Transcription

LITERASI DIGITAL KELUARGAA

LITERASI DIGITAL KELUARGATeori dan Praktik Pendampingan Orangtuaterhadap Anak dalam BerinternetEditorNovi KurniaPenulisNovi KurniaEngelbertus WendratamaWisnu Martha AdiputraIntania PoerwaningtiasEditor BahasaRahayuBirgitta Purnama PutriCENTER FOR DIGITAL SOCIETY (CfDS)FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS GADJAH MADAYOGYAKARTA2017

LITERASI DIGITAL KELUARGATeori dan Praktik Pendampingan Orangtua terhadap Anak dalam BerinternetEditor:Novi KurniaPenulis:Novi KurniaEngelbertus WendratamaWisnu Martha AdiputraIntania PoerwaningtiasEditor Bahasa:RahayuBirgitta Purnama PutriProofreader:Intania PoerwaningtiasDesain Grafis & Layout:Gupita PramahayektiDiterbitkan oleh XXXHak cipta dilindungi oleh undang-undang.Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpaizin tertulis dari penerbit.Cetakan I, 2017xii 136 halaman; 15 cm x 21 cmISBN: XXX

PRAKATABuku Literasi Digital Keluarga: Teori dan Praktik Pendampingan Orangtua terhadapAnak dalam Berinternet berawal dari keprihatinan saya melihat maraknyapenggunaan internet dan gawai oleh anak-anak, terutama mereka yang masihberusia dini. Anak-anak ini seringkali menggunakan internet tanpa pendampinganmemadai dari orangtua. Beberapa orangtua bahkan dengan sengaja memberikanberbagai perangkat teknologi terkini agar anak diam dan sibuk bermain internet,sehingga tidak ‘mengganggu’ mereka. Bahkan tidak jarang, baik anak maupunorangtua masing-masing sibuk dengan gawainya. Fenomena ini menunjukkankecakapan literasi digital orangtua masih minim yang mengakibatkanpenyalahgunaan internet oleh anak.Kecakapan literasi digital, tentu saja bukan hanya berkaitan dengan keterampilanteknis mengakses internet, namun juga kemampuan dalam memfilter beragaminformasi dan hiburan yang disediakan oleh internet, termasuk di sini beragamaplikasi di ponsel yang digemari anak-anak. Dengan demikian, literasi memilikimakna bukan hanya sebatas proses anak berinteraksi dengan internet, tapi jugabagaimana interaksi tersebut memiliki kontribusi pada beragam aspek tumbuhkembang anak. Dalam pengertian ini, literasi juga meliputi peran orangtuadalam mendampingi anak, terutama mereka yang berusia dini. Interaksi anakdengan internet dan juga interaksi orangtua dengan anak dalam pendampinganmenggunakan internet idealnya merupakan suatu proses yang simultan.Sayangnya, observasi tentang interaksi dan proses ini belum banyak dilakukandi Indonesia.Dalam dunia akademis, praktik penggunaan internet yang semakin intens dikalangan anak usia dini, memunculkan perdebatan mengenai pengaruhnya,apakah penggunaan tersebut bermanfaat atau justru merugikan. Perdebatanakademis yang lain adalah mengenai pendampingan orang tua, sejauh mana

