANTAR STANDARDISASIEdisi PERTAMABADAN STANDARDISASI NASIONALii

Badan Standardisasi NasionalPENGANTAR STANDARDISASIBADAN STANDARDISASI NASIONALJAKARTA, 2009iii

Tim Penyusun1. Ir. Bambang Purwanggono, M.Sc. UNDIP - Semarang2. Prof. Syamsir Abduh, Phd. TRISAKTI - Jakarta3. Ir. Nurjanah, MS.IPB - Bogor4. Ir. Fachrul Husain Habibie, MM. TRISAKTI - Jakarta5. Ir. Wini Trilaksani, M.Sc IPB - Bogor6. Arfan Bakhtiar, ST., MT.UNDIP - Semarang7. Donny Purnomo, ST.BSN - Jakarta8. Drs. Rachman Mustar, MSc. BSN - Jakarta9. Drs. Kukuh S. Achmad, MSc. BSN - Jakarta10. DR. Ing. Amir PartowiatmoBSN - Jakarta11. Dra. Dewi Odjar Ratna Komala, MM. BSN - Jakarta12. Drs. Tisyo Haryono, MLS.BSN - JakartaEditorIr. Sriati Djaprie, M.Met.Tim Sekretariat1.2.3.4.5.6.Ir. Abdul Kadir JailaniSri Lestari Handayani, ST.Putri Dwirizkiana, ST.Teguh Prakosa, ST.Novin Aliyah, S.PsiHaryantoiv

KATA PENGANTARPuji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT bahwa dengan perkenanNya, Badan Standardisasi Nasional (BSN) bekerjasama dengan para cendekiawan diPerguruan Tinggi, telah menyelesaikan pengembangan Buku Pengantar Standardisasi,edisi 1. Dokumen ini ditujukan untuk diaplikasikan oleh akademisi yang akanmempelajari bidang standardisasi. Diharapkan melalui pemanfaatan buku peganganini para mahasiswa yang mempelajari pendidikan standardisasi di tingkat PerguruanTinggi (PT), dapat memahami dan mampu mengimplementasikannya di dunia kerja.BSN, sebagai lembaga pemerintah non departemen, berdasarkan PeraturanPemerintah No. 102 tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional, mendapat mandatuntuk mengembangkan dan membina kegiatan di bidang standardisasi nasional, yangmencakup pengembangan kebijakan nasional yang mampu mendorongperkembangan, pemanfaatan dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI). Selainitu juga menjadikan SNI sebagai faktor penguat daya saing, meningkatkan efisiensidan transparansi pasar serta mampu melindungi konsumen, kesehatan masyarakat,lingkungan dan keamanan.Sebagai salah satu upaya pelaksanaan mandat tersebut, BSN melalui PusatPendidikan dan Pemasyarakatan Standardisasi (PUSDIKMAS), bekerjasama denganstakeholders mengembangkan pendidikan standardisasi, termasuk materi danmetodenya untuk digunakan di lingkungan pendidikan khususnya di tingkatPerguruan Tinggi.Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperanserta dalam pengembangan Buku Pengantar Standardisasi untuk tingkat PerguruanTinggi (PT) ini, sehingga dapat diselesaikan dengan baik.Akhirnya, kami berharap Buku Pengantar Standardisasi ini dapat diterapkandengan baik di lingkungan Perguruan Tinggi, kami juga mengharapkan masukan agarkurikulum ini dapat disempurnakan sesuai perkembangan.Jakarta, Juli 2009v

Daftar IsiHalKata Pengantar . .vDaftar isi . viBab 1 Pendahuluan .1Bab 2 Standar . 19Bab 3 Pengembangan standar . 46Bab 4 Penerapan standar . 75Bab 5 Penilaian kesesuaian . 106Bab 6 Metrologi 127Bab 7 Manfaat ekonomi standar 156Bab 8 Inovasi dan standar . 178Daftar pustaka . 196vi

