Transcription

iKEBERADAAN HAMA Thrips spp (Thysanoptera:Thripidae) DAN MUSUH ALAMINYA PADA PERTANAMANCABAI DENGAN TUMPANGSARI CABAIJAGUNG DAN SEMANGKAHAERULSEKOLAH PASCASARJANAUNIVERSITAS HASANUDDINMAKASSAR2020

iKEBERADAAN HAMA Thrips spp (Thysanoptera: Thripidae)DAN MUSUH ALAMINYA PADA PERTANAMAN CABAIDENGAN TUMPANGSARI CABAIJAGUNG DAN SEMANGKADesertasiSebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar DoktorProgram StudiIlmu PertanianDisusun dan Diajukan OlehHAERULKepadaSEKOLAH PASCASARJANAUNIVERSITAS HASANUDDINMAKASSAR2020

ii

iii

ivPRAKATAPuji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah S.W.T atas rahmat dankarunia-Nya sehingga disertasi ini dapat diselesaikan.Hal yang dikaji dalam penelitian ini adalah keberadaan hama Thrips(Thysanoptera: Thripidae) dan arhtropoda yang berpotensi menjadi musuhalami pada pada pertanaman cabai dengan tumpangsari cabai jagung dansemangka. Diharapkan nantinya ditemukan konsep pengelolaan hamaThrips dengan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.Berbagai kendala yang dihadapioleh penulis dalam rangkapenyusunan dan penyelesaian desertasi ini, namun berkat bantuan dandukungan dari berbagai pihak, maka desertasi ini dapat diselesaikan padawaktunya. Pada kesempatan yang berbahagia ini ucapan terima kasihsaya haturkan kepada Ibu Prof. Dr. Ir.Nurariaty Agus, M.S., selakupromotor dan bapak Dr. Ir. A. Nasruddin, M.Sc. serta bapak Dr. Ir. AhdinGassa, M. Sc. selaku kopromotor atas bantuan dan bimbinganya dalampenyusunan desertasi ini.Terima kasihpenulis haturkan kepada IbuProf. Dr. Ir. Itji Diana Daud, M.S., ibu Prof. Dr. Ir. Tutik Kuswinanti, M.Sc.,bapak Prof. Dr. Ir. Hazairin Zubair, M.S. dan ibu Dr. Ir. Melina, M.P., ataskesediaannya menjadi anggota tim penilai seminar usulan, seminar hasilpenelitian, ujian prapromosi dan ujian promosi ini. Terima kasih penulishaturkan pula kepada bapak Dr. Ir. Abdul Wahid Rauf, M.P., atas kesediaannya menjadi penguji eksternal pada ujian promosi.

vUcapan terima kasih yang sebesar-besarnya saya haturkan kepadaseluruh civitas akademika Universitas Muslim Maros (UMMA), terutamakepada ibu Prof. Nurul Ilmi Idrus, M.Sc., Ph.D. selaku rektor UniversitasMuslim Maros yang telah memberikan izin dan kesempatan untukmelanjutkan pendidikan.Ucapan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu,MA. selaku rektor Universitas Hasanuddin, Bapak Prof. Dr. Ir. aUniversitasHasanuddin, Bapak Prof. Dr. Ir. Darmawan Salman, M.S. selaku KetuaProgram Studi S3 Ilmu Pertanian Universitas Hasanuddinyang telahmenerima dan memberi kesempatan kepada penulis untuk studi padaprogram Doktor Ilmu Pertanian Universitas Hasanuddin.Terima kasihdan penghargaan setinggi-tingginya penulis haturkan kepada segenapstaf kepegawaian Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin atassegala bantuan dan pelayanannya yang baik selama penulis menempuhpendidikan.Pencapaian yang diraih tidak terlepas dari dukungan dana dalamproses pendidikan sampai penelitian. Oleh karena itu penulis haturkanbanyak terima kasih kepada Kementerian Keuangan Republik Indonesiayang telah membiayai penulis dalam melanjutkan studi ke jenjang S3melalui program BUDI DN-LPDP.Kepada ayahanda Muhammad dan Ibunda Fatimah (almarhumah),penulis haturkan banyak terima kasih atas curahan kasih sayang dan