orangtua mampu mendampingi anak dan sejauh mana kecakapan literasi digitalyang orangtua miliki mampu mendukung proses pendampingan tersebut.Kepedulian mengenai pentingnya literasi digital keluarga ini mendorong sayauntuk melakukan penelitian dengan tema pendampingan orangtua terhadapanak dalam menggunakan internet di Yogyakarta. Tema ini saya pilih sebagaitopik penelitian tahunan saya sebagai staf pengajar Departemen Ilmu KomunikasiFISIPOL UGM melalui hibah penelitian Program Studi Magister Ilmu KomunikasiUGM. Selain itu, penelitian ini juga menjadi bagian dari program pengabdianmasyarakat dengan tema literasi digital yang diselenggarakan oleh Program StudiMagister Ilmu Komunikasi UGM. Prodi ini menjadi koordinator program penelitiantentang pemetaan gerakan literasi digital di Indonesia yang melibatkan 56 penelitidari 26 universitas di 9 kota yang tergabung dalam Jaringan Pegiat Literasi Digital(Japelidi).Penelitian saya ini menarik minat beberapa rekan yang mempunyai minatsama pada isu literasi digital. Mereka adalah Engelbertus Wendratama, WisnuMartha Adiputra dan Intania Poerwaningtias. Para peneliti ini bergabung dalampenelitian dan menjadi bagian dari penulisan buku ini. Kami memilih 14 (empatbelas) keluarga di Yogyakarta dengan anak berusia 2 hingga 12 tahun sebagaisubjek penelitian. Alasannya, anak pada usia tersebut sedang dalam masa awalpertumbuhan dan perkembangan yang menjadi pondasi kebiasaannya berinternetdi masa mendatang.Dalam proses penelitian, saya mendapatkan tawaran dari Center for DigitalSociety (CfDS), sebuah pusat studi di FISIPOL UGM, untuk mengajukan proposalpenulisan buku. Gayung pun bersambut karena salah satu topik yang ditawarkanadalah literasi digital. Dengan adanya persamaan tema tersebut, saya dan timmemutuskan untuk menuangkan hasil penelitian kami ke dalam buku ini.Untuk mendiskusikan persoalan literasi digital keluarga secara komprehensif,buku teks yang didesain semipopuler ini memberikan diskusi teoretis terkait:masyarakat modern dan internet, penggunaan internet oleh anak, serta literasimedia dan literasi digital dan peran orangtua dalam literasi digital. Sebagaipelengkap pembahasan teoretis, buku ini menawarkan analisis kasus mengenaiii

pola pendampingan orangtua terhadap anak dalam penggunaan internet.Beragam data yang diperoleh dari beragam teknik pengumpulan data diolahsedemikian rupa untuk dapat merumuskan panduan pendampingan orangtuadalam menemani anak menggunakan internet.Dengan memadukan teori dan praktik literasi digital keluarga, buku ini mempunyaisasaran pembaca yang relatif luas. Pertama, akademisi, peneliti, dan mahasiswayang tertarik pada isu literasi digital terutama pada institusi keluarga. Mereka bisamemanfaatkan buku ini sebagai referensi. Kedua, pegiat literasi media dan literasidigital yang menaruh perhatian pada persoalan penggunaan internet pada anakanak dan peran orangtua dalam pendampingan. Mereka dapat menggunakanbuku ini sebagai panduan dalam melakukan berbagai kegiatan literasi media atauliterasi digital, terutama yang target sasarannya adalah anak-anak dan orangtua.Ketiga, orangtua yang mempunyai kepedulian terhadap interaksi anak denganinternet dan dampak yang ditimbulkannya. Buku ini dapat dimanfaatkan sebagaireferensi untuk meningkatkan kecakapan literasi digital anak. Selain itu, buku inijuga bisa berfungsi sebagai panduan dalam mendampingi anak dalam berinteraksidengan internet. Keempat, guru yang mendampingi anak dalam menggunakaninternet di sekolah, misalya dalam proses pengajaran dan pemberian tugas. Bukuini pun bisa bermanfaat sebagai panduan bagi guru agar mempunyai kecakapanliterasi digital dalam mendampingi anak-anak di sekolah.Buku ini diharapkan memberikan manfaat yang luas bagi pembaca. Secarateoretis, buku ini mendiskusikan pentingnya pendampingan orangtua dalampraktik literasi digital di rumah. Isu ini relevan karena keluarga urban dewasa initelah memperkenalkan internet pada anak sejak usia dini. Buku ini memberikanargumentasi bahwa orangtua idealnya memiliki dan meningkatkan kecakapanliterasi digital agar bisa menjadi agen literasi yang bijak dalam keluarga. Posisiorangtua di sini tidak hanya berkaitan dengan posisi ibu saja, yang seringdianggap sebagai pendidik utama keluarga, namun juga posisi ayah serta anggotakeluarga lain. Secara praktis, buku ini mengisi kekosongan pustaka literasi digitalyang memadukan pendekatan teoretis maupun praktis pada pola pendampinganorangtua terhadap anak dalam penggunaan internet. Selama ini, referensiakademik dan teoretis mengenai literasi digital di Indonesia masih sangat terbatasiii

