Transcription

GuidelinePenatalaksanaan Infeksi Saluran Kemihdan Genitalia Pria 2015Penyusun:Kurnia Penta SeputraTarmonoBambang S. NoegrohoChaidir A. MochtarIrfan WahyudiJohan RenaldoAgus Rizal A.H. HamidI Wayan YudianaTanaya GhinorawaIkatan Ahli Urologi Indonesia (IAUI)2015

Editing and Layout::dr. Dwiki Haryo Indrawandr. Fakhri Rahmandr. Rainier Ramanter Abdullahdr. Rendy Andikadr. Septiani Hidianingsihdr. Stevano Sipahutardr. Ari Basukarnodr. Isaac Ardianson Deswantodr. M. Miftahul Firdausdr. Akmal Fawzidr. Astarin Ardianidr. Fusarina Mumpuni Intantyana AsriDesain Halaman Muka:dr. Fusarina Mumpuni Intantyana AsriEdisi Ke-2Penerbit:Ikatan Ahli Urologi IndonesiaISBN 978-602-18283-8-0Dokumen ini hanya memberikan pedoman dan tidak menetapkan aturan / tidak menentukan standarhukum perawatan penderita.Pedoman ini adalah pernyataan penyusun berdasarkan bukti atau konsensus tentang pandanganmereka terhadap guideline penatalaksanaan infeksi saluran kemih dan genitalia pria yang diterimasaat ini.Klinisi yang akan menggunakan pedoman ini agar memperhatikan juga penilaian medis individuuntuk penanganan penyakitnya.Hak Cipta (Disclaimer)Pedoman ini tidak boleh diproduksi dalam bentuk apapun tanpa persetujuan tertulis dari Ikatan AhliUrologi Indonesia.

KATA PENGANTARDengan mengucapkan syukur kepada Allah SWT akhirnya tim penyusun PanduanPenatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih (ISK) Edisi ke-2 tahun 2015 telah menyelesaikantugasnya. Saya mengucapkan selamat dan terima kasih kepada tim penyusun yang diketuaioleh Dr. Kurnia Penta Seputra, SpU dan para tim penyusun dari berbagai pusat pendidikan diJakarta (Dr. Chaidir A. Mochtar, SpU, PhD; DR. Dr. Irfan Wahyudi, SpU; Dr. Agus RizalAH Hamid, SpU), Surabaya (DR. Dr. Tarmono, SpU; Dr. Johan Renaldo, SpU), Bandung(DR. Dr. Bambang S Noegroho, SpU), Malang, Yogyakarta (Dr Tanaya Ghinorawa, SpU),Bali (Dr. I Wayan Yudiana, SpU) yang telah bekerja sejak 2 bulan yang lalu.Panduan Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih (ISK) ini merupakan pembaharuandari edisi pertama yang diterbitkan pada tahun 2007 dan diharapkan panduan ini dapatdigunakan oleh para Spesialis Urologi Indonesia dalam menjalankan prakteknya sehari-hari.Meskipun demikian dalam penerapannya perlu disesuaikan dan dipertimbangkan denganketersediaan sarana dan prasarana serta kondisi setempat.Materi dalam panduan ini akan senantiasa diperbaharui sesuai dengan kemajuan ilmuUrologi. Saran dan Masukan dari para anggota IAUI sangat kami harapkan untukmenyempurnakan panduan ini di masa yang akan datang.Surabaya, 22 Oktober 2015DR. Dr. Tarmono, SpUKetua PP IAUI