vipengorbanannya dalam membesarkan dan mendidik kami. Terima kasihkepada istriku tersayang St. Fatimah, SP., anakku tercinta Gibran AhmadHaerul, beserta segenap keluarga besar yang selalu mendoakan,memberikan semangat, perhatian dan dukungan untuk menyelesaikanpendidikan tepat waktu. Terima kasih kepada kakanda Dr. Syahdar Baba,S.Pt.,M.Si. dan Sitti Sohra, SP.,M.Si yang senantiasa menjadi teladan danpemberi motivasi untuk terus belajar sampai penulis dapat menyelesaikanpendidikan sampai jenjang S3. Terima kasih kepada semua teman-temanseperjuangan mahasiswa Ilmu Pertanian angkatan 2016 yang senantiasasaling memberi motivasi dalam proses perkuliahan sampai penyelesaianstudi.Terima kasih kepada adinda Fitri Andriana Usman, SP., NawirArisandi, SP., Nurul Asizah Djufri, SP., Nur Riskianti, SP. dan Juranah,SP. yang dengan penuh semangat membantu pelaksanaan penelitian dilapangan. Terima kasih kepada pimpinan dan staf Balai KarantinaPertanian Makassar, terutama ibu Nawisah, SP.,M.Si., saudari Astuti,SP.,M.Si. dan adinda Andi Fakhruddin, STP.,MP. yang mendampingiproses identifikasi Thrips di laboratorium. Terima kasih kepada semuapihak yang namanya tidak tercantum tetapi telah banyak membantupenulis dalam menyelesaikandesertasiini.Semoga desertasi inimemberikan manfaat untuk kemaslahatan ummat.Makassar, Oktober 2020Haerul

vii

viii

ixDAFTAR ISIHalamanHALAMAN PENGAJUANIHALAMAN PENGESAHANIiHALAMAN PERNYATAAN KEASLIANIiiPRAKATAivABSTRAKvDAFTAR ISIviiDAFTAR TABELviiiDAFTAR GAMBARixBAB IPENDAHULUAN1A. Latar Belakang1B. Rumusan Masalah7C. Tujuan Penelitian7D. Manfaat Penelitian8E. Kebaruan Penelitian8F. Ruang Lingkup Penelitian8BAB IITINJAUAN PUSTAKA10A. Thrips10B. Musuh Alami Thrips18C. Keragaman Hayati25D. Pola Tanam Tumpangsari28

xBAB IIIBAB IVE. Kerangka Fikir34F. Hipotesis35METODE PENELITIAN36A. Rancangan Penelitian36B. Metode Pelaksanaan39HASIL DAN PEMBAHASAN47A. Hasil47B. Pembahasan64KESIMPULAN DAN SARAN74A. Kesimpulan74B. Saran75DAFTAR PUSTAKA76LAMPIRAN

xiDAFTAR TABELTeksNomor1.HalamanJenis-jenis Arthropoda yang terperangkap58pada pitfal trapLampiran1.Kelimpahan Thrips pada cabaisistemtumpangsari cabai, jagung dan semangka.872.Kelimpahan jenis T.palmipada cabai sistemtumpangsari cabai, jagung dan semangka893.Sidik ragam kelimpahan jenis T.palmi pada cabaisistem tumpangsari cabai, jagung dan semangka894.Keimpahan jenis T.parvispinus pada cabai sistemtumpangsari cabai, jagung dan semangka895.Sidik ragam kelimpahan jenis T.parvispinus padacabai sistem tumpangsari cabai, jagung dansemangka896.Kelimpahan Thrips pada semangka sistemtumpangsari cabai, jagung dan semangka tiappengamatan907.Kelimpahan jenis T.palmi pada semangka sistemtumpangsari cabai, jagung dan semangka918.Sidik ragam kelimpahan jenis T.palmi padasemangka sistem tumpangsari cabai, jagung dansemangka919.Kelimpahan jenis T.parvispinus pada semangkasistem tumpangsari cabai, jagung dan semangka91

xii10.Sidik ragam kelimpahan jenis T.parvispinus padasemangka sistem tumpangsari cabai, jagung dansemangka9111.Rata-rata intensitas serangan Thrips pada cabaisetiap pengamatan9212.Sidik ragam rata-rata intensitas serangan Thripspada cabai setiap pengamatan9213.Rata-rata intensitas serangansemangka setiap pengamatanpada9214.Sidik ragam rata-rata intensitas serangan Thripspada semangka setiap pengamatan9215.Kelimpahan Arthropoda tanah pada sistemtumpangsari cabai, jagung dan semangka atumpangsari cabai, jagung dan semangka setiappengamatan9417.Sidik ragam rata-rata kelimpahan Pardosa sppada tumpangsari cabai, jagung dan semangkasetiap pengamatan9418.Rata-rata kelimpahan Monomorium sp padatumpangsari cabai, jagung dan semangka setiappengamatan9419.Sidik ragam rata-rata kelimpahan Monomorium sppada tumpangsari cabai, jagung dan semangkasetiap pengamatan9520.Rata-rata kelimpahan Odontomachus sp padatumpangsari cabai, jagung dan semangka setiappengamatan9521.Sidik ragam rata-rata kelimpahan Odontomachussp pada tumpangsari cabai, jagung dansemangka setiap pengamatan9522.Rata-rata kelimpahan Anoplolepis sp padatumpangsari cabai, jagung dan semangka setiap96Thrips