BAB 1 PENDAHULUAN1.1 Filosofi standarBeberapa tahun yang lalu majalah “Le Courrier de la Normalisation”, majalahStandardisasi AFNOR (Association Francaise de Normalisation) menerbitkan sebuahkarangan oleh M. Romieu dengan judul “La Normalisation, c’est elle unehumanisme?” (Apakah standardisasi itu suatu kemanusiaan?).Dalam karangan tersebut penulis mengemukakan bahwa misi standardisasiadalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dapat ditambahkan bahwasebagaimana halnya dengan humanisme, ia terdiri dari sistem gagasan berdasarkankebutuhan dan harapan manusia, dan standardisasi mencoba untuk menjawabtantangan ini.Memang, jika kita membahas kualitas atau mutu, pertama-tama harusdicamkan kualitas hidup masyarakat/manusia, karena tanpa hal ini standardisasi dankualitas hanya merupakan wacana belaka. Pada tahun 1994 dalam seminar yangdiselenggarakan oleh ISO dan IRAM di Argentina, salah satu wakil dari ISOmengusulkan bahwa standardisasi dan kualitas harus didasarkan pada sedikit-dikitnyadua tonggak dasar yaitu etika dan kebudayaan.Jika kita sepakat bahwa dua pendapat tersebut merupakan suatu kebenaran,maka tiga konsep falsafah dasar yang terkait erat dengan standardisasi yaitu: kualitashidup yang lebih baik, etika dan kebudayaan, harus ditanamkan pada manusiasejak dini, mulai dari massa kanak-kanak hingga dewasa. Terutama ketika merekamulai memegang peran dalam masyarakat sebagai orang tua, guru, karyawan atauperan lain tertentu dalam kehidupan.Semua tipe standar yang dikembangkan, diterbitkan dan diterapkan olehorganisasi nasional, regional, internasional atau asosiasi, bermanfaat untukmembangun suatu budaya berbasis - konsensus yang bersifat universal dan bertujuanuntuk dimanfaatkan oleh masyarakat untuk saling berkomunikasi, meningkatkan danmemperbaiki saling pengertian antar masyarakat, meningkatkan kualitas hidup ataumemfasilitasi perdagangan.1

Semua standar yang mencakup definisi, lambang, satuan ukuran, metodegambar, spesifikasi produk, sistem manajemen, metode uji dan metoda analisa,metode pengambilan contoh, standar produk, proses dan jasa, kualitas dankeselamatan, bila diterapkan dengan benar akan menghasilkan sesuatu bagimasyarakat, konsumen dan pemakai yang seharusnya lebih baik dan lebih handal.Standar juga dapat dijadikan bahan pembelajaran dan pelatihan bagi sumber dayamanusia atau digunakan untuk meningkatkan pemahaman pengetahuan teknis, alihteknologi, landasan untuk inovasi.Salah satu contoh yang jelas adalah peningkatan kualitas hidup terkait denganstandar yang mencakup aspek yang berkaitan langsung dengan hajat hidupmasyarakat seperti standar di bidang K3L (kesehatan, keselamatan, keamanan danlingkungan hidup), standar di bidang ergonomi, lingkungan hidup, pangan, kesehatan,keamanan dan bahan-bahan berbahaya. Tujuan utama dari standar tersebut adalahagar manusia dapat meningkatkan kesejahteraan kehidupan mereka dengan menekankemungkinan terjadinya kerugian, ketidaknyamanan atau ketidak amanan penggunaanproduk atau jasa di masa sekarang atau mendatang.Bila kita pelajari dengan seksama dan menghayati ayat-ayat seperti tercantumdi bawah ini yang juga dikemukakan di semua buku suci agama telah membuktikanbahwa sesungguhnya falsafah standardisasi telah di “wahyukan” ribuan tahun yanglalu. Hanya kitalah yang kurang menyimak dan memaknainya. Sebagai contohpengaturan tentang metrologi telah diatur sejak dahulu kala, yaitu kepada pendudukMadyan pada zaman Nabi Syu’aib sebagaimana firman Allah SWT dalam Al qur’anSurat Hud (84, 85 dan 94):“Dan kepada penduduk Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata:“Hai kaumku, sembahlah Allah, yang tidak ada Tuhan lain bagimu selain Dia, danjanganlah kamu kurangi sukatan dan timbangan. Sesungguhnya aku melihatkamu dalam keadaan yang berkecukupan dan sesungguhnya aku khawatir terhadapazab hari yang membinasakan (kiamat)”.“Dan Syu’aib berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah sukatan dan timbangandengan adil dan janganlah kamu kurangi sedikit pun (hak-hak) manusia danjanganlah kamu membuat bencana di muka bumi sebagai orang-orang perusak”.2