KATA PENGANTARAssalamu’alaikum Wr. Wb.Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmatNya kami dapat menyelesaikan penyusunanBuku Panduan Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genetalia Pria Edisi ke-2 Tahun2015 ini.Pola bakteri dan kepekaan antibiotik merupakan faktor penting dalam menentukanterapi yang tepat bagi suatu penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh bakteri.Maraknya resistensi terhadap antibiotik dapat menjadi faktor penyulit yang mempengaruhikesembuhan suatu penyakit. Untuk itu, perlu dilakukan revisi panduan penatalaksanaan untukinfeksi saluran kemih dan genetalia pria.Kami telah melakukan revisi pada beberapa bagian dari edisi pertama (2007), yangtelah disesuaikan dengan berbagai guideline international, literatur jurnal, dan penelitianterkini.Buku panduan ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi dokter spesialis Urologi,dokter spesialis lainnya, dan dokter umum yang ada di wilayah Indonesia dalam melakukanpenanganan penyakit infeksi saluran kemih dan genetalia pria. Namun perlu dipertimbangkanpula mengenai ketersediaan fasilitas dan sarana kesehatan, sumber daya manusia, sertainfrastruktur kesehatan yang ada di Indonesia.Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini masih jauh dari sempurna, sehinggakami mengharapkan masukan, kritik, serta koreksi dari rekan sejawat. Selain itu, kami jugameminta maaf atas segala kekurangan yang ada.Demikian Buku Panduan Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genetalia PriaEdisi ke-2 ini kami susun. Besar harapan kami, buku ini dapat dipergunakan dengan sebaikbaiknya.Wassalamu’alaikum Wr. Wb.Jakarta, Oktober 2015Hormat kami,dr. Kurnia Penta Seputra, SpUKetua Tim PenyusunBuku Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genetalia Pria

DAFTAR ISIHALAMAN JUDUL DALAM ----------------- iHAK CIPTA --------------------------------------- iiKATA PENGANTAR KETUA PP IAUI ---- iiiKATA PENGANTAR KETUA TIM PENYUSUN ------------------------------------------ ivDAFTAR ISI -------------------------------------- vPENDAHULUAN -------------------------------- 1PENGAMBILAN SAMPEL DAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM ------------- 3POLA BAKTERI DAN SENSITIVITAS BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK -- 7dr. Johan Renaldo, SpU; dr. Kurnia Penta Seputra, SpUKLASIFIKASI INFEKSI SALURAN KEMIH ---------------------------------------------- 14Dr. dr. Bambang S. Noegroho, SpB, SpUBAKTERIURIA ASIMPTOMATIS (ASYMPTOMATIC BACTERIURIA) --------- 19dr. Tanaya Ghinorawa, SpUINFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) NON KOMPLIKATA PADA DEWASA ------ 22dr. Chaidir A. Mochtar, SpU, PhD; Dr. dr. Bambang S. Noegroho, SpB, SpUINFEKSI SALURAN KEMIH KOMPLIKATA (ISK KOMPLIKATA) --------------- 28dr. Johan Renaldo, SpUSINDROM SEPSIS UROLOGI (UROSEPSIS) ---------------------------------------------- 35dr. Johan Renaldo, SpU; Dr. dr. Tarmono, SpUINFEKSI SALURAN KEMIH KARENA PEMASANGAN KATETER (CAUTI) --- 41dr. Agus Rizal A.H. Hamid, SpUINFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) PADA ANAK ---------------------------------------- 44Dr. dr. Irfan Wahyudi, SpUURETRITIS --------------------------------------- 58dr. Kurnia Penta Seputra, SpUPROSTATITIS BAKTERI --------------------- 62dr. Tanaya Ghinorawa, SpUEPIDIDIMITIS DAN ORKITIS -------------- 66dr. Kurnia Penta Seputra, SpU

GANGREN FOURNIER ----------------------- 68dr. Kurnia Penta Seputra, SpUTB UROGENITAL ------------------------------ 70dr. I Wayan Yudiana, SpUANTIBIOTIK PROFILAKSIS PERIOPERATIF DI BIDANG UROLOGI ---------- 74Dr. dr. Irfan Wahyudi, SpUANTIBIOTIK PADA GANGGUAN FUNGSI GINJAL ----------------------------------- 92Dr. dr. Irfan Wahyudi, SpU; dr. Agus Rizal A.H. Hamid, SpU