xiiipengamatan23.Sidik ragam rata-rata kelimpahan Anoplolepis sppada tumpangsari cabai, jagung dan semangkasetiap pengamatan9624.Rata-rata Indeks Keragaman (H’) Arthropodapada tumpangsari cabai, jagung dan semangkasetiap pengamatan9725.Sidik ragam rata-rata Indeks Keragaman (H’)Arthropoda pada tumpangsari cabai, jagung dansemangka setiap pengamatan97

xivDAFTAR GAMBARTeksNomorHalaman1Morfologi Thrips Dewasa112.Skema kerangka fikir343.Proses penangkapan Thrips394.Pemasangan pitfall trap405.Penampilan visual T.palmi dan T. parvispinus476.Bagian tubuh T.palmi487.Bagian tubuh T.parvispinus498.Diagram kelimpahantanaman cabai9.Diagram kelimpahan relatif Thrips pada tanamancabai5110.Diagram kelimpahan spesies Thrips padatanaman semangka5311.Diagram kelimpahan rata-rata Thrips padatanaman semangka5412.Diagram intensitastanaman cabaiseranganThripspada5513.Diagram intensitastanaman cabaiseranganThripspada5614.Diagram rata-rata kelimpahan jenis Arthropodatanah pada tiap pola tanam6015.Diagram kelimpahan relatif Arthropoda tanahpada beberapa pola tanam cabai tiappengamatan61spesiesThripspada50

xv16Diagram kelimpahan relatif Arthropoda tanahpada beberapa pola tanam cabai tiappengamatan63LampiranNomor1.HalamanModel tumpangsari cabai,jagung dan semangka98yang dilakukan2.Titik pengamatan kelimpahan dan intensitasserangan Thrips serta Arthropoda tanah99

1BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangSalah satu komoditi sayuran yang rentan diserang hama, terutamadari golongan serangga adalah cabai (Capsicum annuum L.).bagian tanaman cabai berpotensi menjadisemuaincaran berbagai macamhama, mulai dari pucuk hingga akar tanaman. Beberapa jenis hamatertentu merusak pada bagian saja, dan ada juga hama yang mampumenyebabkan kerusakan pada beberapa bagian tanaman cabai.Halserupa juga dapat dialami oleh semangka (Citrullus lanatus Tunb) danjagung (Zea mays L). Hama dapat menimbulkan kerusakan secaralangsung, juga dapat berperan sebagai penular penyakit yang disebabkanoleh virus dan rentan terinfeksi oleh penyebab penyakit tertentu.Thrips merupakan salah satu jenis hama yang menyerang tanamancabai. Sartiami and Mound (2013) mengungkapkan bahwa Thrips yangtelah teridentifikasi di dunia ini sekitar 6500 spesies Thrips telahteridentifikasi, dan 448 spesies telah teridentifikasi di Indonesia. Thripsparvispinus Karny merupakan spesies Thrips yang menjadi hama utamatanaman cabai (Mound and Collins, 2000). Tanaman lain yang menjadiinang T. parvispinus diantaranya tanaman pepaya, rambutan dari

2kelompok buah-buahan, anggrek dan mawar dari kelompok tanaman hias,jagungdari kelompok tanaman pangan, tembakau dari kelompoktanaman perkebunan, putri malu dari kelompok gulma, serta ketumbar,selada, katuk dan lenca dari kelompok sayuran (Sartiami dan Mound,2013). Selain itu, juga ada Thrips palmi Karny yang menyerang tanamanmentimun, terong, tomat dan terung.Haerul et al.(2014), melaporkanbahwa dibandingkan dengan tanaman semangka maupun mentimun, T.parvispinus lebih menyukai tanaman tomat dan terung, sementara T.Palmi lebih cenderung menyukai tanaman semangka dan mentimun,dibandingkan terung dan tomat.Kementerian Pertanian menempatkan Thrips sebagai organismepenyebab kerusakan cabai urutan kedua di Indonesia setelah Antraknosayakni sebesar 22% (setara dengan luas pertanaman cabai 3.704,80 Ha)pada tahun 2018 dan 21% (setara dengan luas2.961,54 Ha) pada tahun 2019.pertanaman cabaiSurvei Prabaningrum dan Moekasan(2008) di Kabupaten Bandung menemukan bahwa Thrips dapatmenyebabkan hasil panen cabai paprika berkurang sebesar 10-25% saatmusim hujan dan pada musim kemarau berkurang hingga 40-55%.Sementara itu pada tanaman kacang hijau dengan tingkat serangan yangtinggi dapat menurunkan hasil panen sebesar 13% sampai 64% (Indiati,2012).Selain mengakibatkan kerusakan secara langsung, Thrips berperanpula sebagai vektor virus. Tomato Spotted Wilt Virus (TSWV) ditularkan