dan itu pun sebagian besar memberikan perhatian pada literasi media, merujukpada media konvensional dan gerakannya. Selain itu, buku ini juga memberikanpanduan yang bisa digunakan orangtua untuk menemani anak menggunakaninternet.Atas nama tim penulis, saya memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepadaseluruh informan yang terlibat dalam penelitian yang menjadi data utamapenulisan buku ini. Sebagai peneliti, kami belajar banyak dari pengalaman merekauntuk bisa memahami bahwa setiap keluarga adalah unik dan mempunyai caramasing-masing dalam mengatasi berbagai persoalan terkait dengan penggunaaninternet oleh anak. Cerita-cerita kecil tentang praktik literasi digital keluargamelalui mereka amatlah penting sebagai pintu masuk untuk memahami literasidigital keluarga di Indonesia.Saya ingin menghaturkan banyak terima kasih pada CfDS yang memberikankesempatan dalam penulisan dan penerbitan buku ini, termasuk memberikanmasukan terhadap pengembangan isi buku ini. Apresiasi juga saya sampaikanpada Departemen Ilmu Komunikasi FISIPOL yang selalu konsisten memberikankesempatan kepada para staf pengajarnya untuk melakukan penelitian individusetiap tahun. Dengan begitu, setiap staf pengajar, termasuk saya, bisa mengasahminat penelitian masing-masing sebagai bagian dari proses melahirkanpengetahuan baru dan menjadi bagian dari perubahan sosial.Sebagai catatan, hasil penelitian ini selain menjadi buku yang berada di hadapanpembaca sekarang juga diwujudkan dalam karya videografis dan buku saku yangbertajuk ‘Yuk, Temani Anak Berinternet’. Kedua produk ini menjadi bagian dariprogram penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh ProgramStudi Magister Ilmu Komunikasi UGM tahun 2017.Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada keluarga kecil saya: Ayah Errydan Ayya, yang tanpa dukungan mereka, kebebasan untuk duduk berlama-lamadi depan komputer tak mungkin bisa saya dapatkan.Akhir kata, semua kelebihan dari buku Literasi Digital Keluarga: Teori danPraktik Pendampingan Orangtua terhadap Anak dalam Berinternet menjadi milikiv

mereka yang telah terlibat dalam penelitian dan penulisan buku ini, sedangkankekurangannya menjadi milik tim penulis, terutama saya sebagai penyunting.Salam literasi digital keluarga, mari kita ajak anak memanfaatkan internet untukkebaikan.Yogyakarta, 19 Desember 2017Novi KurniaEditorv

vii

viii

DAFTAR ISIPrakataiKata PengantarviiDaftar IsiixDaftar Bagan, Gambar, dan TabelxiiBAB I1Pendahuluan: Urgensi Literasi Digital Keluarga di Indonesia3A. Masyarakat Modern dan Internet3B. Internet dan Anak (Indonesia)5C. Literasi Media dan Literasi Digital7D. Peran Orangtua dan Literasi Digital Keluarga9E. Metodologi Penelitian11F. Sistematika Buku16Daftar Pustaka18BAB II21Masyarakat Modern, Audiens, dan Internet23A. Masyarakat Modern dan Teknologi Komunikasi23B. Kajian Audiens di Era Internet26Daftar Pustaka28BAB III31Penggunaan Internet oleh Anak33A. Kebiasaan Anak Mengakses Internet34ix

B. Kesempatan yang Dibawa Internet38C. Risiko yang Dibawa Internet40D. Penggunaan Internet oleh Anak di Indonesia44E. Internet dan Perkembangan Anak46Daftar Pustaka49BAB IV53Literasi Media, Literasi Digital, dan Literasi Digital Keluarga55A. Konsep Literasi Media55B. Konsep Literasi Digital60C. Konsep Literasi Digital Keluarga71D. Gerakan Literasi Digital Keluarga di Indonesia73Daftar Pustaka75BAB V77Peran Orangtua dalam Literasi Digital79A. Anak dan Keluarga di Era Digital79B. Teori Pendampingan Orangtua82C. Pendampingan Orangtua di Era Digital85Daftar Pustaka88BAB VI89Pendampingan Orangtua terhadap Anak dalamPenggunaan Internet dan Gawai di Yogyakarta91A. Kisah Dua Keluarga dan Duabelas Orangtua91A.1. Kisah Keluarga Sumberan92A.2. Kisah Keluarga Kembang Putih94A.3. Duabelas Orangtua, Duabelas Keluarga95B. Kebiasaan Anak Mengakses Internet96C. Konten yang Diakses Anak melalui Internetx102

