Transcription

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN JUMANTIKTENTANG DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)DENGAN KINERJA JUMANTIKSeptiana Ma’rifah*, Nurullya Rachma**1) Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro(email : [email protected])2) Staff Pengajar Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro(email : nurullya [email protected])ABSTRAKPenyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virusdengue. Juru Pemantau Jentik (Jumantik) merupakan kader dari masyarakat yang dilatih oleh petugaskesehatan mengenai penyakit DBD. Jumantik biasanya berasal dari desa yang bersangkutan yangmempunyai kinerja yang baik serta pengetahuan yang lebih baik daripada masyarakat di wilayah tersebut.Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang DBD dengan kinerja jumantik.Metode penelitian adalah crossectional dengan pendekatan kuantitatif dan studi deskriptif korelatif.Subyek penelitian ini adalah jumantik sejumlah 63 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitiandilakukan pada bulan Mei-Juni 2013 di Desa Ngesrep, Ngemplak, Boyolali. Data diperoleh melalui iresponden (door to door) dan melalui pertemuan rutin jumantik menggunakan kuesioner pengetahuanjumantik tentang DBD dan kuesioner kinerja jumantik. Uji statistik menggunakan statistik deskriptifuntuk menilai hubungan antara pengetahuan jumantik tentang DBD dengan kinerja jumantik.Hasil penelitian menunjukkan Jumantik yang memiliki pengetahuan tinggi sebanyak 41 orang (65,08%)dan rendah sebanyak 22 orang (34,92%). Serta Jumantik yang memiliki kinerja tinggi sebanyak 35 orang(55,56%), dan rendah sebanyak 28 orang (44,44%). Hasil analisis menunjukkan ada hubungan antarapengetahuan jumantik tentang DBD dengan kinerja jumantik dengan p value 0,000. Perlu dilakukanpenelitian lebih lanjut mengenai dampak adanya Jumantik dalam pencegahan penyakit DBD.Kata kunci : DBD, Jumantik, pengetahuan, kinerjaHubungan Antara Pengetahuan Jumantik Tentang Demam Berdarah Dengue (DBD)dengan Kinerja JumantikSeptiana Ma’rifah, Nurullya Rachma39

PENDAHULUANPenyakit Demam Berdarah Dengue(DBD) merupakan salah satu penyakitmenular yang tersebar di seluruh duniaterutama di daerah tropis, seperti Indonesia(Soedarto, 2009). Penyakit DBD telahmenyerang hampir seluruh kota diIndonesia dan jumlah penderitanya hampirsetiap tahun semakin meningkat bahkansampai menyebabkan kematian (Depkes,2010).Meningkatnya jumlah kasus DBD danmeluasnya wilayah yang terjangkit,disebabkan karena adanya pemukimanbaru, kurangnya perilaku masyarakat untukmenguras bak mandi, dan n penduduk yang cepat danperkembangan pembangunan di daerahpedesaan juga dapat mempengaruhiperkembangbiakan vektor penyebab DBD(Budiman, 2009). Keadaan itu tidakterlepas dari adanya peningkatan pendudukyang mencapai 1,49 persen serta adanyaperubahan lingkungan yang menyebabkanmenurunnya kualitas fungsi lingkungan,sebagai akibat pembangunan yang tidakberpihak pada lingkungan (Azizah, 2010).Upaya pencegahan DBD dilakukansecara terorganisir di kota dan desa. Upayapencegahan yang dilakukan mencakuppenyuluhan dan pendidikan kesehatanmengenai DBD, penyelidikan epidemiologi,Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sertaPemeriksaan Jentik Berkala (PJB) (Depkes,2003). Upaya pencegahan dilakukan olehpetugas