3oleh beberapa spesies Thrips, diantaranya: F. fusca (Hinds), F.occidentalis (Pargende), F. schultzei Trybom, T. palmi, Thrips setosusMoulton dan Thrips tabaci. Tanaman yang terserang virus memiliki gejalaberupa bercakdan bintik pada daun, menampakkan gejala klorosishingga nekrotik, terjadi malformasi, layu, kerdil dan bahkan mati (Riley etal., 2011; Pappu dan Rauf, 2013). Damayanti dan Naidu (2009) pernahmelaporkan temuan tentang gejala serangan virus yang kemungkinanTSWV pada cabai merah dan tomat di Indonesia dengan strain yangberbeda dari TSWV di Hawai maupun di Jepang. Laporan tentang TSWVtersebut merupakan yang pertama di Indonesia.Penggunaan pestisida sintetik merupakan tindakan pengendalianhama yang lazim dilakukan oleh petani. Menurut Nasruddin dan Stocks(2014), petani cabai di Pinrang melakukan penyemprotan insektisida duasampai tiga kali seminggu untuk menekan populasi hama dengan jenisinsektisida dan frekuensi penyemprotan berdasarkan pengalaman merekasendiri dalam mengendalikan hama. Hal serupa dilakukan petani cabai diKecamatan Cenrana yang melakukan penyemprotan minimal dua sida.Penyemprotan dilakukan sebagai upaya preventif terhadap seranganorganisme pengganggu tanaman yang setiap saat bisa mengancampertanaman cabai (BPP Cenrana, 2019). Penggunaan insektisida sintetikyang berlebihan disadari dapat menimbulkan ancaman bagi kesehatanmanusia dan kelestarian lingkungan, gangguan terhadap organisme yang

4menjadi musuh alami hama seperti parasitoid dan predator, serta hamamenjadi resisten terhadap pestisida.Berdasarkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh penggunaaninsektisida sintetik, maka diperlukan bentuk pengelolaan hama yang lebihramah lingkungan seperti: pengendalian hama denganperbaikanbercocok tanam (kultur teknis), pengendalian secara langsung, maupunpengendalian biologi. Penggunaan agens hayati dengan memanfaatkanaksi dari predator, parasitoid atau patogen dalam menekan populasi hamamerupakan salah satu teknik pengendalian biologi (Nurariaty et al., 2011).Sejalan dengan hal tersebut, Stacy (2013) mengungkapkan bahwapengendalian biologi dapat berjalan dengan baik bila musuh alami hamaseperti predator dan parasitoid bekerja secara maksimal. Musuh alamidapat berfungsi dengan maksimal bila agroekosistem pertanian dikeloladengan baik. Kestabilan ekosistem dapat dipertahankan bila terciptakelengkapankomponenkomponennya adalahrantaimakanan,dimanasalahsatukeragaman musuh alami (Kurniatun dan Martono,2015).Padapenerapan pola tanam monokultur, populasi hamacenderung berkembang karena hilangnya keanekaragaman hayati.Penurunan aktivitas dan jumlah agens hayati terjadi karena sumberpakan, berupai: polen, nektar, mangsa ataupun inang alternatif yangdiperlukan oleh musuh alami untuk makan dan bereproduksi menjadiberkurang (Landis et al., 2000). Pada ekosistem yang beragam, tidak ada