“Dan tatkala datang ketentuan Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orangyang beriman bersamanya dengan rachmat Kami; dan orang-orang zalim dibinasakanoleh suara keras lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka”.Kemudian di zaman Rasulullah, Allah SWT mengingatkan kembali pada umatmanusia agar tidak melakukan kecurangan pada sukatan dan timbangan sebagaimanfirman Allah SWT dalam Alqur’an surat Al Muthafifin (1-3 dan 4-6):“Celakalah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabilamenerima sukatan dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila menyukatatau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. Tidakkah mereka itu mengirabahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari besar, pada harimanusia berdiri dihadapan Tuhan semesta alam”.1.2 Pengertian dasarStandar sebenarnya telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-harimeskipun seringkali kita tak menyadarinya, tanpa juga pernah memikirkan bagaimanastandar tersebut diciptakan ataupun manfaat yang dapat diperoleh.Kata standar berasal dari bahasa Inggris “standard”, dapat merupakanterjemahan dari bahasa Perancis “norme” dan “etalon”. Istilah “norme” dapatdidefinisikan sebagai standar dalam bentuk dokumen, sedangkan “etalon” adalahstandar fisis atau standar pengukuran. Untuk membedakan definisi dari istilah standartersebut, maka istilah “standard” diberi makna sebagai “norme”, sedangkan ‘etalon”dalam bahasa Inggris diartikan sebagai “measurement standard”. Dalam bab-bab awalterutama dibahas “standard” dalam pengertian “norme” sedangkan “etalon” atau“measurement standard” akan dibahas secara khusus di Bab 6 Metrologi.Dalam bahasa Indonesia kata standar pada dasarnya merupakan sebuahdokumen yang berisikan persyaratan tertentu yang disusun berdasarkan konsensusoleh pihak-pihak yang berkepentingan dan disetujui oleh suatu lembaga yang telahdiakui bersama. Definisi standar dan standardisasi yang digunakan BSN (BadanStandardisasi Nasional) diacu dari PP No. 102 Tahun 2000 adalah sebagai berikut:Standar adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara danmetode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan3

memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup,perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengalaman, perkembanganmasa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesarbesarnya.Standardisasi adalah proses merumuskan, menetapkan, menerapkan dan merevisistandar, yang dilaksanakan secara tertib melalui kerjasama dengan semua pihak yangberkepentingan.Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang ditetapkan oleh BadanStandardisasi Nasional (BSN) dan berlaku secara nasional.Definisi sesuai ISO/IEC Guide 2: 2004 adalah sebagai berikut:Standard . A document, established by consensus and approved by a recognizedbody, that provides, for common and repeated use, rules, guidelines or characteristicsfor activities or their results, aimed at the achievement of the optimum degree oforder in a given context.Note:Standards should be based on the consolidated results of science, technology and experience, andaimed at the promotion of optimum community benefits.Standardization (The) activity of establishing, with regard to actual or potentialproblems, provisions for common and repeated use, aimed at the achievement of theoptimum degree of order in a given context.Notes:1. In particular, this activity consists of the processes of formulating, issuing and implementingstandards.2. Important benefits of standardization are improvement of the suitability of products, processes andservices for their intended purposes, prevention of barriers to trade and facilitation oftechnological cooperation.Consensus .General agreement, characterized by the absence of sustainedopposition to substantial issues by any important part of the concerned interests andby a process that involves seeking to take into account the views of all partiesconcerned and to reconcile any conflicting argumentsNote – Consensus need not imply unanimityBerpatokan pada definisi tersebut di atas dapat diidentifikasi pokok-pokok berikut: Entiti standardisasi;4