D. Relasi Anak dengan Anggota Keluarga Lain103E. Manfaat dan Kerugian Internet105F. Internet dan Tumbuh Kembang Anak107G. Aturan Penggunaan Internet108H. Pendampingan Orangtua110I. Kecakapan Literasi Digital Orangtua113Daftar Pustaka115BAB VII117Panduan Orangtua untuk Mendampingi Anakdalam Penggunaan Internet dan Gawai119A. Panduan untuk Orangtua dengan Anak Usia 2-5 Tahun (Usia Pra Sekolah)119B. Panduan untuk Orangtua dengan Anak Usia 6-12 Tahun (Usia Sekolah)124Daftar Pustaka127BAB VIII129Penutup: Masa Depan Literasi Digital Keluarga131Daftar Pustaka134Tentang Penulis135xi

DAFTAR BAGAN, GAMBAR, DAN TABELBagan I.1.Desain Metode Studi Kasus: Kasus dan Unit Analisis12Bagan I.2.Validitas dan Reliabilitas Penelitian15Gambar II.1Negara Pengguna Internet Terbanyak di Asia(31 Maret 2017)25Gambar VI.1Televisi Pintar di Rumah Keluarga Sumberan93Gambar VI. 2Televisi Pintar di Rumah Keluarga Kembang Putih94Tabel VI.1Data Informan Diskusi Kelompok Terarah95Tabel VI. 2Usia Anak Mengenal Internet atau Gawaiuntuk Pertama KalinyaTabel VI.3Durasi Waktu Rata-rata Anak Mengakses Internetatau Menggunakan Gawai Setiap Harixii9699

1

BAB IPendahuluan:Urgensi Literasi Digital Keluarga di IndonesiaNovi KurniaDalam masyarakat modern dewasa ini, relasi manusia dengan media barusemakin intim. Penggunaan internet, baik dalam kehidupan profesional maupunpribadi semakin tinggi. Internet juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalamkehidupan sehari-hari, baik di ruang kerja, publik, maupun keluarga. Bab inisecara garis besar menjelaskan arti penting literasi digital dalam masyarakatmodern di mana interaksi manusia dengan internet semakin intens, termasukpenggunaannya dalam keluarga.A. MASYARAKAT MODERN DAN INTERNETDalam masyarakat informasi, media baru sering diartikan secara sederhanasebagai media interaktif yang menggunakan perangkat dasar komputer.Pendefinisian yang terlalu sederhana ini menimbulkan berbagai perdebatan dikalangan ilmuwan komunikasi (Kurnia, 2005:291). Perdebatan ini menyangkut isuteknologi (Croteau, 1972), konten berita (Ward, 1995), jenis media baru (McQuail,2000), dan fungsi media baru (Pavlik, 1998). Terlepas dari perdebatan definisi yangada, kehadiran media baru dalam masyarakat modern memberikan ruang yanglebih luas yang memungkinkan proses produksi dan distribusi informasi sertavolume informasi tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu (Kurnia, 2005:294).

LITERASI DIGITAL KELUARGASebagai salah satu media baru, internet yang hadir pada akhir 1980-an merupakanjaringan teknologi yang berkembang sangat cepat (Hill & Sen, 2005:10). Internethadir dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai piranti seperti laptop, tablet,telepon genggam (terutama telepon pintar). Dengan internet, manusia moderndapat melakukan beragam kegiatan seperti: mencari informasi, merencanakanperjalanan, membaca suratkabar, menulis dan membaca artikel, berkomunikasimelalui surat elektronik, mengirim dan mengobrol melalui pesan instant,menelepon, berdiskusi, berkonferensi, mendengarkan musik dan radio, melakukanpemesanan atau pembelian barang secara online, mengembangkan relasi,memelihara hubungan, melayangkan protes, berpartisipasi politik secara aktif,bermain games, menciptakan pengetahuan bersama, mengunduh piranti lunakdan data digital, dan sebagainya (Fuchs, 2008:1). Ragam kegiatan yang dilakukanmelalui internet tersebut semakin berkembang dari waktu ke waktu. Berbagaiaktivitas baru pun bermunculan, seperti membuat dan membagikan video harian,menonton televisi secara langsung melalui internet, dan lain sebagainya.Sifat internet yang dua arah juga memungkinkan seorang pengguna menjadiseorang produser sekaligus. Pengguna tidak hanya pasif menerima pesan namunjuga secara aktif dapat melakukan produksi pesan. Sifat internet yang jugapersonal memfasilitasi pengguna dalam menyeleksi pesan yang diinginkannya.Sifat internet yang demikian memberikan kontribusi pada bagaimana penggunamengaplikasikannya. Berbagai isu mengenai penggunaan internet dalam keluargadan penggunaannya oleh anak-anak semakin mendapatkan perhatian.Data survey yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia(APJII, 2016) menunjukkan bahwa 132,7 juta dari 256, 2 juta ( 51,8%) masyarakatIndonesia menggunakan internet pada tahun 2016. Lebih dari separuh pendudukyang menggunakan internet (65%) bertempat tinggal di pulau Jawa, sebagaipulau yang paling padat. Yang menarik dari survei 2016 ini adalah persebaranpengguna internet berdasarkan umur tidak cukup merata. Data menunjukkanpada kelompok usia 10-24 tahun pengguna internet sebesar 18,4%, usia 25-34tahun sebesar 24,4%, usia 35-44 tahun sebesar 29,2 %, usia 45-54 tahun sebesar 18%, dan usia 55 tahun ke atas sebesar 10%. Dibandingkan dengan data dua tahunsebelumnya persebaran pengguna internet ini menunjukkan adanya perbedaan.4