5satu jenis organisme yang menjadi dominan dan populasinya menonjoldibandingkan dengan populasi organisme lain. Selain menciptakankeragaman hayati, penerapan pola multiple cropping juga dapat menekanrisiko kegagalan dalam budidaya tanaman. Ciri terpenting dari sistemmultiple cropping adalah peningkatan diversitas tanaman, baik dalam halstruktur habitat maupun spesies. Penerapan pola multiple cropping dapatdilakukan dengan beberapa model, yaitu: tumpangsari, tumpang gilir,tanaman campuran, tanaman bergilir (Kolvanagh dan Shokati, 2012).Hasil penelitian Degri dan Ayuba (2016) menunjukkan bahwatumpangsari cabai merah dengan jagung ataupun cabai merah denganmillet secara signifikan mengurangi infestasi kutu daun sekaligusmeningkatkan hasil cabai merah.Mitiku, Chala dan Beyene (2013)melaporkan bahwa tumpangsari jagung dengan cabai serta tumpangsarijagung, ubi jalar dancabai merahsecara signifikan mengurangitimbulnya insiden Potyvirus pada tanaman cabai.Di Aceh, beberapa petani menanam semangka di sela-sela cabaimerah, dan ternyata buah semangka yang dihasilkan mencapai 5-7kg/buah (Taufik , 2016).Sebagai pengendali gulma pada pola tanamcampuran, Franco et al., (2018) menganjurkan penggunaan semangkauntuk mengurangi tekanan gulma karena pertumbuhannya yang rendahdan merambat dengan kanopi yang rapat menutupi permukaan tanah.Saat ini, pengelolaan organisme pengganggu tanaman aty(2014)

6mengemukakan bahwakegiatan-kegiatan konservasi yang dapatdilakukan yaitu membuat tempat perlindungan bagi musuh alami hama disekitar pertanamandengan pengelolaan inang alternatif, mengelolatumbuhan atau gulma berbunga sebagai produsen nektar, pemberianpakan tambahan, penggunaan pestisida secara terbatas dan selektif,memodifikasi sistem budidaya (menanam tanaman penutup tanah, manuntukmemudahkan perpindahan arthropoda musuh alami, penanaman dalambarisan, memangkas tanaman secara bergilir dan mengatur pola lanskappertanaman.Penelitian Ma et al. (2007), tentang efektivitas parasitoid tungauAllothrombium ovatum terhadap kutu gandum Macrosiphum avenaedengan sistem monokultur dan tumpangsari gandum dan alfalfa,menunjukkan bahwa tumpangsari gandum dan alfalfa secara signifikanmeningkatkan kepadatan telur dan larva A. Ovatum dan meningkatnyapersentase M. avenae yang terparasit oleh tungau dibandingkan denganpola tanam monokultur gandum.Hasil penelitian Son et al. (2018),mengungkapkan bahwa pada pola tumpangsari tomat dengan bawangyang dikelola secara terpadu memberikan perlindungan hama yang lebihbaik bagi tanaman dibandingkan dengan budidaya tomat monokultur.Sementara itu Sutrisna et al. (2005), melaporkan penanaman kentangyang ditumpangsarikan dengan seledri dapat mengurangi serangan Thrips

7sebesar 44% dan serangan Myzus persicae berkurang sebesar 55,6%persen pada tanaman kentang.Penerapan pola tanam yang sesuai, diharapkan mampu lakukanuntukmengetahui keberadaan Thrips sebagai salah satu hama utama sertakeberadaan arthropoda musuh alaminya pada tumpangsari cabai, jagungdan semangka.B. Rumusan Masalah1. Apakah spesies hama Thrips yang menyerang tanaman cabai samadengan tanaman semangka dan jagung?2. Apakah tumpangsari cabai, jagung dan semangka mempengaruhipopulasi dan intensitas serangan Thrips?3. Apakah tumpangsari cabai, jagung dan semangka mempengaruhikelimpahan dan keanekaragaman Arthropoda tanah yang berpotensimenjadi musuh alami Thrips.C. Tujuan Penelitian1. Untuk mengetahui apakah spesies Thrips yang menyerang tanamancabai sama dengan tanaman semangka dan jagung.2. ngka terhadap populasi dan intensitas serangan Thrips.dan

83. Untukmengetahuipengaruhsemangka terhadaptumpangsaricabai,jagungdankelimpahan dan keanekaragaman Arthropodatanah yang berpotensi menjadi musuh alami Thrips.D. Manfaat PenelitianMemberikan informasi tentangspesies Thripsyang menyerangtanaman pada tumpangsari cabai, jagung dan semangka. Memberikaninformasi tentang peran tumpangsaricabai, jagung dan semangkaterhadapintensitaskelimpahanditimbulkannya sertaThripsdankerusakanyangkelimpahan dan indeks keragaman Arthropodatanah yang berpotensi menjadi musuh alami Thrips.E. Kebaruan Penelitian1. Pengelolaan hama Thrips dan Arthropoda yang berpotensi menjadimusuh alaminya dengan penerapan tumpangsari cabai, jagung dansemangka.2. naman cabai untuk pengelolaan Thrips dan Arthropoda tanahyang berpotensi menjadi musuh alaminya.F. Ruang Lingkup PenelitianPenelitian ini dilakukan dengan mengelola sistem budidaya cabai,jagung dan semangka sebagai pada upaya mengurangi populasi dan