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015PENDAHULUANInfeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi yang sering menyerang priamaupun wanita dari berbagai usia dengan berbagai tampilan klinis dan episode. ISKsering menyebabkan morbiditas dan dapat secara signifikan menjadi mortalitas.Walaupun saluran kemih normalnya bebas dari pertumbuhan bakteri, bakteri yangumumnya naik dari rektum dapat menyebabkan terjadinya ISK. Ketika virulensimeningkat atau pertahanan inang menurun, adanya inokulasi bakteri dan kolonisasi,maka infeksi pada saluran kemih dapat terjadi.Infeksi saluran kemih (ISK) adalah salah satu penyakit infeksi yang palingdominan yang memiliki beban finansial yang penting di tengah masyarakat. Di AS,ISK bertanggung jawab atas lebih dari 7 juta kunjungan dokter setiap tahunnya.Kurang lebih 15% dari semua antibiotik yang diresepkan untuk masyarakat di ASdiberikan pada ISK dan data dari beberapa negara Eropa menunjukkan level yangsetara. Di AS, ISK terhitung mencapai lebih dari 100,000 kunjungan rumah sakitsetiap tahunnya.Studi penelitian Global Prevalence Infection in Urology (GPIU) terkinimenunjukkan bahwa 10-12% pasien yang dimasukkan ke rumah sakit dalam bangsalurologi, mengalami healthcare associated infection.Penatalaksanaan infeksi berkaitan dengan pemberian antibiotika, penggunaanantibiotika yang rasional dibutuhkan untuk mengatasi masalah resistensi kuman.Berkaitan dengan hal tersebut Ikatan Ahli Urologi Indonesia telah menyusunpanduan yang merujuk pada EAU dan Guideline ISK IAUI 2007 (saat ini sudahdirevisi dalam Guideline ISK IAUI 2015)Kondisi saat ini dalam perkembangan resistensi mikrobial sangatlahmengkhawatirkan. Data peta kuman di Indonesia saat ini masih terbatas dilingkungan rumah sakit besar. Penggunaan antibiotik di negara-negara Eropa yangberbeda mencerminkan peningkatan global dalam strain yang resisten. Secara khususyang dapat menjadi penyulit adalah semakin meningkatnya resistensi terhadapantibiotik spektrum-luas, seperti misalnya fluoroquinolones dan cephalosporinskarena adanya konsumsi berlebihan dari dua grup ini dan perkembangan paralel dariko-resistensi terhadap antibiotik lain (collateral damage).1

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015Mikroorganisme bisa mencapai saluran kemih dengan penyebaran secarahematogen atau limfatik, tetapi terdapat banyak bukti klinis dan eksperimental yangmenunjukkan bahwa naiknya mikroorganisme dari uretra adalah jalur yang palingumum mengarah pada ISK, khususnya organisme yang berasal dari enterik (misal.,E. coli dan Enterobacteriaceae lain). Hal ini memberikan sebuah penjelasan logisterhadap frekuensi ISK yang lebih besar pada wanita dibandingkan pada pria, danpeningkatan resiko infeksi setelah kateterisasi atau instrumentasi kandung kemih.Konsep virulensi atau patogenisitas bakteri dalam saluran kemih didugabahwa tidak semua spesies bakteri bersama-sama mampu dalam menginduksiinfeksi. Semakin baik mekanisme pertahanan alami tubuh semakin kecil virulensidari strain bakteri manapun untuk menginduksi infeksi.Daftar Pustaka:1. Schaeffer AJ, Schaeffer EM. Infections of the urinary tract. In : Chambellwhals urology 2572. Bjerklund Johansen TE, et al. Prevalence of hospital-acquired urinary tractinfections in urology departments. Eur Urol, 2007. 51 (4): p. 1100-11;discussion 1112.3. Cassier P, et al. Cephalosporin and fluoroquinolone combinations are higlyassociated with CTX-M beta-lactamase-producing Escherichia coli: a casecontrol study in a French teaching hospital. Clin Microbiol Infect, 2011.17(11): p. 1746-514. European Association of Urology. Guidelines on urological infection. 20152

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015PENGAMBILAN SAMPEL DAN PEMERIKSAAN LABORATORIUMCara Pengambilan SampelBahan untuk pemeriksaan urin harus segar dan sebaiknya diambil pagi hari. Bahanurin dapat diambil dengan cara punksi suprapubik (suprapubic puncture spp), kateterisasidan urin porsi tengah (midstream urine). Bahan urin yang paling mudah diperoleh adalah urinporsi tengah yang ditampung dalam wadah bermulut lebar dan steril. ketepatan diagnosisISK dapat dilakukan dengan cara menurunkan kontaminasi bakteri ketika sampel urindiambil.1. Urin Porsi Tengah (mid stream)a. Pada Pria:Pria yang tidak disirkumsisi kulit penutup kepala penis harus ditarikkebelakang dan dibersihkan menggunakan sabun lalu dicuci bersih dengan airsebelum pengambilan sampel. Urin 10 mL pertama menggambarkan keadaan urethra,spesimen porsi tengah merepresentasikan kandung kemih dan spesimen ini adalahspesimen yang biasanya diambil untuk pemeriksaan. Cairan prostat didapat dengancara memijat prostat dan meletakkan cairan prostat pada slide kaca. Sebagaitambahan, spesimen urine pasca pemijatan prostat sebanyak 10mL mencerminkankeadaan cairan prostat yang ditambahkan pada spesimen urethra.b. Pada Wanita:Pada wanita kontaminasi urin porsi tengah dengan bakteri pada introitusvagina dan sel darah putih adalah hal yang biasa, khususnya ketika adanya kesulitandalam memisahkan kedua labia. Sehingga untuk wanita harus diinstruksikan untukmemisahkan labia, mencuci dan membersihkan daerah peri urethra dengan kasa yanglembab baru dilakukan pengambilan spesimen. Membersihkan dengan antiseptik tidakdianjurkan karena dapat mencemari spesimen yang dikemihkan dan menyebabkanterjadinya hasil negatif palsu pada kultur urin. Spesimen yang dikemihkanmenunjukkan adanya kontaminasi apabila ditemukan adanya epitel vagina danlaktobasillus pada urnalisis dan bila hal tersebut terjadi maka urin harus diambilmenggunakan kateter.3