LITERASI DIGITAL KELUARGASurvei oleh APJII pada tahun 2014 menunjukkan, penggunaan internet padakelompok umur 18-25 tahun sebesar 49%, umur 26-35 tahun 33.8%, umur 36-45tahun 14,6%, umur 46-55 tahun 2,4%, dan umur 56-65 tahun 0,2%. Berdasarkandata APJII tahun 2016 dan 2014 di atas tampak jelas perbedaannya. Jika padatahun 2014 usia termuda dalam menggunakan internet adalah 18 tahun makapada tahun 2016 usia termuda adalah 10 tahun. Ini menunjukkan bahwa adakecenderungan usia pengguna internet semakin lama semakin muda.Semakin muda usia anak pertama kali bersentuhan dengan teknologi digitaljuga ditunjukkan oleh Common Sense Media pada tahun 2014 (dalam Harrison& McTavish, 2016:2). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa di Amerika, bayidi bawah delapan tahun (72%) dan anak usia dua tahun ke bawah (38%) telahmenggunakan beragam perangkat digital terkini seperti telepon pintar, iPad, iPod,dan tablet.Di samping data tersebut, dalam kehidupan sehari-hari, pengguna internet dibawah usia 10 tahun juga banyak dijumpai. Di berbagai ruang publik seperti pusatperbelanjaan, restoran, dan bandara, sering ditemukan anak usia 3-9 tahun sibukdengan perangkat gadget, baik berupa telepon genggam atau tablet. Gadgettersebut mereka gunakan untuk mengakses game atau film melalui internet. Saatberhubungan dengan internet, anak-anak juga menunjukkan kecenderunganlebih mudah beradaptasi dengan teknologi digital dibandingkan dengan orangdewasa (Harrison & McTavish, 2016:2). Dalam menanggapi kondisi ini, sebagianorangtua justru merasa bangga ketika anak mereka yang masih berusia sangatmuda mampu mengoperasikan komputer maupun gadget lainnya. Para orangtuaini pun tidak segan membelikan atau meminjamkan laptop, tablet, maupuntelepon genggam kepada buah hati mereka.B. INTERNET DAN ANAK (INDONESIA)Bagaimana sebenarnya penggunaan internet oleh anak di Indonesia? Studikuantitatif yang dilakukan oleh Puspita Adiyani Candra (2013:7-8) terhadap 100anak sekolah yang berusia 6-12 tahun di Surabaya pada tahun 2013 menunjukkanbahwa dua puluh tujuh persen (27%) anak menggunakan internet pertama kalinyapada usia 8 tahun. Sebanyak 19% menggunakannya pada usia 7 tahun dan 12%5