9gejala kerusakan yang ditimbulkan olehThrips serta meningkatkankeragaman Arthropoda tanah yang berpotensi menjadi musuh alami bagiThrips. Sistem budidaya yang dilakukan adalah penerapan tumpangsaricabai, jagung dan semangka yang diharapkan menjadi alternatifpemecahan masalah dalam pengelolaan hama Thrips yang selama inimenjadi salah satu ancaman bagi pertanaman cabai.Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yakni pada tahap pertamadilakukan percobaan lapangan berupa penerapan pola tumpangsari cabai,jagung dan semangka.Cabai yang memiliki ketinggian pohon sedangsebagai tanaman utama, dikombinasikan dengan tanaman jagung yangpohonnya lebih tinggi dan semangka yang pertumbuhannya merambat dipermukaan tanah. Hal-hal yang diamati adalah: 1) spesies Thrips yangmenyerang tanaman cabai, jagung dan semangka, sehingga dapatdiketahui apakah ada kesamaan spesies Thrips yang menyerang ketigatanaman yang dibudidayakan, 2) kelimpahan populasi Thrips danintensitas serangannya pada tanaman cabai, jagung dan semangka, serta3) kelimpahan dan keragaman Arthropoda tanah yang berpotensi menjadimusuh alami bagi hama Thrips.Sementara tahap kedua adalah prosesidentifikasi Thrips yang menyerang tanaman cabai, jagung maupunsemangka yang dilakukan di laboratorium Entomologi Balai KarantinaPertanian Makassar.

10BAB IITINJAUAN PUSTAKAA. Thrips1. Sistematika dan daerah sebaran ThripsMenurut Mound dan Marullo (1996), Thrips masuk ke dalamKingdom:Animalia,Filum:Thysanoptera, Famili: Thripidae.Arthropoda,Kelas:Insecta,Ordo:Genus Thrips adalah genus keduaterbesar dari Ordo Thysanoptera, terdiri atas 286 spesies.Beberapaanggota dari genus ini menjadi hama penting bagi tanaman, seperti Thripsangusticeps Uzel, Thrips flavus Schrank, Thrips hawaiiensis (Morgan),Thrips meridionalis Priesner, Thrips tabaci Lindeman (Moritz 1994). T.hawaiiensis dilaporkan banyak menyerang tanaman pare dan okra.Sementara itu, T. parvispinus menjadi hama baru pepaya di Malaysia(Fauziah dan Saharan 1991). Di Indonesia T. parvispinus, T. hawaiiensis,dan T. palmi dilaporkan sebagai hama umum dipertanaman hortikultura(Subagyo,2014.,).Beberapa spesies Thrips juga dilaporkan sebagaivektor virus, misalnya: T. palmi dapat menularkan penyakit Groundnut budnecrosis, sementara T. tabaci Lindeman menularkan penyakit Tospovirus(Kardivel et al., 2013).

112. Morfologi ThripsThrips dewasa merupakan serangga yang memiliki ukuran yangsangat kecil (kurang lebih 1 mm), warnanya bervariasi mulai dari kuning,coklat dan hampir hitam. Serangga dewasa memiliki dua pasang sayapberumbai. Meskipun kemampuan terbangnya lemah, namun tiupan angindapat membawa Thrips dengan cepat ke lokasi inang baru beberapakilometer jauhnya. Pada fase nimfa, pergerakannya agak lambat,sementara pada saat dewasa pergerakannya cukup aktif dan akanmelompat atau terbang pergi ketika terganggu (Sutherland, 2006).Gambar 1. Morfologi Thrips Dewasa(sumber: https://mplk.politanikoe.ac.id/)