Sektor penerapan standardisasi; Keterlibatan orang/pihak tertentu dalam kegiatan standardisasi, dan Tujuan standardisasi.Standar kini merupakan salah satu sarana manajemen terpenting yang pernahdimunculkan dan perlu dipelajari dan difahami secara menyeluruh oleh paracendikiawan, pelaku usaha, perencana dan ahli teknik saat merancang, memilih,menguji, atau mensertifikasi produkStandardisasi bukanlah suatu kegiatan yang statis, di seluruh duniastandardisasi mengalami perkembangan, baik mengenai ruang lingkup, prosedurperumusan maupun penerapannya. Oleh karena itu Lal Verman (1973) berpendapatbahwa standardisasi perlu dianggap sebagai suatu disiplin pengetahuan baru.Perkembangan ilmu dan teknologi, pertumbuhan industri dan semakin luasnyaperdagangan global yang begitu cepat menjadi dorongan yang sangat penting bahwapara mahasiswa memiliki pemahaman mendasar tentang standar, penerapannya danproses pembuatan standar serta manfaatnya bagi pembangunan dan perekonomiannasional. Pada saat ini makin banyak perguruan tinggi di seluruh penjuru duniamemberikan perhatian khusus yang terus meningkat terhadap pemasukan pemahamanstandar ke dalam kurikulum mereka.1.3 Sejarah perkembangan standardisasiTernyata standardisasi telah diterapkan manusia secara alamiah sepanjangribuan tahun yang lalu. Mulai dari memanfaatkan peralatan batu sederhana, kosa kata,bahasa primitive sebagai sarana komunikasi, aksara, gambar, patung dan tulisan untukekspresi diri. Menurut para pakar sejarah, tulisan sebagai sarana komunikasi telahdistandardisasikan ratusan tahun sebelum Masehi dan kemudian secara bertahapberkembang menjadi sarana modern yang kita gunakan dewasa ini.Meskipun jauh lebih lambat dibandingkan dengan proses standardisasi modernyang kita kenal sekarang ini, di alam flora dan fauna terdapat indikasi hadirnyakecenderungan standardisasi sehingga memungkinkan ko-eksistensi secara harmonisdari mahluk hidup dengan alam sekitar.John Perry mengatakan:5

“ Natural selection is a process of standardization. Living organisms do not form acontinuum, an imperceptible merging of species into species . Each has distinctivecharacteristics, standard characteristics, passed on from generation to generation”.Sejak dahulupun masyarakat telah mengenal standardisasi berdasarkan evolusimaupun dengan ikut berperannya pimpinan kelompok tertentu.Gambar 1.1 Bangunan kuno Ziggurat di MesopotamiaKebudayaan kuno mengandalkan pengetahuan mereka tentang pergerakkanbulan, matahari, dan bintang-bintang di angkasa untuk menentukan waktu yang tepatuntuk menanam atau memanen tanaman pangan mereka, untuk merayakan hari-hariyang penting, dan untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting. Lima ribu tahun yangsilam bangsa Tigris menggunakan kalender yang membagi satu tahun menjadi bulanyang masing-masing terdiri dari 30 hari. Setiap hari dibagi menjadi 12 jam dan setiapjamnya dibagi dalam 30 menit.Bangsa Mesir adalah bangsa pertama kali yang mengembangkan kalenderdengan 365 hari (4236 sebelum Masehi) berdasarkan pengukuran sepanjang tahundari terbitnya bintang Sirius setiap 365 hari.Kebudayaan Indonesia telah membuktikan pentingnya standar ukuran untukmenunjang pola pembangunan yang teratur. Candi Borobudur dan bangunan candilainnya serta bangunan purbakala di belahan dunia lainnya seperti piramida, ternyatamemiliki tertib ukuran, bentuk geometrik tertentu dengan sudut tertentu.6