LITERASI DIGITAL KELUARGApada usia 6 tahun. Temuan yang menarik adalah beberapa responden mengakumengenal internet sejak usia lima tahun (balita) atau bahkan sebelumnya. Datamenunjukkan 12% anak-anak telah mengenal internet pada usia 5 tahun, 4% padausia 4 tahun, dan 1% pada usia 3 tahun (Candra, 2013). Dari temuan penelitiantersebut terlihat pengguna internet berusia muda dan bahkan perkenalan merekadengan internet dimulai di usia balita.Interaksi anak-anak dalam usia 3 hingga 12 tahun dengan internet secara umumdimediasi oleh orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang memiliki peranmemperkenalkan internet untuk pertama kalinya pada anak-anak, antara lain:orangtuanya (45%), anggota keluarga lain selain orangtua seperti kakak, sepupuatau paman, dan bibi (29%), guru (11%), dan teman (2%). Anak-anak yangmenyatakan belajar sendiri secara autodidak sebanyak 10% (Candra, 2013:8).Adapun lokasi penggunaan internet secara umum merujuk pada tiga lokasiutama: rumah (51%), ruang publik seperti pusat perbelanjaan atau restoran yangmenyediakan Wi-Fi (30,4%), dan sekolah (18.5%) (Candra, 2013:8).Dari studi yang dicontohkan di atas, terlihat beberapa temuan menarik terkaitanak dalam penggunaan internet di Indonesia. Pertama, usia perkenalan anakdengan internet termasuk menggunakannya terbukti sangat muda yakni ketikaanak masih berusia di bawah lima tahun. Kedua, perkenalan anak dengan internetlebih banyak melalui orangtuanya dibandingkan dengan guru, anggota keluargalainnya, teman, maupun secara autodidak. Ketiga, rumah adalah lokasi yangpaling sering digunakan anak untuk mengakses internet dibandingkan denganlokasi lainnya.Relasi anak dengan internet, terutama mereka yang berusia di bawah 12 tahun,sering menimbulkan pertanyaan apakah ada dampak negatif dari penggunaaninternet? Pertanyaan ini wajar muncul karena internet acapkali dianggapmenimbulkan kecanduan yang menyebabkan anak-anak kurang berinteraksidengan anggota keluarga lain maupun teman sebayanya. Alasan lain, internetsering dianggap memberikan dampak negatif karena alasan konten, sepertipornografi, kekerasan, dan cyberbullying.6

LITERASI DIGITAL KELUARGADi sisi lain, internet juga dianggap memiliki dampak positif, karena dapatdigunakan sebagai sarana belajar oleh anak. Sebagai contoh, studi yangdilakukan Christina Davidson (2011) menunjukkan bahwa internet bisa digunakansecara positif oleh anak-anak di rumah. Melalui kasus yang sederhana, Davidson(2011:38-41) menunjukkan bagaimana internet dapat membantu anak-anakdalam mencari segala informasi tentang cicak melalui Google. Informasi yangdicari oleh anak-anak bersama dengan orangtua mereka menghasilkan tulisanbersama mengenai cicak. Studi ini menunjukkan bahwa untuk bisa menggunakaninternet dengan positif, anak-anak membutuhkan bimbingan orangtua dan untukdapat melakukan pembimbingan orangtua dituntut mempunyai kecakapanbaik teknis, pengetahuan, maupun emosi dalam mengakses berbagai informasimaupun hiburan melalui internet.Dengan perkataan lain, dalam penggunaan internet oleh anak-anak di rumah,bimbingan orangtua sangat diperlukan. Pembimbingan ini merupakan sebuahwujud nyata dari literasi digital yang dapat ditularkan dari orangtua kepada anakanak, terutama yang berusia di bawah 12 tahun. Pentingnya peran orangtuasebagai pendamping anak dalam menggunakan internet tidak lain karenaanak belum mempunyai kecakapan teknis, pengetahuan maupun emosi dalammengakses berbagai informasi dan hiburan melalui internet.C. LITERASI MEDIA DAN LITERASI DIGITALDalam dunia virtual di mana internet menjadi media baru yang sangat pentingdalam kehidupan sehari-hari, dibutuhkan adanya pemahaman dan agensipenggunanya sebab teknologi hanyalah alat semata yang tidak menentukanbagaimana pengguna internet harus bertindak (Koltay, 2011). Untuk itu,dibutuhkan serangkaian pemahaman dan tindakan dengan menerapkan berbagailiterasi media. Arti penting literasi media tidak hanya berkaitan dengan tingginyaterpaan media, melainkan juga berhubungan dengan beberapa faktor lainnya, diantaranya: pertama, peran penting informasi dalam proses demokrasi. Kedua,peran penting partisipasi budaya dan kewarganegaraan. Ketiga, berkembangnyabudaya populer membuat anak dan remaja semakin banyak mengakses mediadigital (Koltay, 2011:212).7