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 20152. KateterisasiPenggunaan kateter pada pria maupun wanita hanya diindikasikan pada pasien retensiurin atau pada wanita dengan ditemukannya kontaminasi berupa epitel vagina dan /ataulaktobasillus pada specimen. Kateterisasi dan spesimen mid kateterisasi lebih akuratdibandingkan dengan urin yang dikemihkan tetapi dapat menyebabkan terjadinya infeksiiatrogenik.3. Aspirasi SuprapubikAspirasi suprapubik sangatlah akurat tetapi dapat menyebabkan morbiditas, kegunaanklinisnya tidak terlalu berguna kecuali pada pasien yang tidak dapat berkemih spontan.Sangat direkomendasikan pada bayi baru lahir. Pada aspirasi suprapubik, urin didapatkanlangsung dari kandung kemih tanpa melewati urethra. Sebelum dilakukan aspirasisupprapubik, pasien dianjurkan untuk minumbanyak sehingga kandung kemih dalamkeadaan penuh. Tempat dilakukan pungsi aspirasi adalah midline antara umbilicus dansymphisis pubis dan secara langsung pada kandung kemih yang terpalpasi,Bahan urin harus segera dikirim ke laboratorium, karena penundaan akanmenyebabkan bakteri yang terdapat dalam urin berkembang biak dan penghitungan koloniyang tumbuh pada biakan menunjukkan jumlah bakteri sebenarnya yang terdapat dalam urinpada saat pengambilan. Sampel harus diterima maksimun 1 jam setelah penampungan.2Sampel harus sudah diperiksa dalam waktu 2 jam. Setiap sampel yang diterima lebih dari 2jam setelah pengambilan tanpa bukti telah disimpan dalam kulkas, seharusnya tidak dikulturdan sebaiknya dimintakan sampel baru. Bila pengiriman terpaksa ditunda, bahan urin harusdisimpan pada suhu 40o selama tidak lebih dari 24 jam.4. Pemeriksaan Urin Empat PorsiPemeriksaan ini dilakukan untuk penderita prostatitis. Pemeriksaan ini terdiri dari urinempat porsi yaitu :(1) Porsi pertama (VB1): 10 ml pertama urin, menunjukkan kondisi uretra,(2) Porsi kedua (VB2): sama dengan urin porsi tengah, menunjukkan kondisi bulibuli,(3) Porsi ketiga (EPS): sekret yang didapatkan setelah masase prostat,(4) Porsi keempat (VB4): urin setelah masase prostat.4