kesehatan, seluruh masyarakat, dankader kesehatan (Depkes, 2010). Kader darimasyarakat yang telah dilatih oleh petugaskesehatan mengenai penyakit DBD dancara-cara pencegahannya disebut Jumantik(Juru Pemantau Jentik). Seorang jumantikbiasanyaberasaldaridesayangbersangkutan yang mempunyai kinerja yangbaik serta pengetahuan yang lebih baikdaripada masyarakat di wilayah tersebut (R.Fallen, 2010).Kinerja adalah hasil yang dicapai olehseseorang atau sekelompok orang dalammelaksanakan tugas, wewenang dantanggung jawab masing-masing gunamencapai tujuan organisasi (Djoko, 2007).Dalam pencapaian tujuan tersebut, harus40sesuai dengan norma dan etika yang adadan tidak melanggar hukum. Kinerja darijumantik itu sendiri harus sesuai dengantujuan dari adanya jumantik. Tujuan adanyajumantik adalah memberikan bimbingandan penyuluhan agar masyarakat terhindardari penyakit DBD (Ari Luthfiana, 2008).Jumantik yang mengetahui dan memahamitugas dan tanggungjawabnya, maka kinerjajumantik akan berhasil dengan baik.Berdasarkan uraian di atas, maka tujuandari penelitian ini adalah untuk mengetahui“Hubungan antara pengetahuan tentangDBD dengan kinerja Jumantik di DesaNgesrep, Ngemplak, Boyolali”.METODEPenelitian ini merupakan penelitiankuantitatif dengan jenis deskriptif korelatif.Populasi dalam penelitian ini adalahJumantik di Desa Ngesrep, Ngemplak,Boyolali. Penentuan sampel menggunakanteknik total sampling, sehingga didapatkanresponden yang berjumlah 63 Jumantik.Pengumpulan data dilakukan denganmenyebarkan kuesioner kepada responden.Kuesioner yang digunakan dalam penelitianini adalah kuesioner pengetahuan jumantikyang dibuat sendiri oleh peneliti dengannilai reliabilitas 0,830 dan kuesioner kinerjajumantik yang dikembangkan oleh penelitidengan nilai reliabilitas 0,720.Analisis data menggunakan analisisunivariat dan bivariat. Analisis univariatmeliputi karakteristik jumantik (umur, jeniskelamin, pendidikan dan pengetahuan) dankinerja jumantik, sedangkan analisisbivariat yaitu mengetahui hubungan antarapengetahuan jumantik tentang DBD dengankinerja jumantik.HASILTabel 1Distribusi Frekuensi Jumantik menurutUsia di Desa Ngesrep,Ngemplak, Boyolali Tahun 2013 (n 63)UsiaJumlah Persentase 35 tahun1219 355181tahunTotal63100Jurnal Keperawatan Komunitas . Volume 2, No. 1, Mei 2014; 39-45

Tabel 2Distribusi Frekuensi Jumantik menurutJenis Kelamin di Desa Ngesrep,Ngemplak, Boyolali Tahun 2013 (n 63)JenisJumlah PersentaseKelaminPerempuan63100Total63100Tabel 3Distribusi Frekuensi Jumantik menurutTingkat Pendidikan di Desa Ngesrep,Ngemplak, Boyolali Tahun 2013 (n 63)Pendidikan Jumlah ,11TinggiTotal63100Tabel 4Distribusi Frekuensi Jumantik menurutPengetahuan di Desa Ngesrep,Ngemplak, Boyolali Tahun 2013 (n 63)Pengetahuan Jumlah l 5Distribusi Frekuensi Kinerja Jumantikdi Desa Ngesrep,Ngemplak, Boyolali Tahun 2013 (n 63)KinerjaJumlah l 6Hubungan Pengetahuan dengan KinerjaJumantik di Desa Ngesrep, Ngemplak,Boyolali Tahun 2013 (n 63)KinerjaTotalPengetahuan RendahTinggiN %N% N %Rendah18 28,646,3 22 34,9Tinggi10 15,9 31 49,2 41 65,1Total28 44,4 35 55,6 63 100p-value 0,000DISKUSIA. Pengetahuan JumantikPengetahuan(knowledge)merupakan hasil dari tahu danpengalamanseseorangdalammelakukan penginderaan terhadapsuaturangsangantertentu(Notoatmodjo, 2003). Pengetahuanatau kognitif merupakan dominan yangsangat