LITERASI DIGITAL KELUARGADalam konteks media baru, literasi media tidak hanya terkait dengan mencernaisi media saja melainkan juga memproduksi teks yang bersifat multimedia danbahkan teks yang bersifat interaktif hypermedia. Di samping itu, literasi jugaterhubung dengan adanya pertumbuhan yang sangat pesat dari penggunaaninternet oleh anak dan remaja melalui interaksi mereka dengan internet di rumah(Buckingham, 2006). Oleh karena itu, penggunaan istilah literasi sendiri sebenarnyamengandung arti yang jamak, sebab dengan meningkatnya penggunaan mediakonvergensi maka makna literasi juga meliputi serangkaian bentuk komunikasidan media kontemporer (Buckingham, 2006:53).Literasi digital sendiri dapat dipandang sebagai bagian dari literasi media dankonsep literasi digital ini bukanlah konsep yang benar-benar baru. Selain literasidigital, sebenarnya terdapat konsep lain yang disebut dengan literasi komputeryang muncul pada tahun 1980-an. Namun, konsep ini memiliki makna yangterbatas karena merujuk pada literasi komputer secara teknis atau penguasaankomputer semata. Oleh karena itu, konsep literasi digital kemudian mengemukakarena pengertiannya tidak hanya terkait dengan penguasaan teknis komputermelainkan juga pengetahuan dan juga emosi dalam menggunakan media danperangkat digital, termasuk internet (Buckingham, 2006:45-46).Literasi digital dimaknai bukan hanya sebatas proses anak berinteraksi denganmedia digital, dalam hal ini internet, tapi juga bagaimana kontribusi interaksi itupada beragam aspek tumbuh kembang anak. Kedua hal itu adalah proses yangsimultan, dan observasi tentang proses ini belum (banyak) dilakukan di Indonesia.Selain itu, saat ini muncul perdebatan akademis tentang apakah interaksi anakpada usia dini dengan gawai bisa memberikan manfaat bagi proses literasi anakatau hanya membawa dampak negatif pada anak. Untuk konteks Indonesia, halini tentu perlu dielaborasi lebih jauh karena keterbatasan pengetahuan tentanghal ini.Sementara itu, literasi keluarga adalah suatu konsep yang digunakan untukpraktik literasi yang melibatkan orangtua, anak, dan anggota keluarga lainnya dirumah (Nutbrown & Hannon, 2003:115). Konsepsi literasi keluarga juga digunakanuntuk menjelaskan beragam program tertentu yang mengangkat arti pentingdimensi keluarga dalam mempelajari dan mempraktikkan literasi (Nutbrown &8

LITERASI DIGITAL KELUARGAHannon, 2003:116). Bagaimana peran orangtua dalam literasi keluarga? Jawabanatas pertanyaan ini akan dijelaskan pada bagian berikut.D. PERAN ORANGTUA DAN LITERASI DIGITAL KELUARGASebagai media baru dalam kehidupan masyarakat modern, internet juga hadirdalam keluarga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di rumah. Berbagaikajian mengenai internet dan keluarga biasanya berkisar pada penggambarantren penggunaan internet, seperti waktu yang dialokasikan dalam menggunakaninternet, bagaimana anak dan orang dewasa menggunakan internet, dan jugabagaimana internet mengubah fungsi sosial keluarga dalam kehidupan digitaldewasa ini (Hughes & Hans, 2004).Oleh karena itu, penelitian mengenai pola pendampingan orangtua pada anakdalam penggunaan internet ini adalah suatu upaya untuk melakukan elaborasikajian mengenai literasi digital keluarga di Indonesia. Penelitian ini dilakukanberawal dari keprihatinan peneliti dengan maraknya penggunaan internet olehanak sejak usia dini di rumah yang terkadang tanpa pendampingan yang memadaidari orangtua.Selain berbagai kajian yang disebutkan di atas, kajian mengenai peran orangtuadalam mengelola internet dalam keluarga juga merupakan kajian yang cukuppopuler. Beberapa peneliti bahkan menunjukkan aturan orangtua terhadapanak dalam penggunaan internet dan kontrol terhadapnya, seperti penggunaanpiranti filter dan sebagainya (Hughes & Hans, 2004). Walaupun demikian, dalamkehidupan sehari-hari masih terbatas orangtua yang menaruh perhatian padapenggunaan internet oleh anak di rumah dibandingkan dengan perhatian padapersoalan lain seperti pendidikan, bahaya narkoba, dan kejahatan (Livingstone,2002:124). Dapat dikatakan di sini, dalam masyarakat modern internet justrumerupakan media yang kurang mendapatkan pengawasan dari orangtua karenaminimnya panduan dan kurangnya pengetahuan orangtua terhadap internet(Leung & Lee, 2011:118).Meskipun begitu, acap orangtua menganggap bahwa internet mempunyai dampaknegatif terhadap anak, misalnya berhubungan dengan perilaku agresif sebagai9