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015Pemeriksaan laboratoriumPemeriksaan urinalisis dilakukan untuk menentukan dua parameter penting ISK yaituleukosit dan bakteri. Pemeriksaan rutin lainnya seperti deskripsi warna, berat jenis dan pH,konsentrasi glukosa, protein, keton, darah dan bilirubin tetap dilakukan.Pemeriksaan DipstikPemeriksaan dengan dipstik merupakan salah satu alternatif pemeriksaan leukosit danbakteri di urin dengan cepat. Untuk mengetahui leukosituri, dipstik akan bereaksi denganleucocyte esterase (suatu enzim yang terdapat dalam granul primer netrofil). Sedangkanuntuk mengetahui bakteri, dipstik akan bereaksi dengan nitrit (yang merupakan hasilperubahan nitrat oleh enzym nitrate reductase pada bakteri). Penentuan nitrit seringmemberikan hasilegatif palsu karena tidak semua bakteri patogen memiliki kemampuanmengubah nitrat atau kadar nitrat dalam urin menurun akibat obat diuretik. Keduapemeriksaan ini memiliki angka sensitivitas 60-80% dan spesifisitas 70 – 98 %. Sedangkannilai positive predictive value kurang dari 80 % dan negative predictive value mencapai 95%.Akan tetapi pemeriksaan ini tidak lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopikurin dan kultur urin. Pemeriksaan dipstik digunakan pada kasus skrining follow up. Apabilakedua hasil menunjukkan hasil negatif, maka urin tidak perlu dilakukan kultur.Pemeriksaan Mikroskopik UrinMeski konsep ini memperkenalkan mikrobiologi kuantitatif ke dalam diagnosapenyakit infeksi masih cukup penting, baru-baru ini tampak jelas bahwa tidak adahitungan bakteri yang pasti dalam mengindikasikan adanya bakteriuria yang bisaditerapkan pada semua jenis ISK dan dalam semua situasi. Berikut interpretasi urinyang secara klinis termasuk relevan: 10 3 cfu/mL uropatogen dalam sebuah urin sampel tengahdalam acuteunkomplikata cystitis pada wanita 10 4 cfu/mL uropathogen dalam sebuah MSU dalam acute unkomplikatapyelonephritis pada wanita 10 5 cfu/mL uropathogen dalam sebuah MSU pada wanita, atau 10 4 cfu/mLuropatogen dalam sebuah MSU pada pria, atau pada straight catheter urinepada wanita, dalam sebuah komplikata ISK.5

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015 spesimen pungsi aspirasi suprapubic, hitungan bakteri berapapun dikatakanbermakna.Bakteriuria asimptomatik didiagnosis jika dua kultur dari strain bakteri yangsama, diambil dalam rentang waktu 24 jam , menunjukkan bakteriuria 105 cfu/mLuropatogen.Daftar Pustaka:1. Grabe M, Bartoletti R, Johansen Bjerklund T E, et al. Guideline in UrologicalInfection: Catheter-Associated UTI. European Association of Urology ; 2015.2. Schaeffer AJ, Schaeffer EM. Infection of the urinary tract. In: Campbell WalshUrology 10th Edition. Philadelphia: Elsevier Saunders. 321-4.3. Meares EM, et al. Bacteriologic localization patterns in bacterial prostatitis andurethritis. Invest Urol, 1968. 5(5):p. 492-518.6

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015POLA BAKTERI DAN SENSITIVITAS BAKTERI TERHADAPANTIBIOTIKdr. Johan Renaldo, SpU; dr. Kurnia Penta Seputra, SpUPola bakteri dan kepekaan antibiotik merupakan faktor penting dalam menentukanterapi yang tepat bagi suatu penyakit infeksi, khususnya yang disebabkan oleh bakteri.Maraknya resistensi terhadap antibiotik dapat menjadi suatu faktor penyulit dalamkesembuhan suatu penyakit, menurut data dari Departemen Kesehatan Republik Indonesiapada tahun 2000-2004 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, dan RSUP Dr. Kariadi Semarang,membuktikan bahwa sudah terdapat kuman multi-resisten antibiotik seperti MRSA (Methicillin Resistant Staphylococus aureus) dan bakteri penghasil ESBL ( ExtendedSpectrum Beta Lactamases). Selain dari ditemukannya bakteri yang resisten terhadapantibiotik, juga ditemukan sebanyak 30% hingga 80% penggunaan antibiotik tidakberdasarkan indikasi.Menurut WHO pada tahun 2013, terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistenttuberculousis (MBR-TB) di dunia. Data ini menunjukkan bahwa resistensi antibiotik memangtelah menjadi masalah besar yang harus di selesaikan. Pada bidang urologi sendiri resistensiantibiotik banyak terjadi, menurut data terbaru yang didapatkan dari uji kepekaan antibiotikdan pola kuman yang berhasil dikumpulkan dari lima sentral yaitu RSUP CiptoMangunkusumo Jakarta, RSUP Hasan Sadikin Bandung, RSUD Dr. Soetomo Surabaya,RSUD Dr. Saiful Anwar Malang dan RSUP Sanglah Denpasar yang berasal dari spesimenurin dan darah.Pola kuman yang didapat dari RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUP HasanSadikin Bandung, RSUD Dr. Soetomo Surabaya, RSUD Dr. Saiful Anwar Malang dan RSUPSanglah Denpasar berdasarkan lokasi yaitu pada Instalasi rawat inap, kuman yang mendudukisepuluh peringkat terbanyak dapat dilihat pada tabel 1.7