Gambar 1.2 Candi BorobudurHingga kini sebagian masyarakat Indonesia masih mengenal ukurantradisional seperti tumbak, bau, ubin, gantang, kati, dsbnya., meskipun secara resmisesuai dengan PP Nomor 2 Tahun 1989 tentang Standar Nasional untuk SatuanUkuran, Indonesia telah mengikuti sistem metrik.Di belahan dunia timur, Cina di bawah pemerintahan Dinasti Qin (221 – 207S.M) merupakan pemerintahan pertama yang melaksanakan kegiatan standardisasisebagai bagian dari kebijakan negara. Telah ditetapkan standar ukuran berat, dimensi,mata uang dan beberapa suku cadang alat transpor. Semua ini dilaksanakan demikelancaran dan efisiensi di bidang perdagangan, komunikasi dan transportasi.Jalan panjang pertama di Eropa dibangun oleh Kekaisaran Roma untukkepentingan tentara mereka. Jalur jalan di tanah yang terbentuk oleh roda keretakereta kuda bangsa Roma kemudian juga dipakai oleh kendaraan lain dan dikemudianhari menjadi alat bantu untuk meletakkan jaringan jalur rel kereta api yang pertama.Lambat laun dirasakan kebutuhan akan hadirnya standar yang diberlakukansecara otoriter yang juga dikenal dengan istilah standar yang diterapkan secara wajibTercatat Raja Henry I dari Inggris (tahun 1120) yang menerapkan standar ukuranpanjang, berat, luas, seperti: yard, rod, inch, ounce dan acre. Satuan ukuran yangsama ini pula kemudian disepakati bersama dan meluas kedaratan Eropa dan Amerikasehingga dapat dihindarkan berbagai masalah dalam perdagangan.Pergerakan standardisasi modern dapat ditelusur balik ke masa RevolusiPerancis ketika masalah standardisasi dilimpahkan dari negara ke tangan paracendikiawan. Sidang Konstitusi Perancis (French National Assembly) pada tahun1795 secara resmi melimpahkan tugas pengembangan sistem pengukuran metrik padaAkademi Ilmu Pengetahuan Perancis dengan menyimak struktur yang diusulkan oleh7

rekayasawan Inggris, James Watt. Salah satu ukuran alamiah awal adalah meter, yangdidefinisikan sebagai sepersepuluh juta bagian dari seperempat meridian muka bumi.Setelah masa evolusi 160 tahun, akhirnya para ilmuwan berhasil mengembangkanSistem Unit Internasional (International System of Units, SI units).Pada masa antara 1800 hingga 2000, terjadi pergeseran dari produksi padatkarya ke produksi massal di pabrik-pabrik. Revolusi industri ini memerlukan standaruntuk mendukung produksi massal. Orang telah menyadari bahwa standardisasi dilingkungan industri mampu meningkatkan produktivitas melalui interchangeability(mampu tukar) dan variety reduction (pengurangan ragam), tidak saja terbatas dalamsatu pabrik tertentu namun antar berbagai unit industri. Dengan demikianstandardisasi menjadi kegiatan yang ditangani bersama oleh rekayasawan dan pelakuusaha industri.Eli Whitney (1765 – 1825), adalah orang Amerika yang sering disebut-sebutsebagai Bapak Standardisasi. Berawal pada kontrak kerja yang ditandatangani olehThomas Jefferson (Wakil Presiden Amerika) dengan Eli Whitney untuk penyerahan10 ribu pucuk senjata dalam dua tahun, Eli Whitney mendobrak metode pembuatansenapan secara tradisional dan mengorganisasi suatu regu pekerja untuk membuat10.000 suku cadang berdasarkan bentuk model utama (master model). Suku cadangyang serba identik ini menjamin mampu tukarnya. Sayang bahwa pada waktu itumasalah ukuran dan ketelitian ukuran belum dijamah.Perlu disebutkan pula peran Sir Joseph Whitworth, yang memperkenalkan ulirWhitworth pada awal abad 18 dengan sudut tetap antara sisi ulir sebesar 55 danspesifikasi jumlah ulir untuk berbagai diameter. Whitworth juga memperkenalkanperkakas tap pembuat ulir dan alat pengukur ulir yang memicu produksi besar-besarandari mur dan sekrup.Penemuan tenaga listrik dan pemanfaatannya pada akhir abad ke-18 danpertengahan abad ke-19 memicu perkembangan standardisasi, terutama bidangtelekomunikasi. Beberapa pakar terkenal adalah Benyamin Franklin, Volta, Galvani,Faraday, Ohm yang meletakkan dasar perkembangan ilmu dan teknologi kelistrikan.Pertumbuhan jaringan telegrap memaksa 20 negara untuk berhimpun danmencari penyelesaian bersama. Konvensi Internasional Telegrap (InternationalTelegraph Convention) ditanda tangani pada tahun 1865. Pada tahun 1885 dibentukITU (International Telegraph Union). Berkaitan dengan perkembangan perdagangan8