penting dalam membentuktindakan seseorang (overt behavior)(Fenny, 2007 & Dina, 2009). Tanpapengetahuan yang cukup, makakemungkinanuntukmelakukantindakan yang benar tidak mungkinakan tercapai (Notoatmodjo, 2003).Jumlah Jumantik yang memilikipengetahuan tinggi lebih banyakdikarenakanrata-ratajumantikmemiliki umur lebih dari 35 tahun.Data dapat dilihat bahwa seharusnyauntuk pengelompokkan usia Jumantikmenggunakan mean, tetapi dalam halini pengelompokkan usia disesuaikandengan persyaratan menjadi Jumantik.Syarat menjadi seoarang Jumantikadalah usia maksimal 35 tahun,sehingga usia dibagi menjadi duakelompok yaitu kelompok usia kurangdari sama dengan 35 tahun (memenuhipersyaratan) dan kelompok usia lebihdari 35 tahun (tidak memenuhipersyaratan) (Depkes, 2004).Hal tersebut sesuai dengan teoriyang menyebutkan bahwa mmemperolehpengetahuan(Notoatmodjo, 2003). Selain itusemakinlanjutusiaseseorangdiharapkan semakin matang jiwa dansemakin bijaksana, semakin berfikirsecara rasional, semakin mampumengontrol emosi, semakin tolerandengan perilaku dan pandangan yangberbeda dari perilaku sendiri (P.Sondang, 2005).Faktor lain yang mempengaruhipengetahuan Jumantik yaitu tingkatpendidikan Jumantik yang sebagianbesar memiliki tingkat pendidikantinggi, yaitu SMA dan PerguruanTinggi. Beberapa teori menyatakanHubungan Antara Pengetahuan Jumantik Tentang Demam Berdarah Dengue (DBD)dengan Kinerja JumantikSeptiana Ma’rifah, Nurullya Rachma41

semakin tinggi pendidikan seseorang,semakin tinggi pula pengetahuan dansikapnya. Dengan adanya pengetahuanyang memadai seseorang anmenampilkanproduktifitasdankualitas kerja yang tinggi dan adanyakesempatan untuk mengembangkandan mewujudkan kreatifitas. Salah satutujuanpendidikanadalahmengembangkan dan meningkatkanpengetahuan (Notoatmodjo, 2003).Jadi, semakin tinggi tingkat pendidikanseseorang maka semakin banyakpengetahuan yang diperoleh sehinggadapat mempengaruhi kesadaran sertakeinginan untuk mencoba hal-hal yangbaru.B. Gambaran dari Kinerja JumantikKader merupakan motor penggerakyang sampai saat ini masih diakuieksistensinya dalam menggerakkankeluarga dan masyarakat untuk hidupsehat sehingga dapat dikatakan bahwakeberhasilannya sangat ditentukan gdalammelaksanakan tugas pekerjaan. Daristudi kepustakaan tersebut dapatdikatakan bahwa kinerja kader dapatdiukur berdasarkan uraian tugasnyabaik pada saat hari pelaksanaanmaupun diluar hari pelaksanaan(Zuhrina, 2010).Baik atau buruknya suatu kinerjadipengaruhi oleh banyak hal antaralain kemampuan pribadi yang merekamiliki, motivasi dan dukungan yangditerima, keberadaan pekerjaan yangmereka lakukan, hubungan merekadenganorganisasi,kemampuanmanajer, kesenjangan proses, masalahlingkungan dan situasi pribadi dalammeningkatkanmutupelayanankesehatan yang berdampak padaorganisasi tempat kerja yang padaakhirnyaberdampakpadakesejahteraan dan kualitas hidupmasyarakat (R. L. Mathis, 2003).Umurdapatmempengaruhiproduktivitas dalam bekerja. Pada42umumnya, umur yang masih muda danbaru menginjak dewasa memilikitingkat kinerja yang baik dan optimaldibandingkan dengan tenaga kerjayangusianyasudahdewasa.Kelemahan umur yang masih mudadiantaranyamasih labildalammembuat suatu keputusan, lebih tidakpeduli dengan lingkungan sekitar,tingkat emosi yang tinggi dan tidaksabar dalam menyelesaikan suatupekerjaan, sedangkan umur