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015Tabel 1. Sepuluh Bakteri Terbanyak Instalasi Rawat InapBakteriPersenEscherichia coli32.1Pseudomonas spp17.0Klebsiella spp14.5Acinetobacter spp9.1Enterobacter spp7.3Others Gram Pos7.3Others Gram Neg4.8Staphylococcus spp4.2Proteus spp3.6Total100.0Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa Escherichia. coli menempati peringkat pertamasebanyak 32.1% dilanjutkan oleh Pseudomonas spp (17%), Klebsiella spp (14.5%),Acinetobacter spp (9.1%), Enterobacter spp (7.3%), Gram positif lain (7.3%), Gram negativelain (4.8%), Staphylococcus spp (4.2%), Proteus spp (3.6%). Sedangkan data pola kumanterbaru yang berasal dari rawat jalan Urologi yang didapatkan dari spesimen urin, dilihatpada tabel 2.Tabel 2. Peta kuman Rawat Jalan Spesimen urinNoNama KumanPersentase1Escherichia coli61.72Klebsiella pneumonia16.13Staphylococcus coagulase negative134Lain-Lain9.28

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015Pada tabel diatas, kuman terbanyak yang didapatkan dari spesimen urin adalah E.coli(61.7%), Klebsiella pneumonia (16.1%), Staphylococcus coagulase negatif(13%) dansisanya sebanyak (9.2%) merupakan persentase dari gabungan beberapa jenis bakteri.Antibiotik adalah suatu substansi antimikroba yang diperoleh dari zat yang berasaldari suatu mikroorganisme atau suatu zat sintetik yang dapat menghambat kerja dari suatumikroorganisme lain. Antibiotik ada yang memiliki spektrum luas dan elektif terhadap jenisbakteri tertentu, uji sensitivitas antibiotik digunakan untuk menguji sensitivitas antibiotikterhadap suatu bakteri dengan tujuan untuk mengetahui daya kerja/ efektivitas dari suatuantibiotik dalam membunuh bakteri.Maraknya resistensi antibiotik terhadap suatu infeksi bakteri, menyebabkan terapiantibiotik menjadi tidak tepat, sehingga sangatlah penting untuk mengetahui antibiotik yangsensitif agar infeksi bakteri dapat tertangani dengan tepat. Berdasarkan hasil uji sensitivitasantibiotik yang dikumpulkan dari RSUP Cipto Mangunkusumo, RSUD. Dr. Soetomo, RSUDDr. Saiful Anwar dan RSUP Sanglah Denpasar, didapatkan hasil sensitivitas yang berbedabeda karena adanya perbedaan sensitivitas kuman pada masing-masing sentral terhadapberbagai jenis antibiotik, berikut adalah hasil uji sensitivitas yang berhasil dikumpulkan :Tabel 3. Uji Sensitivitas antibiotik RSUP Dr. Cipto MangunkusumoSensitivitas Antibiotik 8777676747368686159545251505050Keterangan : LNZ Linezolid; VAN Vancomycin; FOS Fosfomycin; IMP Imipenem;TCP Teicoplanin; DRM Doripenem; MEM Meropenem; COL Colistin; BCT-Z Bacitracin-Zinc; CEX Cefoxitin; LVX Levofloxacin; DOX Doxycycline; OXC Oxacillin; AMK Amikacin; NIT Nitrofurantoin; CFD Cefdinir; GEN Gentamycin.Dari data yang berasal dari RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta, tiga bakteriterbanyak antara lain adalah Escherichia coli, Enterococcus sp dan Klebsiella pneumoniae.9