nasional dan internasional disadari bahwa standar telah menjelma menjadi instrumenekonomi.Perkembangan teknologi yang mendukung timbulnya “network technologies”dalam bidang transport, pengadaan tenaga listrik dan telekomunikasi merupakanmenyebab untuk memulai inisiatif untuk melaksanakan standardisasi pada levelnasional, regional dan internasional.Perkembangan standardisasi pada perioda 1900 - 1945 ditengarai oleh duaperang dunia. Perang dunia tersebut mempengaruhi perkembangan standardisasinasional khususnya standar perusahaan, terutama di bidang produksi militer. Padaperioda ini pula standardisasi tidak semata-mata menyentuh masalah teknis tetapimulai merambah ke managemen produksi untuk mencapai produktivitas optimal.“Time and motion studies, division of labour, standardisasi machinery and tools,berkembang pesat.Pada tahun 1903 ITU mulai kegiatan standardisasinya pertama-tama rkabel,yangkemudiandikembangkan menjadi “Radio Regulations”. Pada tahun 1932 ITU dan IRCdigabungkan menjadi International Telecomunication Convention, dan pada tahun1934 terbentuk ITU (International Telecomunication Convention).Berbeda dengan kegiatan ITU yang dari awal sudah bersifat internasional, dibidang kelistrikan standardisasi mulai berkembang sebagai kegiatan nasional. Perludisebut peran pakar ilmu dan penemu seperti Volta, Ampère, Ohm, Edison, TeslaMarconi dan ahli-ahli lainnya. Teori baru dan usaha penemu tadi membuka era baruperkembangan teknologi dan industri kelistrikan. Perusahaan generator, lampu pijar,fiting dan kabel di masing-masing negara berkembang pesat. Setiap Negara memilikiarus searah dengan voltage berbeda, arus bolak balik dengan frekuensi 25 atau 60cycle dan dengan 1, 2 atau 3 fasa. Jelas bahwa sektor industri ini sangat memerlukandukungan kegiatan standardisasi. Suatu pameran kelistrikan di St. Louis pada tahun1904 merupakan titik awal fokusnya kegiatan standardisasi. Akhirnya pada tahun1906 terbentuk IEC (International Electrotechnical Commision). Bahasa yangdigunakan dalam publikasi IEC adalah bahasa Perancis, Inggris, Jerman, Itali,Spanyol dan Esperanto. Selama perang dunia II kegiatan IEC terhenti sekitar 6 tahundan baru mulai bergerak kembali setelah perang dunia ke II selesai.9

Periode 1945 - 1970 ditandai oleh terbentuknya berbagai organisasiinternasional dan meningkatnya kesepakatan untuk bekerja sama, termasuk kegiatanstandardisasi. Negara merdeka baru di kawasan Asia dan Afrika juga memprakarsaikegiatan standardisasi untuk mempercepat pembangunan di negara masing-masing.Setelah 1946 IEC meningkatkan kegiatannya dan bekerja sama denganUNSCC (United Nations Standards Coordinating Committee). Komite koordinasiPBB bertemu pada tahun 1946 dan mendirikan yang sekarang dikenal sebagaiInternational Organization for Standardization (ISO). ISO dibentuk pada tahun 1946di Genewa, Swiss dan memiliki kantor pusat di kota tersebut. ISO adalah suatuorganisasi non-treaty internasional yang mengembangkan, mengkoordinir danmenetapkan standar voluntary untuk mendukung perdagangan global, meningkatkanmutu, melindungi kesehatan dan keselamatan/keamanan konsumen dan masyarakatluas, melestarikan lingkungan serta mendesiminasi informasi dan memberikanbantuan teknis di bidang standardisasi.Dengan berakhirnya Perang Dunia II, berbagai negara merdeka barumendirikan badan/lembaga standardisasi nasional untuk menopang ekonomi masingmasing. Dengan meningkatnya kesediaan untuk bekerja sama pada level internasionalmaka ISO merupakan wadah yang tersedia dan siap menampung dan mengkoordinirkerjasama tersebut.1.3 Sejarah perkembangan standardisasi di IndonesiaPerkembangan standardisasi modern di Indonesia dapat di bagi dua tahapanutama, yaitu zaman penjajahan Belanda/Jepang dan zaman negara Indonesia yangberdaulat.Pada masa penjajahan standar dijadikan sebagai sarana pendukung kegiatanekonomi kolonial sehingga dapat berjalan dengan lancar. Pembangunan jalan rayaterutama di bagian utara pulau Jawa, pelabuhan, jalan kereta api, pembukaan arealperkebunan, pendirian jaringan irigasi, pembangunan pabrik gula dan sebagainya,semuanya memerlukan kehadiran standar. Namun ini tidak berarti, bahwapembangunan seluruhnya dilaksanakan berdasarkan standar Belanda semata. Perludiperhatikan bahwa kondisi seperti iklim, vegetasi, geografi, topografi dan lainsebagainya di kepulauan Indonesia sangat beda dengan negeri Belanda. Di tanah air10