12Secara umum bagian-bagian tubuh Thrips ditunjukkan pada gambar1: Thrips ada yang memiliki sayap dan adapula yang tidak, jika bersayap,sayap sempit dengan sedikit atau tidak ada vena, memiliki rambut-rambutpanjang (rumbai) seperti sisir pada kedua tepinya (1). Kepala lebih sempitdaripada dada (2).Alat mulut asimetris (tidak ada mandibula), cocokuntuk menusuk dan menghisap. Antena relatif pendek yakni terdiri dari 49 ruas (3), dan tarsi terdiri dari 1-2 ruas dengan 1-2 cakar yang ujungnyaseperti kandung kemih .3. Bioekologi ThripsPerkembangbiakan Thrips tergantung dari spesiesnya, ada yangberkembang biak secara seksual dan adapula secara aseksual denganperbandingan jantan dengan betina 1:6(Dibiyantoro, 1998). Thripsmeletakkan telurnya pada tanaman muda dengan menyisipkannya padajaringan daun muda di bagian bawah dan diletakkan satu per satu. Telurberbentuk oval, berwarna putih keruh pada saat akan menetas. Setelahmenetas, nimfa instar pertama keluar, berwarna putih transparan,mempunyai tiga pasang tungkai, dan berukuran sekitar 0,5 mm. Fase iniberlangsung 2-3 hari. Setelah berganti kulit, akan muncul nimfa instarkedua yang berukuran 0,8 mm, berwarna kuning tua keruh yang lamakelamaan menjadi kecokelatan. Fase ini berlangsung sekitar 34 andenganterbentuknya kerangka sayap yang belum sempurna dan gerakannya

13tidak aktif. Pada proses selanjutnya, kerangka sayap menjadi panjang(sempurna), tetapi bulu sayap yang berupa rumbai belum terbentuk,warna menjadi cokelat muda dengan beberapa garis melintang berwarnacokelat tua. Fase ini disebut fase pupa. Setelah berganti kulit yangterakhir, muncul imago berwarna hitam dengan ukuran sekitar 2 mm.Pada fase imago, semua organ telah terbentuk sempurna dan siapbertelur.Bila kondisi mendukung, satu siklus hidup Thrips berlansunghingga 15 hari.Serangga dewasa dapat menghasilkan 40-50 butir(Kalshoven, 1981).Menurut Zhang dan Brown (2008), siklus hidup T. palmi yaitu: betinamemasukkan telur ke dalam jaringan daun yang tumbuh aktif, kuncupbunga dan buah. Setiap betina mampu menghasilkan hingga 100 telur.Dalam kondisi normal telur akan menetas dalam 3-4 hari. Telur menetasmenjadi nimfa tahap pertama dengan ukuran sekitar 0,5 mm. Stadiumnimfa instar 1 berlangsung 3 sampai dengan 5 hari. Fase nimfa keduatelah mampu makan, ia berada beberapa milimeter di dalam tanah. Faseistirahat (pre-pupa dan pupa) berlangsung dalam tanah selama 2 sampai3 hari. Pada akhir tahap istirahat kedua, dewasa muncul ke permukaantanah. Setelah di permukaan tanah, serangga dewasa akan naik atauterbang ke tanaman inang. Siklus hidup thrips berlangsung selama 10sampai 12 hari pada suhu 30 C dan 14 sampai 16 hari pada suhu 25 C.Thrips memiliki kisaran inang yang sangat luas. Thrips bunga baratmelonjak populasinya dalam beberapa tahun terakhir di berbagai jenis

14hijauan makanan ternak, sayuran, pembibitan tanaman, taman, sayurandan tanaman hias. Thrips dikenal juga menjadi vektor virus layu tomat keberbagaitanamanhortikulturabaikdirumahkacamaupun lapangan (Sutherland, 2006).T. palmi dapat menyebabkan kerusakan secara ekonomi kepadatanaman,baik sebagai akibat langsung dari aktivitas makan maupunkemampuannya sebagai vektor tospovirus seperti pada kedelai, melondan semangka.Tanaman inang T.palmi di lapangan meliputi : cabai,semangka, melon, mentimun, kedelai, kapas, bunga matahari, tembakau,buncis, wijen, terung, tomat maupun kacang tunggak. Sedangkan dirumah kaca, tanaman ekonomis penting yang menjadi inangnya adalahcabai, krisan, mentimun, Cyclamen spp., Ficus spp., Orchidaceae danterung (ISPM 27, 2006).T. tabaci merupakan hama utama di beberapa sentra pertanamanbawang dunia.Perilaku makan thrips yang menusuk-mengisapmenyebabkan daun yang semula hijau berubah menjadi berbercak putihhingga perak.Populasi thrips meningkat pesat saat cuaca panas dankondisi kering (Alston dan Drost, 2008).T. parvispinus bersifat polifag, diketahui menyerang tanamanCrotalaria sp., Vigna sp., mentimun, ubi jalar, tembakau, dan cabai(Kalshoven, 1981). Hama ini termasuk hama penting pada tanaman cabaidan menjadi hama utama pada pertanaman cabai di pulau Jawa, terutama