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015Pada tabel 3, dapat dilihat bahwa seluruh bakteri yang sensitif terhadap antibiotik telahdirangkum menjadi satu dan dapat disimpulkan bahwa Linezolid memiliki sensitivitas palingtinggi terhadap seluruh bakteri yang ada yaitu sebesar 100% diikuti oleh Vancomycin (78%),Fosfomycin (77%), Imipenem (76%), Teicoplanin (76%), Doripenem (74%), Meropenem(73%), Colistin (68%), Bacitracin-Zinc (68%), Cefoxitin(61%), Levofloxacin (59%),Doxycycline (54%), Oxacillin (52%), Amikacin (51%), Nitrofurantoin (50%), Cefdinir(50%) dan Gentamycin (50%).Tabel 4. Uji Sensitivitas antibiotik RSUD Dr. SoetomoNamaJumlahBakteri(N)SemuaSensitivitas antibiotik iacoliPseudomonas sppKlebsiellasppKeterangan:Sangat SensitifSensitifKurang SensitifDari berbagai antibiotik yang diujikan, Meropenem memiliki sensitivitas lebih dari90% dan Cefotaxime-sulbaktam peka terhadap seluruh bakteri tersebut dengan kepekaanyang lebih rendah yaitu 37% hingga 67%. Levofloxacin memiliki kepekaan sebesar 31-39%,kecuali pada E. coli yang hanya mencapai 15%. Gentamicin memiliki kepekaan terhadapketiga bakteri dengan rata-rata 41-53%, tetapi tidak pada bakteri Klebsiella yang hanya10

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015memiliki kepekaan sebesar 29%. Antibiotik dengan kepekaan paling rendah antara lainadalah Ampisilin-sulbaktam, Ceftriaxone, Cefotaxime dan Cotrimoxazol, dengan kepekaankurang dari 30%.Tabel 5. Uji Sensitivitas antibiotik RSUD Dr. Saiful 3109088353547353540299453865701003567Keterangan :NJumlah sampelCROCeftriaxone%SPresentase sensitifCTXCefotaximeESBL% Extendend specture MCAmoxicillin/ Clavulanic AcidAMKAmikacynSAMAmpicillin/ SulbactamGENGentamicynTZPPiperacillin/ idimeSXTTrimethoprime /SulfamethoxazoleNTNon TesHIJAUSensitivitas lebih dari 70%MERAH Sensitivitas kurang dari 50%11

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015Pada tabel 5 diatas dapat dilihat hasil uji sensitivitas antibiotik terhadap bakteriterbanyak Escherichia coli, berdasarkan data yang didapatkan dari RSUD Dr. Saiful AnwarMalang dapat dilihat bahwa Tigecycline memiliki sensitivitas paling tinggi sebesar (100%)dilanjutkan dengan Asmikasin (94%), Piperacillin/ Tazobactam (90%), Meropenem (88%)dan Fosfomycin (86%). Sedangkan Antibiotik yang diberi warna merah memiliki sensitivitas 70% terhadap E .coli.Berdasarkan data dari RSUP Sanglah, didapatkan tiga kuman terbanyak diantaranyaadalah Escherichia coli (17%) , Staphylococcus coagulase negative ( 11%) dan Acinobacterbaumannii (10%). Uji sensitivitas antibiotik dari ketiga kuman tersebut, didapatkan hasilsebagai berikut:Tabel 6. Sensitivitas Antibiotik RSUP. SanglahNo.Nama BakteriIPMTGC MEM AMK phylococcus nnii887172----7591Keterangan: IPM Imipenem; TGC Tigecycline; MEM Meropenem; AMK Amikasin;FOS Fosfomycin; LNZ Linezolid; Levofloxcasin LUV; Vancomycin VAN; STX Trimethoprim-Sulfomethoxasole.Pada tabel 6 dapat dilihat, Escherichia coli memiliki sensitivitas (100%) denganImipenem, Tigecycline (99%), Meropenem (99%), Amikasin (98%) dan Fosfomycin (94%).Staphylococcus coagulase negative memiliki sensitivitas 100% terhadap antibiotikTigecycline, Linezolid, Levofloxcasin dan Vancomycin. Acinobacter baumannii ecycline(88%),Trimethoprim-Sulfomethoxasole (75%), Amikasin (72%) dan Meropenem (71%).Penggunaan antibiotik dibagi menjadi dua macam yaitu profilaksis dan terapeutik.Pentingnya mengetahui pola kuman dan sensitivitas antibiotik lokal sangatlah penting padakedua terapi tersebut. Penggunaan antibiotik sesuai indikasi sangatlah penting untuk12