kita jumpai pegunungan, sedangkan Belanda dikenal sebagai “flat land”. Adaptasidapat kita lihat pada desain bangunan lama (yang masih tersisa), desain yang telahdisesuaikan dengan kondisi iklim tropis lembab serta trajektori jalan dan jaringanlintasan kereta api.Pada tahun 1928 di Hindia Belanda (Nederlands Indie), atas prakarsa KIVI(Koninklijk Instituut van Ingenieurs) didirikan “Stichting Fonds voor de Normalisatiein Nederlands Indie (Yayasan Normalisasi di Hindia Belanda) dan “NormalisatieRaad” (Dewan Normalisasi) yang berkedudukan di Bandung. Para ahli teknikBelanda yang kebanyakan adalah insinyur sipil mulai menyusun standar untuk bahanbangunan, alat transportasi disusul dengan standar instalasi listrik dan persyaratanuntuk saluran luar. Selama perang dunia II dan pada masa pendudukan Jepang (1942 1945) dapat dikatakan bahwa kegiatan standardisasi formal terhenti.Pada 17 Agustus 1945 diproklamirkan kemerdekaan Indonesia. npembangunanuntukmeningkatkan taraf kehidupan dan kesejahteraan rakyat menuju kesetaraan dengannegara - negara lain.Pada tahun 1951 diadakan perubahan anggaran dasar “Normalisasi Raad” danterbentuk YDNI (Yayasan Dana Normalisasi Indonesia). Pada tahun 1955 YDNImewakili Indonesia menjadi anggota ISO dan pada tahun 1966 YDNI berhasilmewakili Indonesia menjadi anggota IEC.Di bidang standardisasi telah disusun Undang-undang No. 10 Tahun 1961yang dikenal dengan nama “Undang-undang Barang”. Ternyata undang - undang inibelum dapat merupakan sarana pengelola kegiatan standardisasi secara menyeluruh.Kegiatan standardisasi ketika itu masih bersifat sektoral yang dilaksanakanoleh berbagai departemen, antara lain Departemen Perindustrian, DepartemenPerdagangan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Kesehatan, DepartemenPertanian, Departemen Kehutanan serta beberapa lembaga/instansi pemerintah lainseperti LIPI, BATAN, Biro Klasifikasi Indonesia dan lain-lain serta beberapa asosiasi.Fungsi strategis standardisasi dalam menunjang pembangunan nasional telahdisadari sepenuhnya oleh pemerintah. Pada tahun 1973 ditetapkan program“Pengembangan Sistem Nasional untuk Standardisasi” sebagai prioritas dan padatahun 1976 dibentuk Panitia Persiapan Sistem Standardisasi Nasional. Pada tahun1984 dengan SK Presiden RI dibentuk Dewan Standardisasi Nasional dengan tugas11