yang lebihdewasa lebih memiliki banyakpengalaman. Sehingga dapat diartikanbahwasemakindewasaumurseseorang maka semakin tinggi tingkatpengalamannya (E. Sukiarko, 2007).Usia produktif maksimal umur 40tahun lebih mampu berkinerja dalamilmu pengetahuan dan kesenian, karenakreatifitasnya lebih tinggi dibandingumur diatas 40 tahun (Mia, 2012).Semakin bertambah umur kemampuandan motivasi kerja akan menurun,sebaliknya semakin muda umurseseorang maka akan semakin kreatifdan inovatif (Stephen P, 2003). Namunpengaruh umur ini tidak mutlak karenaada faktor kepuasan, penghargaan danbeban kerja yang juga dapatberpengaruh terhadap motivasi kaderdalam menjalankan tugas-tugasnya.Hasil penelitian menyebutkanbahwa kader memiliki kemampuanyang baik dan mendapat dukungan dariberbagai pihak. Hal ini sangatdiperlukanolehkaderuntukmeningkatkan motivasi kerja agartercapainyapeningkatankinerjamenjadi lebih baik, mengingat bahwakader melaksanakan tugasnya dengansukarela. Dukungan tokoh masyarakatdapat meningkatkan kepercayaan dirikader dalam melaksanakan tugastugasnya. Dukungan tidak hanyabersifat materil tetapi juga dalambentuk moril sehingga jika kadermenemukanhambatandalampekerjaannya dapat melibatkan tokohmasyarakat dalam mengatasi hambatantersebut (Zuhrina, 2010).Jurnal Keperawatan Komunitas . Volume 2, No. 1, Mei 2014; 39-45

C. Hubungan Pengetahuan denganKinerja JumantikDalam melakukan tugasnya sebagaipemantau jentik, seorang jumantikmemiliki beberapa variabel individuyang dapat mempengaruhi kinerjanyasebagai jumantik. Salah satu variabelindividu tersebut adalah kemampuandan ketrampilan yang termasuk dalampengetahuan (Djoko, 2007).Penelitian ini menunjukkan bahwaJumantik yang memiliki pengetahuantinggi(65,08%)lebihbanyakdibandingkan Jumantik yang memilikipengetahuan rendah (34,92%). Adanyapengetahuan yang memadai seseorangdapat memenuhi kebutuhan itasdankualitas kerja yang tinggi dan adanyakesempatan untuk mengembangkandanmewujudkankreatifitas(Notoatmodjo, 2003). Dalam hal inidiharapkan bahwa Jumantik yangmemiliki pengetahuan tinggi akanmemiliki kinerja lebih tinggi daripadayang memiliki pengetahuan rendah.Penelitian ini menunjukkan bahwajumantik yang memiliki kinerja tinggi(55,56%) lebih banyak dibandingkandengan jumantik yang memiliki kinerjarendah (44,44%).Dari hasil penelitian ini dapatdilihat bahwa ada hubungan antarapengetahuan dengan kinerja Jumantikdi Desa Ngesrep, Ngemplak, Boyolali.Penelitian ini sejalan dengan penelitianyang menyatakan bahwa pengetahuanyang baik menunjukkan kinerja klinisperawat akan lebih baik sehinggapelayanan keperawatan yang diberikanakan lebih baik.51 Demikian pulapenelitian lain, dimana pengetahuanyang cukup dapat meningkatkankinerja seorang kader (Vita Nur,2010).Perilaku yang didasari olehpengetahuan dan kesadaran akan lebihbertahan lama daripada perilaku yangtidak didasari oleh pengetahuan dankesadaran(Emanuel,2008).Pengetahuan yang baik tentang tugasdan tanggung jawab di dalam suatuorganisasicenderungakanmeningkatkan kualitas pekerjaannya(Iing, 2007). Hal ini sesuai denganteori bahwa pengetahuan adalahkumpulan informasi yang dipahami,diperoleh dari proses belajar selamahidup dan dapat digunakan sewaktuwaktu sebagai alat penyesuaian diribaik terhadap diri sendiri maupunlingkungannya(Emanuel,2008).Pengetahuan merupakan pemahamanlisan