LITERASI DIGITAL KELUARGAdampak dari akses konten yang mengandung kekerasan melalui internet (Hughes& Hans, 2004). Leung dan Lee (2011:118) mengungkapkan bahwa anak atau remajayang mengakses internet mempunyai beberapa potensi risiko karena merekabertemu dengan orang yang mungkin bisa membahayakan dirinya, terpapardengan konten penyimpangan sosial, terhubung dengan pedophilia, terpapardengan konten pornografi/kekerasan/kebencian, tereksploitasi secara komersial,terganggu privasinya, dan terhubung dengan orang yang tidak dikehendaki.Jika yang disebutkan di atas adalah dampak negatif internet terhadap anak yangdisebabkan oleh faktor di luar dirinya dan keluarganya, maka dampak negatifinternet juga dapat muncul dari dalam diri sendiri dan keluarga. Hadirnya internetdi rumah misalnya memunculkan kecenderungan penggunanya menarik diri dariinteraksi langsung dengan anggota keluarga lainnya dan membiarkan dirinyahidup dalam dunia maya yang dianggapnya lebih menarik ketimbang dunia nyata(Hughes & Hans, 2004). Kecenderungan ini biasanya dilakukan oleh penggunainternet yang relatif baru karena pengetahuan yang terbatas, emosi yang belumcukup matang, dan euforia dalam menggunakan internet. Oleh karena anakcenderung beraktivitas online sendirian, penting artinya bagi orang tua melakukanpengawasan untuk dapat mengurangi dampak negatif internet (Leung & Lee, 2011:118).Pentingnya peran orangtua dalam literasi digital juga ditunjukkan dalampenelitian mengenai gerakan literasi digital di Indonesia yang dilakukan olehJaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) pada tahun 2017. Dalam penelitian ini,orangtua (12.3%) adalah salah satu kelompok sasaran kegiatan literasi digitalselain pelajar (29,55%), mahasiswa (18,5%), masyarakat umum (15,22%), gurudan dosen (10,14%), komunitas (7,16%), lainnya (ormas, LSM, media, pemerintah)sebanyak (6,86%) dan peneliti yang hanya 0,29% (lihat Kurnia dan Astuti, 2017:18).Untuk melihat peran penting orangtua dalam literasi digital keluarga, penelitianini akan memetakan berbagai praktik pendampingan orangtua terhadap anakdalam penggunaan internet untuk bisa merumuskan panduan untuk orangtuadalam menemani anak berinternet.10

LITERASI DIGITAL KELUARGAE. METODOLOGI PENELITIANBagian ini akan menjelaskan berbagai aspek terkait dengan metodologi penelitianyang digunakan sebagai desain dalam mengumpulkan data guna tersusunnyabuku ini.E.1. Paradigma PenelitianPenelitian tentang pendampingan orangtua dalam menemani anak berinternetini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretif ataukonstruktivis. Paradigma ini memiliki asumsi dasar bahwa setiap subjek individumempunyai pandangan dunia yang berbeda (Creswell, 2009). Tujuan penelitiantidak lain adalah memahami bahwa subjek individu mengembangkan pemaknaansubjektif berdasarkan pengalaman mereka yang bervariasi dan mempunyaibanyak makna. Oleh karena itu, peneliti bertugas mencari kompleksitaspandangan dibandingkan pemahaman atas gagasan atau pemaknaan yangterbatas (Creswell, 2009). Selain itu, peneliti berfungsi sebagai fasilitator yangmenjembatani keragaman subjektivita

Novi Kurnia Dalam masyarakat modern dewasa ini, relasi manusia dengan media baru semakin intim. Penggunaan internet, baik dalam kehidupan profesional maupun pribadi semakin tinggi. Internet juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-ha