pokok menetapkan kebijakan standardisasi, melaksanakan koordinasi dan membinakerjasama di bidang standardisasi nasional.Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan lama, akhirnya pada tahun1997, sesuai Keputusan Presiden No. 13 tahun 1997 dibentuklah BadanStandardisasi Nasional, yang telah dinantikan cukup lama. Dalam rangkameningkatkan pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI), maka pemerintahmenerbitkan Peraturan Pemerintah 102 tahun 2000 tentang sistem standardisasinasional.1.4 Tujuan standardisasi secara umumDengan mengutip uraian dari buku “The aims and principles ofStandardization” yang diterbitkan oleh ISO maka tujuan standardisasi dapatdijabarkan sebagai berikut:Kesesuaian untuk penggunaan tertentu (fitness for purpose)Kemampuan proses, produk atau jasa untuk memenuhi kegunaan yang ditetapkandalam kondisi spesifik tertentu. Setiap proses, produk atau jasa dimaksudkan untukdapat memenuhi kebutuhan pemakai. Standar berguna untuk mengidentifikasiparameter optimum bagi kinerja suatu proses, produk atau jasa dan metode untukevaluasi pemenuhan persyaratan terkait. Standar dapat pula mempersyaratkan kondisipenggunaan proses, produk atau jasa, untuk mencegah terjadinya kegagalan proses,produk atau jasa akibat pemakaian yang tidak tepat oleh pengguna atau akibat tidakdipenuhinya persyaratan mutu proses, produk atau jasa.Mampu tukar (interchangeability)Kesesuaian bahwa suatu produk, proses atau jasa dapat digunakan untuk menggantidan memenuhi persyaratan relevan disebut mampu tukar. Melalui penetapan standarproses, produk atau jasa dapat saling dipertukarkan. Contoh: bilah pisau cukur (silet)dari merek berbeda dapat digunakan di alat cukur yang sama.12

Pengendalian keanekaragaman (variety reduction)Salah satu tujuan pengendalian keaneka ragaman adalah untuk menentukan jumlahukuran optimum, grade, komposisi, “rating”, dan cara kerja (practices) untukmememenuhi kebutuhan tertentu. Jumlah ragam yang berlebihan akan menyulitkankonsumen dalam memilih produk yang sesuai dengan keinginannya serta dari segiprodusen akan meningkatkan biaya produksi. Contoh: standar ukuran kertas (seri A).Kompatibilitas (compatibility)Tujuan dari kompatibilitas adalah kesesuaian proses, produk atau jasa untukdigunakan secara bersamaan dengan kondisi spesifik untuk memenuhi persyaratanrelevan, tanpa menimbulkan interaksi yang tidak diinginkan. Contoh: pemrosesandata elektronik, informasi harus dalam bentuk kode untuk penyimpanan, transmisi danretrival dalam bentuk pulsa elektronik. Agar kode tadi pada setiap saat dikenali olehberbagai jenis piranti, kode harus distandardisasi. Standardisasi di bidang inimendukung usaha untuk memperoleh kompatibilitas antara berbagai piranti atau subsistem dan membuka peluang untuk ekspansi fitur dan pertukaran informasi antarberbagai sistem.Meningkatkan pemberdayaan sumber nmeningkatkanpemanfaatan sumber daya seperti material, modal dan optimasi pemberdayaanmanusia merupakan tujuan penting dari standardisasi. Di unit manufaktur misalnya,aspek standardisasi material, komponen dan metode produksi dimanfaatkan untukmengurangi pemborosan dan memungkinkan penerapan produksi dengan cara yanglebih baik. Sebagai contoh: konstruksi bangunan sipil, pencampuran adukan (semen :pasir : air sesuai standar) dilakukan dengan perbandingan yang benar, begitu pulapemakaian besi beton untuk beton bertulang sehingga mencapai kekuatan yangdipersyaratkan sesuai rekomendasi standar dan pedoman bangunan.Komunikasi dan pemahaman yang lebih baikSalah satu fungsi penting dari standar adalah untuk memperlancar komunikasi antaraprodusen dan pemakai/konsumen dengan memspesifikasi subjek yang ada danmemberikan kepercayaan bahwa produk yang dipesan memenuhi persyaratan yang13

tercantum dalam standar. Dalam standar nasional/internasional telah di

Gambar 1.1 Bangunan kuno Ziggurat di Mesopotamia Kebudayaan kuno mengandalkan pengetahuan mereka tentang pergerakkan bulan, matahari, dan bintang-bintang di angkasa untuk menentukan waktu yang tepat untuk menanam atau memanen tanaman pangan mereka, untuk merayakan hari-hari yang