seorang pekerja tentang apa yangdiketahui dari pengalaman dan prosesbelajar (Harisman, 2012).Pengetahuan yang dimiliki kadertercermin dalam kehidupan sehari-hariterutama keaktifan kader dalammenggerakkanmasyarakat.Pengetahuan sangat penting dalammemberikan pengaruh sikap dantingkahlakukaderterhadappemeliharaan kesehatan masyarakat(Harisman, 2012). Apabila kadertersebut memiliki pengetahuan yangbaik tentang tugasnya, maka dia akandapat menyelesaikan tugasnya denganbaik, dan demikian sebaliknya (Iing,2007).KESIMPULANJumlah jumantik yang mempunyaipengetahuantinggilebihbanyakdibandingkan dengan jumantik yangmemiliki pengetahuan rendah, jumlahjumantik yang mempunyai kinerja tinggilebih banyak dibandingkan denganjumantik yang mempunyai kinerja rendah,sehinggaterdapathubungan antarapengetahuan Jumantik tentang DBD dengankinerja Jumantik di Desa Ngesrep,Ngemplak, Boyolali.Saran yang diberikan kepada jumantik,pihak puskesmas, ilmu keperawatan danpeneliti selanjutnya. Jumantik diharapkansupaya terus menggali ilmu pengetahuandan pengalaman untuk meningkatkankinerja dalam pelaksanaan pemantauanjentik maupun kegiatan PSN, yaitu denganmelakukan pertemuan rutin antar jumantikdan mengikuti penyuluhan maupunpendidikan kesehatan tentang penyakitDBD. Puskesmas dapat melakukankegiatan-kegiatan yang dibutuhkan untukHubungan Antara Pengetahuan Jumantik Tentang Demam Berdarah Dengue (DBD)dengan Kinerja JumantikSeptiana Ma’rifah, Nurullya Rachma43

meningkatkanpengetahuanJumantikseperti memberikan penyuluhan kepadakader jumantik dan masyarakat mengenaiDBD,mengadakan pelatihan terhadapkader Jumantik dan menggerakkan kaderjumantik dengan lebih baik sehinggapelaksanaan PSN di Desa Ngesrep lebihefektif. Ilmu keperawatan dapat melakukanpenyusunan program kesehatan, evaluasiprogram, dan upaya peningkatan programkesehatan seperti penyusunan programpencegahan,penatalaksanaandanpemberantasan DBD. Peneliti dapatmelakukan penelitian lanjutan mengenaikinerja dari Jumantik dari seluruh aspektidak hanya prosesnya saja tetapi juga hasildan dampak dari kinerja tersebut. Penelitijuga dapat melakukan penelitian lanjutanmengenai kinerja dengan memperhatikanfaktor-faktor yang berhubungan dengankinerja dari Jumantik.UCAPAN TERIMA KASIHPihak Desa Ngesrep, Ngemplak,Boyolali dan Jumantik selaku respondendalam penelitian ini.DAFTAR PUSTAKAAidha, Zuhrina. 2010. Kinerja PetugasPosyandu dan Kepuasan IbuPengguna Posyandu di Desa SeiSemayang Kabupaten Deli Serdang.Skripsi. Fakultas KeperawatanUniversitas Sumatra Utara.Aztari, Fenny. 2007. Tingkat Pengetahuan,Sikap dan Tindakan MasyarakatMengenai Pencegahan PenyakitDemam Berdarah Dengue diKelurahan Aur Kuning Bukit Tinggi.Skripsi. Padang. FK UniversitasAndalas.Chandra, Budiman. 2006. PengantarKesehatan Lingkungan. Jakarta :EGC.Depkes RI. 2003. Indikator IndonesiaSehat 2010 dan Pedoman PenetapanIndikator Provinsi Sehat danKabupaten/Kota Sehat. Jakarta.Depkes RI. 2004. Juru Pemantau Jentik(Jumantik) Salah Satu PeranMasyarakat dalam PenanggulanganDemam Berdarah Dengue (DBD).44Jakarta : Tim Penanggulangan DBDDepkes RI.Depkes RI. 2010. Pencegahan danPemberantasan Demam BerdarahDengue di Indonesia. Jakarta :Depkes RI Direktorat Jenderal PP &PL.Fallen, R & Budi Dwi K. 2010. “CatatanKuliah” Keperawatan Komunitas.Yogyakarta : Nuha Medika.Gama, Azizah & Faizah Betty R. AnalisisFaktor Risiko Kejadian DemamBerdarahDengueDiDesaMojosongo Kabupaten Boyolali.Jurnal Eksplanasi, Volume 5, Nomor2, Edisi Oktober 2010 : 1-9.Harisman & Dina Dwi Nuryani. 