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015mencegah resistensi. Adapun rekomendasi yang digunakan untuk penggunaan antibiotiksebagai berikut:1. Antibiotik dengan sensitivitas lebih dari atau 80% dapat dipilih sebagai antibiotikterapeutik.2. Data sensitivitas antibiotik dapat digunakan sebagai pedoman jika jumlah bakteriterisolasi 10% dan disesuaikan dengan jenis spesimen.3. Staphylococcus coagulase negatif dan staphylococcus epidermidis merupakan floranormal kulit dan mukosa. Signifikansi bakteri ini sebagai penyebab infeksi ataukontaminasi saja bergantung dari klinis dan marker infeksi pasien.Daftar Pustaka :1. Laporan Mikrobiologi Peta Kuman Dan Sensitivitas Antibiotik RSUD Dr. SaifulAnwar Malang 20152. Laporan Mikrobiologi Peta Kuman Dan Sensitivitas Antibiotik RSUPN CiptoMangunkusumo Jakarta 20153. Laporan Mikrobiologi Peta Kuman Dan Sensitivitas Antibiotik RSUP SanglahDenpasar Bali 20154. Laporan Mikrobiologi Peta Kuman Dan Sensitivitas Antibiotik RSUP Hasan SadikinBandung 201513

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015KLASIFIKASI INFEKSI SALURAN KEMIHDr. dr. Bambang S. Noegroho, SpB, SpUPendahuluanGuidelines berikut ini mencakup Infeksi Saluran Kemih (ISK) dan Infeksi KelenjarAsesoris Pria (IKAP) terjemahan dari MAGI (Male Accessory Gland Infections), karenakedua infeksi ini sangat erat berhubungan satu dengan lainnya.Pembagian secara tradisional, klasifikasi ISK berdasarkan gejala klinis, hasilpemerikasaan laboratorium, dan penemuan mikrobiologis. Secara praktis, ISK dibagi menjadiISK Non Komplikata , ISK Komplikata dan Sepsis. Klasifikasi model berikut ini adalah alatyang digunakan, baik untuk aktivitas sehari-hari, maupun penelitian klinis.Tujuan umum klasifikasi ini adalah agar para klinisi dan peneliti mempunyai suatualat dan nomenklatur yang terstandarisasi tentang ISK.Panduan yang ada saat ini, merangkum klasifikasi ISK berdasarkan: Infeksi sesuai dengan level anatomis Tingkat keparahan infeksi Faktor risiko yang mendasari Temuan mikrobiologiGejala-gejala, tanda-tanda dan hasil pemeriksaan laboratorium dititikberatkan padalevel anatomis dan derajat keparahan infeksi. Analisis faktor risiko berperanan untukmendefinisikan terapi tambahan yang diperlukan (misalnya drainase).Infeksi Sesuai Dengan Level AnatomisGejala-gejala yang dikelompokkan berdasarkan infeksi level anatomis, adalah : Uretra: Uretritis (UR) Kandung kencing : Sistitis (CY) Ginjal : Pyelonefritis (PN) Darah/sistemik: Sepsis (US)14

Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria 2015Dalam diagram berikut ini menggambarkan penanganan dan strategi mengatasi ISK.Uretritis, yang saat ini hanya sedikit dimengerti, merupakan kondisi menular seksual yangtidak termasuk ISK. Selain itu, IKAP, orkitis, epididimitis dan prostatitis juga tidakdimasukan ke dalam klasifikasi ISK.Bakteriuria asimptomatik sebagai hal yang dipertimbangkan mempunyai penyebabkhusus karena dapat bersumber dari kedua saluran kemih bagian atas maupun bawah yangtidak memerlukan penanganan, kecuali pasien dalam keadaan hamil atau memerlukantindakan pembedahan urologi.Tingkat KeparahanAdapun klasifikasi ISK melihat pada tingkat keparahan yang berhubungan denganrisiko untuk timbulnya keadaan yang membahayakan, berikut adalah Klasifikasi ISK danDerajat Keparahannya.Gambar 1: Klasifikasi ISK sebagaimana yang diusulkan oleh EAU EuropeanSection of Infection in Urology (ESIU)KeparahanGradien keparahanGejalaTidakGejalaGejal

Kami menyadari bahwa penyusunan buku ini masih jauh dari sempurna, sehingga kami mengharapkan masukan, kritik, serta koreksi dari rekan sejawat. Selain itu, kami juga meminta maaf atas segala kekurangan yang ada. Demikian Buku Panduan Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genetalia Pria Edisi ke-2 ini kami susun.