15ketika musim kemarau (Vos,1994). Seperti halnya kelompok trips fitofaglainnya, serangga ini merusak tanaman dengan cara memarut-menghisap.Bagi serangga hama, tanaman inang menjadi tempat mencarimakan, tempat tinggal dan tempat berlindung dari musuh alaminya.Penyebab disukainya suatu tanaman oleh serangga terhadap suatutanaman inang salah satunya disebabkan oleh rangsangan fisis (mekanis)maupun kimiawi yang dimiliki oleh tanaman tersebut (Prabaningrum danMoekasan, 2008).Thrips memiliki preferensi tertentu terhadap suatu jenis tanaman,karena masing-masing tanaman memiliki karakteristik yang berbeda.Karakteristik tanaman berupa ukuran, karakteristik permukaan daun,adanya rambut daun maupun sifat psikokimia pada lapisan lilinepikutikular menjadi hal yang mempengaruhi pilihan Thrips dalammenentukan tanaman inangnya (Dibiyantoro, 1998).Tinggi rendahnya populasi Thrips pada tanaman inang disebabkanoleh berbagai faktor termasuk: 1) kesesuaian tanaman sebagai inangspesies Thrips tertentu, 2) kelimpahan alami spesies Thrips di wilayahsekitar tanaman inang, 3) bagian tanaman yang disukai dan tidakdisukai, serta 4) kompetisi dengan spesies lain (Kakkar et al., 2012).4. Gejala serangan Thrips dan kerusakan yang ditimbulkanGejala kerusakan tanaman yang timbul akibat serangan Thripsberupa perubahan warna, perubahan bentuk serta ukuran daun tanaman

16cabai.Menurut Hudson dan Adams (1999), Thrips mulai menyerangtanaman sejak masih di persemaian. Serangan langsung Thrips padadaun, bunga, dan buah pada saat musim kering akan lebih berbahayakarena tanaman akan menjadi lebih cepat kehilangan kelembaban (Lewis,1973).Childers dan Achor (1995) menguraikan gejala serangan Thrips padadaun tanaman, yakni: serangan Thrips pada daun tanaman berbentukbercak-bercak berwarna putih atau seperti perak pada permukaan daun,letak bercak yang berdekatan akan bersatu menyebabkan permukaandaun berwarna putih seperti perak, selanjutnya warna seperti perakberubah menjadi coklat dan akhirnya daun mati. Pada serangan berat,pinggir daun akan menggulung ke atas, kotoran Thrips akan menutupipermukaan daun.Tanaman yang pertumbuhannya kurang baik cenderung lebih mudahmendapat serangan Thrips, karena ketebalan epidermisnya tidak normal,yang menyebabkan pembentukan bunga dan buah menjadi terhambat.Thrips menyerang tanaman mulai dari stadia nimfa sampai imago.Pergerakan nimfa lebih lambat daripada imago yang dapat digunakanuntuk mengetahui perbedaan antara imago dengan nimfa1981) .(Kalshoven,

175. Teknik pengendalian ThripsTeknik pengendalian hama yang lazim digunakan petani di Indonesiaadalah penggunaan bahan kimiawi. Upaya pengendalian yang dilakukanoleh petani terhadap Thrips adalah penyemprotan menggunakan pestisidakimia sintetik, padahalpenggunaan pestisida kimia sintetik cenderungkurang efektif karena Thrips biasanya bersembunyi pada bagian daunatau pada bunga yang belum membuka sempurna sehingga sulit terkenapercikan semprotan. Selain itu, penggunaan insektisida berbahan aktifkimiawi yang secara terus menerus dapat menimbulkan efek resistensidan resurgensi terhadap serangga hama dan matinya berbagai ganyangberdampak buruk terhadap kesehatan manusia (Untung, 2006).Menurut Mouden et al. (2017), pengelolaan hama Thrips dapatdilakukan secara terpadu diantaranya: monitoring, kultur teknis, mekanis,fisik, penggunaan varietas tahan, kontrol secara biologi dan kimia.Monitoring hama Thrips dilakukan dengan pemasangan perangkap likatkuning atau biru sebagai dasar untuk mengetahui tindakan pengendalianselanjutnya. Pengendalian kultur teknis, mekanis dan fisik dilakukandengan perbaikan teknik budidaya tanamanagar tercipta kondisitanaman yang tidak disukai oleh Thrips, termasuk di dalamnyapengolahantanahyangbaik,perangkap maupun tumpangsari.pemupukan,penanamantana

kelompok buah-buahan, anggrek dan mawar dari kelompok tanaman hias, jagung dari kelompok tanaman pangan, tembakau dari kelompok tanaman perkebunan, putri malu dari kelompok gulma, serta ketumbar, selada, katuk dan lenca dari kelompok sayuran (Sartiami dan Mound, 2013). Selai