2012.Faktor-Faktor Yang MempengaruhiKeaktifan Kader Posyandu Di DesaMulang Maya Kecamatan KotabumiSelatan Kabupaten Lampung UtaraTahun 2012. FKM UniversitasMalahayati Bandar Lampung.Hasmoko, Emanuel Vensi. 2008. AnalisisFaktor-Faktor yang MempengaruhiKinerja Klinis Perawat berdasarkanPenerapan Sistem PengembanganManajemen Kinerja Klinis (SPMKK)di Ruang Rawat Inap Rumah SakitPanti Wilasa Citarum SemarangTahun 2008. Tesis. ProgramPascasarjana. UniversitasDiponegoro, Semarang.Latif, Vita Nur. 2010. Hubungan FaktorPredisposing Kader (PengetahuanDan Sikap Kader TerhadapPosyandu) Dengan Praktik KaderDalam Pelaksanaan Posyandu DiWilayah Kerja PuskesmasWonokerto. Skripsi. Fakultas IlmuKesehatan. Universitas tahuan, Sikap, dan TindakanMengenai DBD Pada Keluarga DiKelurahan Padang Bulan Tahun2009. Skripsi. FK UniversitasSumatra Utara, MedanMasruroh, Siti. 2004. Perilaku Keluargadalam pencegahan Penyakit DemamBerdarah Dengue melalui KegiatanPSN(PemberantasanSarangNyamuk) di Kelurahan PudakJurnal Keperawatan Komunitas . Volume 2, No. 1, Mei 2014; 39-45

Payung Kota Semarang. Skripsi(tidak dipublikasikan). Semarang :PSIK FK UNDIP.Mathis, R. L., dan J.H. Jackson. 2003.Manajemen Sumber Daya Manusia,Terjemahan. Jakarta : SalembaEmpat.Notoatmodjo. 2003. Pendidikan danPerilaku Kesehatan. Jakarta : RinekaCipta.Robbins, Stephen P. 2003. PerilakuOrganisasi. Jakarta : GRAMEDIA.Siagian, P. Sondang. 2005. KiatMeningkatkan Produktivitas Kerja.Jakarta Rineka Cipta.Soedarto. 2009. Penyakit Menular diIndonesia. Jakarta : CV Sagung Seto.Sukiarko, E. 2007. Pengaruh Pelatihandengan Metode Belajar BerdasarkanMasalah terhadap Pengetahuan danKeterampilan Kader Gizi dalamKegiatan Posyandu di KecamatanTempuran Kabupaten Magelang.Dikutip dariwww.eprints.undip.ac.id/15497/1/Edy Sukiarko.pdf. Diakses tanggal 14Juli 2012Ulya,Ari Luthfiana. 2009. KinerjaJumantik Kelurahan Cilandak TimurTahun 2008. Jakarta : FKM UI.Wijono, Djoko. 2007. Evaluasi ProgramKesehatan & Rumah Sakit. Surabaya: CV Duta Prima Airlangga.Yuliastuti, Iing. 2007. PengaruhPengetahuan, Keterampilan danSikap terhadap Kinerja Perawatdalam Penatalaksanaan Kasus FluBurung di RSUP H Adam MalikTahun 2007. Sekolah PascasarjanaUniversitas Sumatra Utara Medan.Yuniar, Mia. 2012. Pengaruh HealthPromotion Model terhadapPeningkatan Pengetahuan danMotivasi Kader Posyandu diKelurahan Kober KecamatanPurwokerto Barat. JurusanKeperawatan, Fakultas Kedokterandan Ilmu-ilmu Kesehatan,Universitas Jenderal Soedirman.Purwokerto.Zubaedah, Ida Siti. 2007. HubunganFaktor-FaktorSumberDayaManusia terhadap Kinerja PetugasPokja DBD Tingkat Kelurahan diKota Tasikmalaya. Tesis. ProgramPascasarjanHubungan Antara Pengetahuan Jumantik Tentang Demam Berdarah Dengue (DBD)dengan Kinerja JumantikSeptiana Ma’rifah, Nurullya Rachma45

Serta Jumantik yang memiliki kinerja tinggi sebanyak 35 orang (55,56%), dan rendah sebanyak 28 orang (44,44%). Hasil analisis menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan jumantik tentang DBD dengan kinerja jumantik dengan p value 0,000. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai dampak adanya Jumantik dalam pencegahan penyakit DBD.